Pengobatan babesiosis dan ehrlichiosis yang terjadi bersamaan pada anjing menggunakan imidocarb dipropionate dan doksisiklin.
Unduhan
Rhipicephalus sanguineus merupakan vektor penyakit yang ditularkan melalui kutu yang sudah dikenal, termasuk babesiosis dan ehrlichiosis, pada anjing. Laporan kasus ini menggambarkan keberhasilan penanganan terapeutik babesiosis dan ehrlichiosis secara bersamaan menggunakan imido-karb dipropionat dan doksisiklin. Seekor anjing jantan domestik berusia 10 bulan menunjukkan gejala anoreksia, kelemahan, demam, eritema pada bagian medial tungkai belakang, dan infestasi kutu yang berat. Analisis hitung darah lengkap menunjukkan leukopenia, granulositopenia, peningkatan volume korpuskular rata-rata dan hemoglobin korpuskular rata-rata, serta trombositopenia. Pemeriksaan apusan darah menunjukkan adanya parasit intraeritrosit dan Ehrlichia morulae di dalam monosit. Selain itu, tes antibodi cepat memberikan hasil positif untuk Babesia spp. dan Ehrlichia spp. Anjing tersebut diobati dengan rejimen terapi komprehensif yang terdiri dari fluralaner, imidocarb dipropionate, doksisiklin, dan suplementasi pendukung dengan multivitamin dan mineral. Dua puluh delapan hari setelah dimulainya terapi, anjing tersebut menunjukkan perbaikan klinis yang nyata, sebagaimana dibuktikan dengan tidak adanya patogen yang ditularkan melalui darah pada pemeriksaan apusan dan pemulihan substansial parameter hematologi.
Dantas-Torres F, Otranto D. 2015. Further thoughts on the taxonomy and vector role of Rhipicephalus sanguineus group ticks. Veterinary Parasitology. 208(1-2):9-13. https://doi.org/10.1016/j.vetpar.2014.12.014 | PMid:25579394
Dharmawan IWC, Putriningsih PAS, Erawan IGME. 2024. Ehrlichiosis pada anjing ras domestik persilangan jantan berumur 1 tahun. Veterinary Science and Medicine Journal. 6(0):169-178.
Grecu M, Nastasa V. 2016. Benefits and risk of using imidocarb di-propionate in canine babesiosis. Romanian Journal of Veterinary Medicine & Pharmacology. 2(2):91-97.
Hadi UK, Soviana S, Kamiring AB, Hidayat S. 2020. Khasiat fluralaner terhadap kutu keras (Rhipicephalus sanguineus) pada anjing. ARSHI Veterinary Letters. 4(3):59-60. https://doi.org/10.29244/avl.4.3.59-60
Kusuma AAGA, Putriningsih PAS, Widyastuti SK. 2024. Babesiosis disertai dermatitis akibat Rhipicephalus sanguineus pada anjing ras domestik campuran. Veterinary Science and Medicine Journal. 6(6):588-599.
Mylonakis ME, Theodorou KN. 2017. Canine monocytic ehrlichiosis: an update on diagnosis and treatment. Acta Veterinaria. 67:299-317. https://doi.org/10.1515/acve-2017-0025
Simoes PB, Cardoso L, Araújo M, Yisaschar MY, Baneth G. 2011. Babesiosis due to the canine babesia microti-like small piroplasm in dogs-first report from Portugal and possible vertical transmission. Parasites & Vectors. 4(1):50. https://doi.org/10.1186/1756-3305-4-50 | PMid:21489238 PMCid:PMC3082238
Torbica G, Bedrica L, Samardžija M, Lipar M, Ljubojević D, Kreszinger M, Harapin I. 2013. Canine babesiosis treatment with three different medicines. Acta veterinaria. 63(2-3):279-290. https://doi.org/10.2298/AVB1303279T
Uslu M, Canbar R. 2022. Imidocarb use in animals. Bulletin of Veterinary Pharmacology and Toxicology Association. 13(2):120-131. https://doi.org/10.38137/vftd.1141522
Hak Cipta (c) 2025 CC-BY-SA

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License (CC BY-SA 4.0).
Lisensi ini mengizinkan siapa pun untuk menyalin, membagikan, menggunakan kembali, mengadaptasi, mengubah, dan mengembangkan karya ini dalam media atau format apa pun, termasuk untuk tujuan komersial, dengan syarat mencantumkan atribusi yang sesuai kepada penulis/pencipta asli, menyertakan tautan ke lisensi, dan menjelaskan jika ada perubahan yang dilakukan.
Apabila karya ini diadaptasi atau dimodifikasi, hasil adaptasinya harus didistribusikan dengan lisensi yang sama atau lisensi yang kompatibel.




