Protein, Iron, and Vitamin C Intake in Relation to Anemia among Female Students at Wira Bhakti Dormitory
DOI:
https://doi.org/10.25182/jigd.2026.5.3.735-741Kata Kunci:
anemia, protein, remaja putri, vitamin C, zat besiAbstrak
Anemia masih menjadi masalah gizi penting pada remaja putri karena pertumbuhan yang cepat, menstruasi, dan pola makan tidak seimbang meningkatkan kebutuhan zat besi serta dapat menghambat pembentukan hemoglobin. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 melaporkan prevalensi anemia sebesar 15,5% pada kelompok usia 15-24 tahun sehingga upaya pencegahan masih diperlukan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan konsumsi protein, zat besi, dan vitamin C dengan kejadian anemia pada siswi yang tinggal di Asrama SMA Terpadu Wira Bhakti. Penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang ini menganalisis 52 siswi dengan data lengkap. Kadar hemoglobin digunakan untuk menentukan status anemia, sedangkan konsumsi protein, zat besi, dan vitamin C dinilai dari data konsumsi pangan dan dibandingkan dengan angka kecukupan gizi. Analisis dilakukan secara deskriptif dan bivariat menggunakan uji chi-square. Sebagian besar responden berusia 16 tahun dan 63,5% mengalami anemia. Rerata kadar hemoglobin 12,17±2,52 g/dL; rerata konsumsi harian protein 52,03±14,37 g, zat besi 9,39±4,70 mg, dan vitamin C 40,82±28,25 mg. Pada kelompok anemia, konsumsi protein, zat besi, dan vitamin C kategori kurang masing-masing ditemukan pada 63,6%, 84,8%, dan 87,9% responden. Konsumsi protein berhubungan dengan kejadian anemia (p=0,001), demikian pula zat besi dan vitamin C (keduanya p<0,001). Dengan demikian, konsumsi ketiga zat gizi yang tidak cukup lebih banyak ditemukan pada responden anemia. Optimalisasi keragaman menu asrama, edukasi gizi seimbang, dan pemberian tablet tambah darah sesuai anjuran perlu diperkuat.








2.png)
