Case Report: Enteral Nutrition Therapy in Patients with Acute Exacerbation of Chronic Obstructive Pulmonary Disease, Diabetes, and Pneumonia

Penulis

  • Nur Aida Agustina Program Studi Profesi Dietisien, Jurusan Gizi, Poltekkes Kemenkes Semarang, Semarang 50268, Jawa Tengah, Indonesia
  • Ria Ambarwati Jurusan Gizi, Poltekkes Kemenkes Semarang, Semarang 50192, Jawa Tengah, Indonesia
  • Mohammad Jaelani Jurusan Gizi, Poltekkes Kemenkes Semarang, Semarang 50192, Jawa Tengah, Indonesia https://orcid.org/0009-0002-2892-446X

DOI:

https://doi.org/10.25182/jigd.2026.5.3.753-764

Kata Kunci:

diabetes melitus, nutrisi enteral, penyakit paru obstruktif kronis, tinggi karbohidrat, tinggi protein

Abstrak

Penyakit Paru Obstruktif Kronis eksaserbasi akut dengan gagal napas tipe 2 yang disertai diabetes melitus dan pneumonia merupakan kondisi kritis yang memerlukan tata laksana terapi gizi enteral adekuat guna memenuhi kebutuhan metabolik, mengendalikan kadar glukosa darah, dan mengurangi beban kerja pernapasan. Laporan kasus ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses asuhan gizi terstandar serta mengevaluasi respons klinis, biokimia dan status respirasi pasien selama perawatan intensif di Intensive Care Unit (ICU). Subjek adalah seorang perempuan berusia 56 tahun yang dirawat di ICU dengan bantuan ventilator mekanik. Hasil asesmen awal menunjukkan hiperglikemia berat (GDS 453 mg/dL dan HbA1c 8,97%), asidosis respiratorik dengan kompensasi metabolik (pH 7,193 dan pCO₂ 82 mmHg), leukositosis (13,18 ribu/µL), serta gambaran pneumonia pada pemeriksaan rontgen toraks. Hasil food recall 24 jam melalui enteral, pasien mengalami defisit asupan energi sebesar 61%, protein 47%, lemak 46,6%, dan karbohidrat 82,5% dari kebutuhan. Diagnosis gizi yang ditegakkan adalah asupan energi dan protein tidak adekuat (NI-5.2) dan perubahan nilai laboratorium terkait karbohidrat dan fungsi respirasi (NC-2.2). Intervensi gizi yang diberikan menggunakan formula diabetes spesifik pada hari ke-1, kemudian dilanjutkan dengan formula diabetes spesifik lain pada hari ke-2 sampai hari ke-7, dan kembali ke formula awal pada hari ke-8 hingga ke-9. Formula diabetes spesifik ini memiliki kandungan tinggi protein dan rendah karbohidrat. Makanan enteral diberikan melalui nasogastric tube. Jumlah pemberian diberikan secara bertahap mulai dari 180 cc/4 jam. Hasil pemantauan menunjukkan pemenuhan asupan energi dan protein meningkat mendekati 100% kebutuhan sejak hari ke-5. Terjadi tren perbaikan parameter klinis dan laboratorium yang ditandai dengan penurunan kadar GDS menjadi 226 mg/dL, perbaikan analisis gas darah pCO2 turun menjadi 54 mmHg dan pH mendekati normal 7,471, serta keberhasilan proses weaning ventilator mekanik. Kesimpulannya, terapi nutrisi enteral berbasis formula khusus diabetes tinggi protein yang terintegrasi dengan tata laksana medis intensif berperan penting dalam mendukung pemenuhan asupan, kendali glikemik, dan pemulihan respirasi pasien kritis.

Diterbitkan

2026-09-30

Terbitan

Bagian

Articles

Cara Mengutip

“Case Report: Enteral Nutrition Therapy in Patients with Acute Exacerbation of Chronic Obstructive Pulmonary Disease, Diabetes, and Pneumonia” (2026) Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik, 5(3), pp. 753–764. doi:10.25182/jigd.2026.5.3.753-764.