Anoplasti untuk atresia ani tipe III dengan fistula yang disertai komplikasi megakolon pada anak anjing

Anoplasti Atresia ani Anjing fistula megacolon

Penulis

  • Viviana Anyaputri Tanurahardja
    vnyaptr23@gmail.com
    Profession Program of Veterinary Medicine, Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University, Denpasar, Bali, Indonesia, Indonesia
  • I Wayan Wirata Laboratory of Veterinary Surgery, Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University, Denpasar, Bali, Indonesia, Indonesia
  • I Gusti Agung Gde Putra Pemayun Laboratory of Veterinary Surgery, Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University, Denpasar, Bali, Indonesia, Indonesia
Figure 2. Surgical management and postoperative outcome of type III atresia ani. (A) Excision of the blind-ending rectal pouch with apposi-tion of the rectal mucosa and submucosa to the perineal skin using 3-0 polypropylene in a simple interrupted pattern. (B) Placement of a tem-porary 1-cc syringe port following anoplasty to prevent anal stenosis. (C) Perineal region on postoperative day 3 after removal of the syringe port due to obstruction by faecal material. (D) Completely healed anal wound on postoperative day 14.

Malformasi anorektal kongenital, termasuk atresia ani, adalah kondisi yang jarang terjadi pada hewan kecil yang menyebabkan disfungsi gastrointestinal. Laporan kasus ini menggambarkan penanganan bedah dan hasil atresia ani tipe III pada anjing muda. Seekor anak anjing betina ras campuran berusia satu bulan menunjukkan tenesmus parah, distensi abdomen progresif, dan tidak adanya pengeluaran feses normal sama sekali. Pemeriksaan klinis mengidentifikasi lesung anus yang tidak memiliki lubang fungsional, disertai dengan fistula perineal ventral kecil. Penilaian radiografi mengkonfirmasi atresia ani tipe III, yang ditandai dengan kantung rektal buntu yang terletak lebih dari 1 cm di bagian kranial lesung anus dan terkait dengan megakolon yang nyata. Intervensi bedah dilakukan melalui anoplasti, dikombinasikan dengan evakuasi manual feses yang tersumbat dan pemasangan stent anus sementara menggunakan port jarum suntik 1 cc untuk menjaga patensi lumen. Penanganan pascaoperasi meliputi antibiotik spektrum luas, laktulosa, terapi analgesik, dan perawatan luka yang teliti. Meskipun buang air besar normal telah pulih, pasien mengalami tenesmus, evakuasi tinja yang tidak tuntas, dan inkontinensia tinja. Komplikasi ini dikaitkan dengan megakolon ireversibel dan disfungsi sfingter anus. Terapi konservatif gagal memberikan perbaikan, menunjukkan perlunya intervensi bedah.

Cara Mengutip

1.
Tanurahardja VA, Wirata IW, Pemayun IGAGP. Anoplasti untuk atresia ani tipe III dengan fistula yang disertai komplikasi megakolon pada anak anjing. ARSHI vet lett [Internet]. 2025 Nov. 1 [cited 2026 Jun. 10];9(4):105-6. Available from: https://journal.ipb.ac.id/arshivetlett/article/view/68862

Cystotomy kasus urolithiasis pada anjing pomeranian

Rintik Nangiimatul Lailiyyah, Feny Indriastuti, Muhamad Arfan Lesmana

Cytological and complete blood count profile in a dog with suspected skin tumours

Chika Khaerani Mutiara, Stevanie Andrea Wijaya, Aditya Gilang Prasaja, Septiani Purwanti...