Diagnosis and treatment of Microsporum canis-induced dermatophytosis in a domestic cat
Unduhan
Dermatofitosis adalah infeksi jamur superfisial yang umum pada kucing, terutama yang terpapar lingkungan luar ruangan. Studi kasus ini melaporkan seekor kucing domestik berusia 5 bulan bernama Simon, dengan berat 1,9 kg, yang memiliki kulit kemerahan dan bersisik, alopecia parsial, dan gips folikel di daerah kepala dan telinga. Kucing itu aktif, memiliki nafsu makan yang baik, dan tidak menunjukkan tanda-tanda pruritus. Simon dipelihara di lingkungan semi-luar ruangan dengan potensi kontak dengan kucing liar. Diagnosis didasarkan pada pemeriksaan fisik, uji lampu Wood, sitologi kesan pita perekat, dan kultur jamur. Evaluasi makroskopis dan mikroskopis dari isolat jamur menunjukkan bahwa Microsporum canis adalah agen penyebabnya. Pengobatan termasuk sampo antijamur topikal yang mengandung ekonazol nitrat (Sebazole) yang dioleskan setiap minggu dan itra-konazol sistemik dengan dosis 7,5 mg/kg berat badan sekali sehari selama dua minggu. Terapi suportif termasuk suplemen hati (Curcuma FCT) dan kulit (Coatex). Setelah dua minggu terapi, evaluasi fisik ulang menunjukkan resolusi eritema dan pengelupasan, dengan pertumbuhan kembali rambut yang terlihat di area yang sebelumnya alopesia.
Bajwa J. 2020. Feline dermatophytosis: clinical features and diagnostic testing. The Canadian Veterinary Journal. 61(11):1217-1220.
Frymus T, Gruffydd-Jones T, Pennisi MG, Addie D, Belák S, Boucraut-Baralon C, Egberink H, Hartmann K, Hosie MJ, Lloret A, Lutz H. 2013. Dermatophytosis in cats: ABCD guidelines on prevention and management. Journal of Feline Medicine and Surgery. 15(7):598-604. https://doi.org/10.1177/1098612X13489222 | PMid:23813824 PMCid:PMC11148949 DOI: https://doi.org/10.1177/1098612X13489222
Gould AP, Coyner KS. 2017. Feline dermatophytosis. Washington, USA, Clinical Notes Elanco [17 Sep 2024] : cn_2017_elanco_september_r-41686-article.pdf (ctfassets.net).
Indrajulianto S, Yanuartono, Purnamaningsih H, Wikansari P, Sakan GYI. 2014. Isolasi dan identifikasi microsporum canis dari anjing penderita dermatofitosis di Yogyakarta. Jurnal Veteriner. 15(2):212-216.
Moriello K. 2014. Feline dermatophytosis, aspect pertinent to disease management in single and multiple cat situations. Journal of Feline Medicine and Surgery. 16(5):419-431. https://doi.org/10.1177/1098612X14530215 | PMid:24794038 PMCid:PMC4361704 DOI: https://doi.org/10.1177/1098612X14530215
Rapti PB, Karafylia A, Tamvakis A, Farmaki R. 2023. Comparison of adhesive tape impression cytology, hair pluck, and fungal culture for the diagnosis of dermatophytosis in dogs and cats. Veterinary Sci-ences. 10(3):183. https://doi.org/10.3390/vetsci10030183 | PMid:36977222 PMCid:PMC10055676 DOI: https://doi.org/10.3390/vetsci10030183
Shipstone M. 2022. Antifungals for integumentary disease in animals. Merck Veterinary Manual [17 Sep 2024]. Antifungals for Integumentary Disease in Animals - Pharmacology - Merck Veterinary Manual (merckvetmanual.com).
Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License (CC BY-SA 4.0).
Lisensi ini mengizinkan siapa pun untuk menyalin, membagikan, menggunakan kembali, mengadaptasi, mengubah, dan mengembangkan karya ini dalam media atau format apa pun, termasuk untuk tujuan komersial, dengan syarat mencantumkan atribusi yang sesuai kepada penulis/pencipta asli, menyertakan tautan ke lisensi, dan menjelaskan jika ada perubahan yang dilakukan.
Apabila karya ini diadaptasi atau dimodifikasi, hasil adaptasinya harus didistribusikan dengan lisensi yang sama atau lisensi yang kompatibel.




