Perbedaan Determinan Stunting Balita pada Dua Kabupaten dan Kota dengan Prevalensi Tinggi dan Rendah
Differences in Stunting Determinants among Under-Five Children in a High and Low Prevalence Region in Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.25182/jigd.2025.4.3.235-244Kata Kunci:
diare, pedesaan, perkotaan, sanitasi, stuntingAbstrak
Indonesia menempati peringkat ke-59 human capital index (HCI) di antara 117 negara-negara dengan tingkat pendapatan menengah ke bawah. Persentase balita bebas stunting adalah salah satu indikator pengukuran HCI. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 menunjukkan Provinsi Banten sebagai prevalensi stunting yang tinggi (20%). Banten ditetapkan sebagai provinsi prioritas percepatan penurunan stunting di Indonesia. Wilayah penelitian yang dipilih adalah Kabupaten Pandeglang sebagai prevalensi stunting tinggi (29,4%) dan Kota Tangerang Selatan sebagai prevalensi stunting rendah (9%) berdasarkan SSGI 2022. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan determinan stunting balita di Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Pandeglang. Jenis penelitian ini memanfaatkan data sekunder hasil SSGI 2022. SSGI 2022 menggunakan desain studi cross-sectional. Subjek adalah balita (0-59 bulan) dengan total 551 di Kota Tangerang Selatan dan 291 di Kabupaten Pandeglang sehingga total subjek adalah 842 balita. Analisis data menggunakan aplikasi SPSS 22. Regresi Logistik Berganda pada signifikansi 5% dan taraf kepercayaan 95% digunakan sebagai analisa data. Determinan stunting di Kabupaten Pandeglang diantaranya tinggal di pedesaan (OR= 2,251), panjang badan lahir rendah (OR= 2,559), dan riwayat diare (OR=3,157). Sanitasi yang tidak baik (OR=31,328) merupakan determinan stunting yang berpengaruh di Kota Tangerang Selatan. Intervensi penurunan stunting di Kabupaten Pandeglang diperlukan secara komprehensif baik pada tingkat individu maupun rumah tangga sementara Kota Tangerang Selatan pada tingkat rumah tangga.







2.png)
