Tata Kelola Rantai Nilai Gula Aren di Kabupaten Tasikmalaya

Isi Artikel Utama

NURI NABILA NUROHMAH
Nunung Kusnadi
Andriyono Kilat Adhi

Abstrak

Tingginya harga gula aren dibandingkan gula merah non-aren di tingkat konsumen menimbulkan pertanyaan aktivitas penciptaan nilai mana yang menyebabkan harga gula aren relatif lebih mahal. Penelitian ini bertujuan (1) mengidentifikasi aktor dan peran masing-masing aktor yang terlibat dalam rantai nilai gula aren; dan (2) menganalisis  tata kelola yang terbentuk dalam rantai nilai. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh melalui wawancara dengan kuisioner dan observasi lapangan. Teknik pengambilan sampel menggunakan snowball sampling dengan jumlah responden sebanyak 53 petani aren dan 10 pengepul gula aren. Data dianalisis menggunakan kualitatif deskriptif  yang merujuk pada analisis rantai nilai global (VCGs) yang dikemukakan oleh Gereffi.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) aktor yag teridentifikasi dalam rantai nilai gula aren terdiri atas petani aren, pengolah gula aren, pengepul gula aren, pedagang, layanan pendukung, social entreprise, dan konsumen. Pengolah gula aren dan pengepul merupakan aktor yang paling berperan dalam rantai nilai gula aren di Kabupaten Tasikmalaya; (2) secra keseluruhan, tipe tata kelola yang terbentuk dalam rantai nilai gula aren di Kabupaten Tasikmalaya adalah tata kelola modular.

Rincian Artikel

Bagian

Articles

Biografi Penulis

NURI NABILA NUROHMAH, Program Magister Sains Agribisnis, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor

Jl. Kamper Wing 4 Level 5 Kampus IPB Dramaga, Indonesia

Cara Mengutip

Tata Kelola Rantai Nilai Gula Aren di Kabupaten Tasikmalaya . (2024). Jurnal Agribisnis Indonesia, 12(1), 106-119. https://doi.org/10.29244/jai.2024.12.1.106-119

Referensi

Aisyah, N. S. (2022). Rantai Nilai Global Kopi Arabika Spesial di Kabupaten Bondowoso. 2022, 1–81.

Ariño, A., De La Torre, J., & Ring, P. S. (2001). Relational quality: Managing trust in corporate alliances. California Management Review, 1, 109–131. https://doi.org/10.2307/41166113 DOI: https://doi.org/10.2307/41166113

Astina, A., Jahroh, S., & Fariyanti, A. (2019). Typology of Cocoa Value Chain Governance in West Sulawesi. International Journal of Agriculture System, 7(1), 27–38. https://doi.org/10.20956/ijas.v7i1.1764

Gereffi, G., Humphrey, J., & Sturgeon, T. (2005). The governance of global value chains. Review of International Political Economy, 12(1), 78–104. https://doi.org/10.1080/09692290500049805 DOI: https://doi.org/10.1080/09692290500049805

Humphrey, J; Schimitz, H. (2002). Developing Country Firms in the World Economy : Governance and Upgrading in Global Value Chains. INFE Report, 61, 1–35.

Kodigehalli, B. V. (2011). Value chain analysis for coffee in Karnataka, India. 85.

Mccormick, D., & Schmitz, H. (2001). MANUAL FOR VALUE CHAIN RESEARCH ON by Table of Contents. Learning, November.

Merr, W., & Haagen, A. (2014). Promising Source of Bioethanol and Sugar with Low Glycemic Index. December, 1–62. https://doi.org/10.13140/RG.2.2.36701.36325

Morgan, R. M., & Hunt, S. D. (1994). The Commitment-Trust Theory of. Journal of Marketing, 58(July), 20–38. https://journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/002224299405800302 DOI: https://doi.org/10.1177/002224299405800302

Non, P., & Nasional, U. (n.d.). Buku-Statisik-Non-Unggulan-2020-2022.

Roosmayanti, F., Rismiwindira, K., & Masithoh, R. E. (2021). Detection of coconut (Cocos nucivera) sugar adulteration in palm (arenga pinnata merrill) sugar by fourier transform infrared (ft-ir) spectroscopy. Food Research, 5, 31–36. https://doi.org/10.26656/fr.2017.5(s2).013 DOI: https://doi.org/10.26656/fr.2017.5(S2).013

Srikaeo, K., Sangkhiaw, J., & Likittrakulwong, W. (2019). Productions and functional properties of palm sugars. Walailak Journal of Science and Technology, 16(11), 897–907. https://doi.org/10.48048/wjst.2019.5323 DOI: https://doi.org/10.48048/wjst.2019.5323

Van Nguyen, C., Schwabe, J., & Hassler, M. (2022). Value chains and the role of middlemen in white shrimp farming in Central Vietnam. Asian Geographer, 39(2), 199–208. https://doi.org/10.1080/10225706.2021.1886953 DOI: https://doi.org/10.1080/10225706.2021.1886953