Bahasa sebagai Alat Komunikasi Politik dalam Rangka Mempertahankan Kekuasaan

Zahri Nasution

Abstract


Salah satu sistem isyarat yang paling penting bagi manusia adalah bahasa. Bahasa merupakan kekuatan (language is power) dan sangat berperan dalam mencapai tujuan nasional maupun internasional suatu bangsa. Penggunaan bahasa secara superintensif, termasuk didalamnya penyalahgunaan (abuse) bahasa dengan berbagai aspeknya begitu menonjol dalam dunia politik di Indonesia. Dalam era globalisasi pasar dan informasi dewasa ini, sulitlah membayangkan adanya forum atau panggung komunikasi politis yang bebas dari pengaruh pasar ataupun negara. Produk pertarungan dan rekayasa politik telah menimbulkan suatu struktur kekuasan yang lebih menekankan peran eksekutif yang lebih besar dari pada lembaga legislatif atau yudikatif. Beberapa distorsi bahasa dalam komunikasi politik adalah bahasa sebagai topeng, sebagai proyek lupa, bahasa sebagai representasi, dan bahasa sebagai ideologi. Digunakannya bahasa yang terdistorsi ini antara lain agar kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa tetap dapat bertahan. Ketersediaan ruang publik akan dapat efektif untuk memunculkan wacana tandingan apabila diimbangi dengan perubahan struktural dalam masyarakat, terutama menyangkut hubungan antara elit dengan massa.

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.22500/sodality.v1i3.5897


Editorial Office

Sodality : Jurnal Sosiologi Pedesaan

Department of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology, IPB University

FEMA Building, Wing 1 Level 3 Jalan Kamper, Kampus IPB Darmaga Bogor, 16680, Indonesia

 

Phone. 8425252/8627793; Fax 8627793

P-ISSN: 2302-7517 e-ISSN: 2302-7525

Email : jurnalsodality@apps.ipb.ac.id

 

Creative Commons Licence
Sodality : Jurnal Sosiologi Pedesaan is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.