Mengoreksi Politik Pertanahan Nasional

Authors

  • Soedarsono Soedomo

DOI:

https://doi.org/10.29244/agro-maritim.0502.557-561

Keywords:

Pertanahan Nasional, Politik, Pembangunan

Abstract

Sejak tahun 1967 telah terjadi dualisme politik pertanahan nasional yang menimbulkan banyak masalah. Dualisme tersebut adalah antara sektor kehutanan di satu sisi dan Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertanahan Nasional (BPN) di sisi yang lain. Alokasi tanah menjadi sangat tidak efisien, banyak menimbulkan kasus hukum yang tidak perlu, dan pembangunan menjadi terhambat. Dualisme politik pertanahan tersebut perlu segera diakhiri karena telah nyata merugikan kepentingan nasional dalam memakmurkan rakyat. Konflik tenurial sangat marak, sementara investasi sulit bergerak.

References

De Soto H. 2001. Dead capital and the poor. SAIS Review (1989-2003), 21(1):13–44. https://doi.org/10.1353/sais.2001.0011

Dhiaulhaq A & McCarthy JF. 2020. Indigenous rights and agrarian justice framings in forest land conflicts in indonesia. The Asia Pacific Journal of Anthropology, 21(1):34–54. https://doi.org/10.1080/14442213.2019.1670243

Lucas A & Warren C. 2003. The state, the people, and their mediators: the struggle over agrarian law reform in post-new order indonesia. Indonesia, (76):87–126.

Van der Muur W. 2018. Forest conflicts and the informal nature of realizing indigenous land rights in indonesia. Citizenship studies, 22(2):160–174. https://doi.org/10.1080/13621025.2018.1445495

Downloads

Published

2023-06-08

How to Cite

Soedomo, S. . (2023). Mengoreksi Politik Pertanahan Nasional. Policy Brief Pertanian, Kelautan, Dan Biosains Tropika, 5(2), 557-561. https://doi.org/10.29244/agro-maritim.0502.557-561

Similar Articles

21-30 of 154

You may also start an advanced similarity search for this article.