Optimalisasi Pertanian melalui Pemanfaatan Lahan Sempit dan Pengolahan Sampah Organik di Kampung Cicere, Cigudeg
Abstrak
Desa Kampung Cicere di Kabupaten Bogor menghadapi masalah lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia berlebihan dan pembakaran sampah. Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan merusak kualitas tanah, sementara pembakaran sampah menghasilkan polutan berbahaya. Untuk mengatasi masalah ini, Kampung Cicere menjadi desa percontohan program SI-LEISA (System Integration-Low External Input Sustainable Agriculture), yang mencakup sosialisasi berkebun di pekarangan, pemilahan sampah, pembuatan kompos, dan vertikultur. Program ini dilaksanakan dengan metode sosialisasi dan demonstrasi langsung kepada warga Kampung Cicere. Sosialisasi berkebun melibatkan partisipan dan berfokus pada pemilahan sampah, pembuatan kompos, dan vertikultur. Pemilahan sampah dilakukan door to door, menghasilkan sampah organik yang diolah menjadi kompos. Pembuatan kompos berhasil, dengan kompos yang dihasilkan memenuhi indikator keberhasilan. Program vertikultur berhasil diterapkan, dengan tanaman yang tumbuh dengan baik meskipun ukuran sedikit lebih kecil dibandingkan dengan metode konvensional. Implementasi program SI-LEISA mendapat respon positif dari masyarakat. Pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman sayur mampu meningkatkan ketahanan pangan keluarga dan menjaga kelestarian lingkungan. Metode pelaksanaan yang mudah meningkatkan potensi keberlanjutan program ini.
Unduh
Referensi
Aziz MF, Abdurrachman A, Chandra I, Majid LI, Vaicdan F, Salam RA. 2020. Pemantauan konsentrasi gas (CO2, No2) dan Partikulat (PM2.5) pada struktur horizontal di Kawasan Dayeuhkolot, Cekungan Udara Bandung Raya. Jurnal Sains Dirgantara. 18(1): 1‒12.
Arlius A, Sudargo T, Subejo. 2017. Hubungan ketahanan pangan keluarga dengan status gizi balita (Studi di Desa Palasari dan Puskesmas Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang). 23(3): 359‒375. https://doi.org/10.22146/jkn.25500
Dahlianah I. 2015. Pemanfaatan sampah organik sebagai bahan baku pupuk kompos dan pengaruhnya terhadap tanaman dan tanah. Klorofil: Jurnal Ilmu - Ilmu Agroteknologi. 10(1): 10‒13.
Das B, Bhave PV, Sapkota A, Byanju RM. 2018. Estimating emissions from open burning of municipal solid wate in municipalities of Nepal. Waste Management. 79(18): 481‒490. https://doi.org/10.1016/j.wasman.2018.08.013
Dewi DS, Afrida E. 2022. Kajian respon penggunaan pupuk organik oleh petani guna mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. Journal Liaison Academia and Sosiety. 2(4): 130‒135. https://doi.org/10.58939/afosj-las.v2i4.458
Ernawaty, Zulkarnain, Siregar YI, Bahruddin. 2019. Pengelolaan sampah di Kota Pekanbaru. Dinamika Lingkungan Indonesia. 6(2): 126‒135. https://doi.org/10.31258/dli.6.2.p.126-135
Hardyan R, Sasmita E, Yenie. 2016. Prediksi sebaran partikulat insinerator RSUD Arifin Achmad menggunakan Screen View. Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Riau. 13(1): 1‒6.
Junaidah, Suryanto P, Budadi. 2015. Komposisi jenis dan fungsi pekarangan (Studi kasus Desa Giripuro, Kecamatan Girimulyo. DI Yogyakarta. Jurnal Hutan Tropis. 4(1): 77‒84. https://doi.org/10.20527/jht.v4i1.2884
Widarto L. 2016. Vertikultur Bercocok Tanam Secara Bertingkat. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
Widowati L. R. et al. 2022. Pupuk Organik Dibuatnya Mudah, Hasil Tanam Melimpah. Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Youssef MMA, Eissa MFM. 2014. Biofertilizers and their role in management of plant parasitic nematodes. A review. E3 Journal of Biotechnology and Pharmaceutical Research. 5(1): 1‒6.