REVITALISASI RUANG TERBUKA BIRU SEBAGAI UPAYA MANAJEMEN LANSKAP PADA SKALA BIO-REGIONAL

  • Hadi Susilo Arifin Komisi B “Pengembangan Keilmuan & Pemikiran Strategis” Dewan Guru Besar IPB; Divisi Manajemen Lanskap, Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Darmaga-Bogor 16680 http://orcid.org/0000-0001-6279-8677

Abstract

RINGKASAN

Manajemen lanskap pada skala bio-regional pada unit Daerah Aliran Sungai merupakan isu  penting dalam penanganan permasalahan lingkungan, terlebih terkait dengan masalah manajemen sumberdaya air.  Selanjutnya, dalam praktek manajemen lanskap akan difokuskan terhadap wilayah tepian sungai atau yang disebut lanskap riparian.  Masalah utama lingkungan dipicu dengan kondisi kesemrawutan transportasi darat, rendahnya penanganan sampah dan buruknya pengelolaan ruang terbuka biru sehingga memunculkan bahaya banjir. Diduga perubahan paradigma pembangunan yang berorientasi di darat telah menyebakan perubahan cara pandang masyarakat terhadap sumberdaya air, yang semula berorientasi pada lanskap muka air atau 'water front landscape' beralih menjadi lanskap belakang air atau 'water back landscape'.  Dari hasil penelitian berdasarkan analisis citra yang mengkaji perubahan penutupan lahan selama 3 dekade 1980-an sampai 2010-an telah terindikasi menurunnya jumlah badan air atau RTB di DAS Ciliwung.  Dengan pelaksanaan 'focus group discussion' ditelusuri cara pandang dan persepsi masyarakat, pemerintah, swasta pelaku bisnis property dan jurnalis.  Hasil kajian yang merupakan temuan-temuan penelitian ini dimanfaatkan melalui rekayasa sosial dalam bentuk leaflet, poster dan buku saku yang bisa didiseminasikan kembali kepada para pihak yang terlibat langsung atau tidak langsung dengan manajemen daerah aliran sungai dari bagian hulu sampai dengan bagian hilir.

Kata kunci : daerah aliran sungai, focus group discussion, hulu dan hilir, lanskap belakang air, lanskap muka air, rekayasa sosial

Published
2015-10-09
Section
Articles