<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.3 20210610//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.3/JATS-journalpublishing1-3.dtd"><article xml:lang="id" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0/" dtd-version="1.3" article-type="research-article"><front><journal-meta><journal-id journal-id-type="issn">2354-886X</journal-id><journal-title-group><journal-title>Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia</journal-title><abbrev-journal-title>JPHPI</abbrev-journal-title></journal-title-group><issn pub-type="epub">2354-886X</issn><issn pub-type="ppub">2303-2111</issn><publisher><publisher-name>Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)</publisher-name><publisher-loc>Indonesia</publisher-loc></publisher></journal-meta><article-meta><article-id pub-id-type="doi">10.17844/ct4byz13</article-id><article-categories></article-categories><title-group><article-title>Effect of using catfish skin gelatin (&lt;i&gt;Pangasius&lt;/i&gt; sp.) with different concentrations on the characteristics of panna cotta dessert</article-title><subtitle>Pengaruh penggunaan gelatin kulit ikan patin  (Pangasius sp.) dengan konsentrasi berbeda terhadap karakteristik panna cotta dessert</subtitle></title-group><contrib-group><contrib contrib-type="author"><name><surname>Ariakhalista</surname><given-names>Dheandra Pramesti</given-names></name><address><country country="ID">Indonesia</country><email>ima.wijayanti@live.undip.ac.id</email></address><xref ref-type="aff" rid="AFF-1"></xref></contrib><contrib contrib-type="author"><contrib-id contrib-id-type="orcid">https://orcid.org/0000-0002-7082-1424</contrib-id><name><surname>Wijayanti</surname><given-names>Ima</given-names></name><address><country country="ID">Indonesia</country><email>ima.wijayanti@live.undip.ac.id</email></address><xref ref-type="aff" rid="AFF-1"></xref><xref ref-type="corresp" rid="cor-0"></xref></contrib><contrib contrib-type="author"><contrib-id contrib-id-type="orcid">https://orcid.org/0000-0003-0050-288X</contrib-id><name><surname>Agustini</surname><given-names>Tri Winarni</given-names></name><address><country country="ID">Indonesia</country><email>ima.wijayanti@live.undip.ac.id</email></address><xref ref-type="aff" rid="AFF-1"></xref></contrib></contrib-group><contrib-group><contrib contrib-type="editor"><name><surname>Irianto</surname><given-names>Prof.Dr. Hari Eko</given-names></name><address><country country="ID">Indonesia</country><email>harieko_irianto@yahoo.com</email></address></contrib></contrib-group><aff id="AFF-1"><institution content-type="dept">Jurusan Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan</institution><institution-wrap><institution>Universitas Diponegoro</institution><institution-id institution-id-type="ror">https://ror.org/056bjta22</institution-id></institution-wrap><addr-line>Jalan Prof. Jacub Rais, Tembalang, Kota Semarang</addr-line><city>Jawa Tengah</city><country country="ID">Indonesia</country></aff><author-notes><corresp id="cor-0">Corresponding author: Ima Wijayanti. Email: <email>ima.wijayanti@live.undip.ac.id</email></corresp></author-notes><pub-date date-type="pub" iso-8601-date="2026-06-29" publication-format="electronic"><day>29</day><month>06</month><year>2026</year></pub-date><pub-date date-type="collection" iso-8601-date="2026-06-29" publication-format="electronic"><day>29</day><month>06</month><year>2026</year></pub-date><volume>29</volume><issue>6</issue><issue-title>Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 29(6)</issue-title><fpage>505</fpage><lpage>520</lpage><history><date date-type="received" iso-8601-date="2025-05-09"><day>09</day><month>05</month><year>2025</year></date><date date-type="accepted" iso-8601-date="2026-05-29"><day>29</day><month>05</month><year>2026</year></date></history><permissions><copyright-statement>Hak Cipta (c) 2026</copyright-statement><copyright-year>2026</copyright-year><copyright-holder>Dheandra Pramesti Ariakhalista, Ima Wijayanti, Tri Winarni Agustini</copyright-holder><license license-type="open-access" xlink:href="https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/"><ali:license_ref xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0/">https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/</ali:license_ref><license-p>Artikel ini berlisensi  Creative Commons Attribution 4.0 International License.</license-p></license></permissions><self-uri xlink:href="https://journal.ipb.ac.id/jphpi/article/view/64236" xlink:title="64236"></self-uri><abstract><p>Gelatin merupakan produk turunan protein yang dihasilkan dari kolagen parsial yang dilepaskan dari jaringan ikat, kulit, dan tulang hewan. Gelatin yang bersumber dari ikan dapat mengatasi kekurangan dan kendala gelatin daging babi dan sapi. Gelatin dapat digunakan dalam pembuatan <italic>panna cotta</italic> sebagai bahan pembentuk gel. Tujuan penelitian ini untuk menentukan konsentrasi terbaik berdasarkan karakteristik fisika, kimia dan sensori <italic>panna cotta</italic> dessert yang dihasilkan dari gelatin kulit ikan patin dengan konsentrasi yang berbeda. Pembuatan gelatin dilakukan dengan metode ekstraksi asam sitrat 0,2%. Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari gelatin 1,5%, 2% dan 2,5%. Parameter uji yang digunakan adalah profil tekstur, kadar air dan protein, warna dan uji hedonik. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan uji beda nyata jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi gelatin berpengaruh nyata (p&lt;0,05) terhadap TPA, kadar air dan protein, tetapi tidak berpengaruh nyata (p&gt;0,05) terhadap uji warna. Penggunaan gelatin dengan konsentrasi 1,5% menghasilkan <italic>panna cotta</italic> dengan kekerasan 0,22 kgf, kohesivitas 0,09, kekenyalan 3,65 mm, <italic>gumminess</italic> 0,02 kgf, chewiness 0,07 kgf.mm, <italic>fracture force</italic> 0,18 kgf, daya lekat -0,006 kgf.mm, kadar air 72,49%, kadar protein 4,84%, nilai L* 43,04, nilai a* -0,48 dan nilai b* 6,15. Penggunaan gelatin pada konsentrasi 1,5% menghasilkan <italic>panna cotta</italic> dengan karakteristik fisik terbaik karena teksturnya paling lembut, lumer di mulut tanpa perlu dikunyah dan paling disukai panelis. </p></abstract><kwd-group><kwd>gel gelatin ikan</kwd><kwd>hedonik</kwd><kwd>texture profile analysis</kwd><kwd>viskositas</kwd></kwd-group><custom-meta-group><custom-meta><meta-name>File created by JATS Editor</meta-name><meta-value>https://jatseditor.com</meta-value></custom-meta><custom-meta><meta-name>issue-created-year</meta-name><meta-value>2026</meta-value></custom-meta></custom-meta-group></article-meta></front><body><sec id="sec-1"><title>PENDAHULUAN</title><p>Ikan patin (<italic>Pangasius sp</italic>.) merupakan salah satu jenis ikan yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Produksi ikan patin di Indonesia pada tahun 2024 mencapai 381.969 ton <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-8">(BPS, 2026)</xref>. Besarnya produksi patin diiringi dengan peningkatan olahan menjadi berbagai produk bernilai tambah. Pengolahan ikan patin di Indonesia biasanya berupa filet yang kemudian dijual dalam bentuk segar maupun beku. Industri ikan patin filet menghasilkan sekitar 50% limbah sehingga potensi limbah dapat mencapai lebih dari 150.000 ton, yang terdiri dari kulit, kepala, tulang, sirip dan isi perut. Kulit ikan patin merupakan salah satu contoh limbah yang masih dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi, salah satunya adalah gelatin <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-15">(Fabella et al., 2018)</xref>. Gelatin yang bersumber dari ikan dapat menjadi alternatif dalam mengatasi kekurangan dan kendala yang terdapat pada gelatin babi dan sapi. Gelatin yang bersumber dari ikan yang berasal dari perairan tropis lebih mirip dengan gelatin sapi dibandingkan dengan gelatin yang bersumber dari ikan yang berasal dari daerah beriklim dingin. Berdasarkan suhu ekstraksi dan nilai pH, banyak penelitian yang mengonversi kolagen kulit menjadi gelatin. Nilai pH ekstraksi dapat berbeda-beda pada setiap metode sehingga dapat digunakan berbagai macam asam <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-48">(Saputra et al., 2015)</xref>.</p><p>Gelatin yang dihasilkan dari kulit ikan patin dapat mencapai kekuatan gel 200 bloom, sehingga menjadikannya sebagai bahan alternatif untuk pembuatan gelatin. Komposisi asam amino gelatin, terutama prolin dan hidroksiprolin, berat molekul, dan rasio rantai α/β memengaruhi kekuatan gelatin <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-14">(Eveline et al., 2011)</xref>. Gelatin dapat digunakan dalam pembuatan <italic>panna cotta</italic>. Gelatin dalam <italic>panna cotta</italic> berperan sebagai agen pembentuk gel. Konsentrasi gula dan gelatin yang berbeda saat pembuatan <italic>panna cotta </italic>dapat memengaruhi sifat fisikokimia dan organoleptiknya. Hal ini mendukung gagasan bahwa interaksi antara konsentrasi gelatin dan gula memengaruhi sifat gel yang dihasilkan <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-22">(Handani et al., 2016)</xref>. Banyak orang mengonsumsi tidak hanya dalam keadaan segar tetapi juga produk perikanan olahan seperti <italic>panna cotta</italic>.</p><p><italic>Panna cotta</italic> merupakan hidangan penutup khas Italia yang menggunakan gelatin bubuk sebagai bahan baku yang dimasak dengan krim kental, susu, gula dan disajikan dingin. Tekstur <italic>panna cotta</italic> yang lembut menjadikan produk ini unik dibandingkan hidangan penutup lainnya <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-26">(Karnita et al., 2022)</xref>. <italic>Panna cotta</italic> memiliki tekstur lembut semipadat. Gelatin dalam <italic>panna cotta</italic> berfungsi sebagai agen pembentuk gel yang dipengaruhi oleh konsentrasinya. <italic>Panna cotta</italic> memiliki karakter yang mirip dengan puding, memiliki sifat gel yang lebih lembut tetapi tetap padat dan dapat mempertahankan bentuknya. <italic>Panna cotta</italic> memiliki sifat yang dapat meleleh saat berada di mulut sehingga membuat produk ini berbeda dengan jenis makanan penutup lainnya <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-22">(Handani et al., 2016)</xref>. Penelitian yang membahas tentang pengaruh bahan pembentuk gel seperti gelatin ikan terhadap kualitas makanan penutup seperti <italic>panna cotta</italic> yang dijual di pasaran masih sangat sedikit.</p><p>Penelitian sebelumnya menunjukkan perbedaan konsesntrasi gelatin dan gula berpengaruh nyata terhadap karakteristik <italic>panna cotta</italic> dengan konsentrasi gelatin terbaik adalah 1% dan kadar gula 7,5% <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-22">(Handani et al., 2016)</xref>. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-4">Ardiansyah et al. (2019)</xref>, menyatakan bahwa bubuk gelatin dari tulang ikan nila merah yang ditambahkan pada makanan penutup <italic>panna cotta</italic> dengan konsentrasi 4% merupakan yang terbaik dan paling disukai. Pengaruh gelatin dari kulit ikan patin terhadap karakteristik <italic>panna cotta</italic> belum pernah dilakukan. Gelatin dari sumber yang berbeda kemungkinan menghasilkan karakteristik <italic>panna cotta</italic> yang berbeda karena kekuatan gel dari masing-masing gelatin juga berbeda. Tujuan penelitian ini untuk menentukan konsentrasi terbaik berdasarkan karakteristik fisika, kimia dan sensori <italic>panna cotta</italic> dessert yang dihasilkan dari gelatin kulit ikan patin dengan konsentrasi yang berbeda. Pembuatan gelatin dilakukan dengan metode ekstraksi asam sitrat 0,2%. Konsentrasi yang digunakan pada penelitian ini berdasarkan uji coba sebelumnya menunjukkan konsentrasi gelatin lebih dari 3% menghasilkan <italic>panna cotta</italic> yang lebih mirip dengan karakteristik pudding sedangkan karakteristik <italic>panna cotta</italic> yang diharapkan dapat semirip mungkin dengan yang komersial yaitu lembut dan lumer di mulut. Konsentrasi gelatin yang ditambahkan pada <italic>panna cotta</italic> di penelitian ini yaitu 1,5%, 2% dan 2,5%.</p></sec><sec id="sec-2"><title>BAHAN DAN METODE</title><sec id="sec-3"><title>Pembuatan Gelatin dan Panna Cotta</title><p>Pembuatan gelatin kulit ikan patin mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-38">Nurilmala et al. (2021)</xref> dengan modifikasi pada suhu dan lama ekstraksi, dimulai dengan membersihkan kulit ikan dari sisasisa daging, lemak, sisik, dan kotoran lain yang masih menempel. Kulit yang telah dibersihkan dipotong-potong berbentuk persegi dengan ukuran ±1x1 cm, kemudian dicuci dengan air hangat pada suhu <inline-formula><tex-math id="math-1"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 5 0 ^ { \circ } \mathrm { C } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> yang dialirkan selama 4x2 menit. Kulit selanjutnya dicuci menggunakan akuades hingga pH netral, dilanjutkan dengan perendaman menggunakan asam sitrat 0,2% (1:4 (b/v)) selama 12 jam. Proses selanjutnya adalah ekstraksi kulit ikan pada suhu <inline-formula><tex-math id="math-2"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 7 0 ^ { \circ } \mathrm { C } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> selama 3 jam menggunakan waterbath (Memmert, basic series, Jerman), kemudian dioven (Memmert, UM 100, Jerman) selama 48 jam pada suhu 60°C.</p><fig id="figure-1"><label>Gambar 1</label><caption><p>Diagram alir pembuatan panna cotta</p></caption><graphic xlink:href="https://journal.ipb.ac.id/jphpi/article/download/64236/version/45342/34118/417560" mime-subtype="png" mimetype="image"><alt-text>Gambar 1</alt-text></graphic></fig><p>Pembuatan <italic>panna cotta</italic> dengan konsentrasi gelatin yang berbeda berdasarkan penelitian Karo <italic>et al</italic>. (2021) yang diawali dengan mencampurkan 500 g susu bubuk (merk INDOMILK), 55 g whipped cream (merk ELLENKA) dan 25 g gula (merk GULAKU) kemudian dipanaskan menggunakan kompor dengan api sedang hingga hampir mendidih. Gelatin dihidrasi menggunakan air dingin, dicampurkan ke dalam adonan. Campuran tersebut dipanaskan hingga <inline-formula><tex-math id="math-3"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 7 0 ^ { \circ } \mathrm { C } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> menggunakan waterbath selama 5 menit. Adonan <italic>panna cotta</italic> yang sudah dipanaskan dituang ke dalam gelas plastik dan didinginkan pada suhu ruang untuk mencegah terjadinya pengembunan pada tutup gelas selama penyimpanan. Adonan <italic>panna cotta</italic> didinginkan dalam lemari pendingin (Sharp, SJ-236MG/GB, Jepang) pada suhu <inline-formula><tex-math id="math-4"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 5 ^ { \circ } \mathrm { C } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> selama 30 menit.</p></sec><sec id="sec-4"><title>Karakteristik Gelatin</title><p>Karakteristik warna gelatin dianalisis menggunakan Chroma Meter Minolta CM-3600D dengan perangkat lunak JAYPAK 4808 berdasarkan ruang warna CIELAB <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-35">(Netravati et al., 2022)</xref> yang meliputi kecerahan (L\*), kemerahan/kehijauan (a\*), dan kekuningan/ kebiruan (b\*); analisis rendemen mengacu pada AOAC (2005), viskositas <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-18">(GMIA, 2012)</xref> dan kekuatan gel <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-23">(Hido et al., 2021)</xref>.</p></sec><sec id="sec-5"><title>Karakteristik Panna Cotta</title><p>Metode analisis kadar protein dan kadar air <italic>panna cotta</italic> mengacu pada <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-3">AOAC (2005)</xref>. Profile tekstur <italic>panna cotta</italic> dianalisis dengan metode texture profile analysis menggunakan texture analyzer (TA.XTplusC Texture Analyser - Stable Micro Systems, United Kingdom). Karakteristik warna <italic>panna cotta</italic> diuji menggunakan Chroma Meter Minolta CM-3600D dengan perangkat lunak JAYPAK 4808 dengan metode metode CIELAB <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-35">(Netravati et al., 2022)</xref> Uji hedonik mengacu pada <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-9">BSN (2015)</xref> meliputi parameter tekstur, rasa, aroma, kenampakan dengan setiap parameter memiliki 9 skala yaitu 1 amat sangat tidak suka, 2 sangat tidak suka, 3 tidak suka, 4 agak tidak suka, 5 netral, 6 agak suka, 7 suka, 8 sangat suka, 9 amat sangat suka. Uji hedonik dilakukan oleh 30 orang panelis semi/tidak terlatih yang merupakan mahasiswa Teknologi Hasil Perikanan (18 perempuan dan 12 laki-laki).</p></sec><sec id="sec-6"><title>Analisis Data</title><p>Data diuji statistik parametrik menggunakan analisis variansi (ANOVA), serta uji lanjut beda nyata jujur (BNJ). ANOVA diterapkan untuk menguji perbedaan ratarata antar perlakuan pada parameter TPA, kadar air, warna, dan kadar protein. Apabila hasil ANOVA menunjukkan perbedaan yang signifikan, analisis dilanjutkan dengan uji BNJ untuk mengidentifikasi pasangan perlakuan yang berbeda nyata. Sementara itu, data hasil uji sensori dianalisis menggunakan metode statistik nonparametrik Kruskal–Wallis pada taraf signifikansi 5%, jika pengaruh perlakuan nyata dilanjutkan dengan uji Mann–Whitney untuk mengetahui perbedaan antarperlakuan secara spesifik. Seluruh analisis statistika menggunakan <italic>software</italic> SPSS 16</p></sec></sec><sec id="sec-7"><title>HASIL DAN PEMBAHASAN</title><sec id="sec-8"><title>Karakteristik Gelatin</title><p>Gelatin memiliki beberapa karakteristik penting meliputi warna, rendemen, viskositas dan kekuatan. Karakteristik-karakteristik tersebut digunakan untuk mengevaluasi kualitas gelatin yang dihasilkan. Nilai masingmasing karakteristik gelatin disajikan pada <xref ref-type="table" rid="table-1">Table 1</xref>.</p><p>Hasil uji warna menunjukkan bahwa gelatin kulit ikan patin cenderung berwarna cerah dengan semburat agak kekuningan dengan nilai L\*=75.37±0.35; a\*=-1.38±0.09 dan <inline-formula><tex-math id="math-5"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle b ^ { * } { = } 1 5 . 2 6 { \pm } 0 . 2 9 . \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> . <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-28">Khirzin et al. (2019)</xref> pengujian warna menghasilkan nilai L\* menyatakan tingkat kecerahan (<italic>lightness</italic>) dengan nilai 0 (hitam) -100 (putih), nilai <inline-formula><tex-math id="math-6"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle \mathfrak { a } ^ { * } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> menunjukkan tingkat kemerahan/kehijauan dengan nilai <inline-formula><tex-math id="math-7"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle \mathsf { a } ^ { * } + \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> maka ke arah merah dan jika <inline-formula><tex-math id="math-8"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle \mathtt { a } ^ { * _ { \mathrm { . } } } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> - ke arah hijau dan nilai <inline-formula><tex-math id="math-9"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle { \mathfrak { b } } ^ { * } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> menunjukkan tingkat kekuningan/kebiruan dengan nilai <inline-formula><tex-math id="math-10"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle { \mathfrak { b } } ^ { * } + \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> maka ke arah kuning dan <inline-formula><tex-math id="math-11"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle { \mathbf { b } } ^ { * _ { - } } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> ke arah biru. Karakteristik warna penelitian ini tidak jauh berbeda dengan penelitian <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-21">Gunawan et al. (2017)</xref> pada gelatin kulit ikan tenggiri yang memiliki nilai L\* sebesar 70,78, dengan nilai a\* dan b\* berturut-turut adalah 1,44 dan 19,34.</p><table-wrap id="table-1"><label>Tabel 1</label><caption><p>Karakteristik gelatin kulit ikan patin</p></caption><table><colgroup><col></col><col></col><col></col></colgroup><thead><tr><th scope="col">Parameters</th><th scope="col">Result</th><th scope="col">Gunawan et al. (2017)</th></tr></thead><tbody><tr><td>L*</td><td><inline-formula><tex-math id="math-12"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 75.37 \pm 0.35 \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td>70.78</td></tr><tr><td>a*</td><td><inline-formula><tex-math id="math-13"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle -1.38 \pm 0.09 \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td>1.44</td></tr><tr><td>b*</td><td><inline-formula><tex-math id="math-14"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 15.26 \pm 0.29 \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td>19.34</td></tr><tr><td>Yield (%)</td><td><inline-formula><tex-math id="math-15"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 14.83 \pm 0.63 \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td>6.61</td></tr><tr><td>Viscosity (cP)</td><td><inline-formula><tex-math id="math-16"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 12.48 \pm 0.55 \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td>5.51</td></tr><tr><td>Gel strength (bloom)</td><td><inline-formula><tex-math id="math-17"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 398.70 \pm 34.76 \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td>70.81</td></tr></tbody></table></table-wrap><p>Rendemen merupakan parameter untuk mengetahui nilai ekonomis suatu produk. Perhitungan rendemen merupakan perbandingan berat gelatin kering yang dihasilkan dari bahan baku. Hasil perhitungan rendemen gelatin yang diperoleh pada penelitian ini tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nasution <italic>et al</italic>. (<xref ref-type="bibr" rid="BIBR-34">2018</xref>) yang menunjukkan ekstraksi gelatin dengan proses asam menghasilkan rendemen sebesar 14,94%. Nilai rendemen yang dihasilkan penelitian ini lebih tinggi dibandingkan dengan gelatin ikan patin dari jenis <italic>Pangasius sutchi</italic> yaitu sebesar 10,78% <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-49">(See et al., 2010)</xref> dan 11,17% <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-24">(Jamilah et al., 2011)</xref>.</p><p>Hasil pengukuran viskositas gelatin kulit ikan patin menunjukkan nilai yang tinggi berdasarkan standar dari <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-19">GMIA (2019)</xref> yaitu 1,5–7,5 cP. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-52">Trilaksani et al. (2012)</xref> melaporkan bahwa konsentrasi larutan asam yang berbeda memengaruhi berat molekul gelatin yang dihasilkan. Asam dapat memecah ikatan protein menjadi ikatan sekunder, yang berarti rantai asam amino pada protein yang direndam semakin pendek sedangkan jumlah molekul protein yang dihasilkan semakin banyak. Hal ini akan memengaruhi viskositas gelatin yang dibuat. Menurut <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-40">(Pantow et al., 2015)</xref>, kadar air gelatin berhubungan dengan viskositas larutan gelatin. Semakin banyak air yang terikat oleh gelatin, semakin kental gel, yang berdampak langsung pada nilai viskositas yang diukur. Penelitian gelatin kulit ikan patin mendapatkan hasil kekuatan gel yang menunjukkan tingkat kekuatan gel yang sangat tinggi berdasarkan <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-19">GMIA (2019)</xref> yaitu 50–300 bloom, kekuatan gel tergantung pada konsentrasi gelatin, kekuatan intrinsik gelatin, pH, suhu, dan adanya bahan tambahan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kekuatan gel kulit ikan patin lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-21">Gunawan et al. (2017)</xref> yang mengukur kekuatan gel gelatin dari kulit ikan tenggiri dan memperoleh data sebesar 70,81±5,44 bloom. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-51">Tinrat &amp; Sila-Asna (2017)</xref> melaporkan kekuatan gel kulit dan tulang ikan nila masing-masing mencapai 860,50 dan 295,40 bloom. Hal ini menunjukkan kekuatan gel gelatin bisa sangat bervariasi tergantung banyak faktor termasuk jenis spesies atau bahan baku yang digunakan. Kekuatan gel merupakan salah satu sifat fisikokimia yang sangat penting untuk menentukan kualitas gelatin baik atau buruk karena berkaitan dengan fungsi utama gelatin sebagai pengemulsi.</p></sec><sec id="sec-9"><title>Karakteristik Kadar Air dan Protein Panna Cotta</title><p>Karakteristik kimia <italic>panna cotta</italic> dievaluasi melalui analisis kadar air dan protein. Analisis kedua parameter tersebut dilakukan untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi gelatin terhadap karakteristik air dan protein <italic>panna cotta</italic>. Kadar air dan protein <italic>panna cotta</italic> dengan konsentrasi gelatin yang berbeda disajikan pada <xref ref-type="table" rid="table-1">Table 2</xref>.</p><p><italic>panna cotta</italic></p><table-wrap id="table-2"><label>Tabel 2</label><caption><p>Kadar air dan protein  dengan konsentrasi gelatin yang berbeda</p></caption><table><colgroup><col></col><col></col><col></col></colgroup><thead><tr><th scope="col">Gelatin concentration (%)</th><th scope="col">Moisture content (%)</th><th scope="col">Protein content (%)</th></tr></thead><tbody><tr><td>1.5</td><td><inline-formula><tex-math id="math-18"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 72.49±0.25^b \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-19"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 4.84±0.15^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td></tr><tr><td>2</td><td><inline-formula><tex-math id="math-20"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 71.32±0.51^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-21"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 5.31±0.18^b \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td></tr><tr><td>2.5</td><td><inline-formula><tex-math id="math-22"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 70.94±0.018^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-23"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 5.61±0.01^b \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td></tr></tbody></table><table-wrap-foot><p>Diferent superscript at the same column indicates significant diferences (p&lt;0.05).</p></table-wrap-foot></table-wrap><p>Hasil analisis statistika menunjukkan bahwa penggunaan gelatin kulit ikan dengan berbagai konsentrasi memberikan pengaruh yang nyata (p&lt;0,05) terhadap kadar air dan protein <italic>panna cotta</italic>. Kadar air tertinggi ditunjukkan pada <italic>panna cotta</italic> dengan kadar gelatin 1,5%. Perlakuan konsentrasi 1,5% berbeda nyata (p&lt;0,05) dengan konsentrasi 2% dan 2,5%, sedangkan penambahan gelatin kulit ikan patin dengan konsentrasi 2% dan 2,5% memberikan hasil yang tidak berbeda nyata (p&gt;0,05). Hasil tersebut disebabkan karena konsentrasi gelatin 1,5% menyebabkan jaringan kurang kuat dalam menahan cairan pada produk yang menyebabkan sineresis dan menghasilkan kadar air yang lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi 2% dan 2,5%. Hasil pengujian kadar air <italic>panna cotta</italic> ini lebih rendah dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-22">Handani et al.(2016)</xref> menggunakan gelatin dari kulit sapi dengan kadar air <italic>panna cotta</italic> berkisar antara 75,79% sampai dengan 80,14%, hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi gelatin memberikan pengaruh yang nyata terhadap kadar air <italic>panna cotta</italic>. Kadar air pada <italic>panna cotta</italic> dari gelatin sapi menunjukkan kadar air yang lebih tinggi kemungkinan karena kemampuan mengikat air pada gelatin sapi lebih tinggi dibandingkan pada gelatin dari kulit ikan.</p><p>Hasil kadar protein menggunakan gelatin dengan konsentrasi yang berbeda pada <italic>panna cotta</italic> memberikan pengaruh yang nyata (p&lt;0,05), konsentrasi 1,5% berbeda nyata dengan konsentrasi 2% dan 2,5%. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan gelatin dengan konsentrasi 1,5% memiliki rata-rata kadar protein paling rendah dan konsentrasi 2,5% memiliki rata-rata kadar protein paling tinggi, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan 2%. Semakin tinggi konsentrasi gelatin maka kadar proteinnya juga semakin tinggi, hal ini karena gelatin merupakan protein, sehingga makin banyak gelatin yang ditambahkan tentunya akan mempengaruhi kadar proteinnya yang juga akan makin tinggi. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-41">Pertiwi et al. (2018)</xref> melaporkan kandungan protein gelatin dari tulang ikan patin dengan perlakuan asam sitrat mencapai 58,7%. Hasil penelitian <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-34">Nasution et al. (2018)</xref> pada kulit ikan patin menghasilkan gelatin dengan metode asam dan basa mengandung protein masing-masing 97,71 dan 91,92%. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-39">Oktaviani et al. (2017)</xref> melaporkan kadar protein gelatin kulit ikan patin mencapai 88,38%. Tingginya kandungan protein pada gelatin kulit ikan akan mempengaruhi kandungan protein pada <italic>panna cotta</italic>.</p></sec><sec id="sec-10"><title>Karakteristik Tekstur Panna Cotta</title><p>Tekstur merupakan salah satu parameter fisik yang berkaitan dengan karakteristik produk. Analisis tekstur dilakukan untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi gelatin terhadap karakteristik tekstur <italic>panna cotta</italic>. Hasil profil tekstur <italic>panna cotta</italic> disajikan pada <xref ref-type="table" rid="table-3">Table 3</xref>.</p><p><italic>panna cotta</italic></p><table-wrap id="table-3"><label>Tabel  3</label><caption><p>Profil tekstur  dengan konsentrasi gelatin yang berbeda</p></caption><table><colgroup><col></col><col></col><col></col><col></col></colgroup><thead><tr><th scope="col" rowspan="2">Parameters</th><th scope="col" colspan="3">Gelatin concentration (%)</th></tr><tr><th scope="col">1.5</th><th scope="col">2.0</th><th scope="col">2.5</th></tr></thead><tbody><tr><td>Hardness</td><td><inline-formula><tex-math id="math-24"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 0.22±0.012^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-25"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 0.31±0.009^b \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-26"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 0.69±0.022^c \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td></tr><tr><td>Cohesiveness</td><td><inline-formula><tex-math id="math-27"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 0.09±0.017^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-28"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 0.16±0.022^b \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-29"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 0.20±0.007^b \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td></tr><tr><td>Springiness</td><td><inline-formula><tex-math id="math-30"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 3.65±0.205^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-31"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 6.26±0.065^b \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-32"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 8.66±0.032^c \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td></tr><tr><td>Gumminess</td><td><inline-formula><tex-math id="math-33"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 0.02±0.003^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-34"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 0.05±0.007^b \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-35"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 0.14±0.004^c \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td></tr><tr><td>Chewiness</td><td><inline-formula><tex-math id="math-36"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 0.07±0.009^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-37"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 0.33±0.451^b \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-38"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 1.24±0.395^c \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td></tr><tr><td>Fracture force</td><td><inline-formula><tex-math id="math-39"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 0.18±0.038^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-40"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 0.27±0.067^{ab} \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-41"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 0.35±0.06^b \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td></tr><tr><td>Adhesiveness</td><td><inline-formula><tex-math id="math-42"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle -0.006±0.045^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-43"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 0.07±0.063^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-44"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 0.08±0.017^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td></tr></tbody></table><table-wrap-foot><p>Diferent superscript at the same column indicates significant diferences (p&lt;0.05).</p></table-wrap-foot></table-wrap><p>Perbedaan konsentrasi gelatin memberikan pengaruh yang nyata (p&lt;0,05) terhadap seluruh parameter profil tesktur kecuali pada parameter <italic>adhesiveness</italic> (p&gt;0,05). Konsentrasi gelatin 1,5% memiliki nilai hardness/kekerasan paling rendah, dan konsentrasi gelatin 2,5% memiliki nilai kekerasan paling tinggi. Hasil nilai kekerasan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-22">Handani et al. (2016)</xref> menyatakan bahwa kekerasan <italic>panna cotta</italic> berkisar antara 0,008 kgf sampai dengan 0,026 kgf. Kekerasan merupakan salah satu faktor utama yang dapat memengaruhi tekstur <italic>panna cotta</italic>, dan menjadi parameter utama yang dipersepsikan oleh konsumen sebagai faktor penentu penerimaan konsumen terhadap produk <italic>panna cotta</italic>. Nilai kekerasan yang semakin tinggi seiring dengan peningkatan konsentrasi gelatin disebabkan oleh semakin banyaknya polimer dalam matrik gel yang menyebabkan ikatan silang yang terbentuk semakin rapat. Ikatan silang yang semakin rapat menyebabkan matriks gel yang terbentuk semakin kuat sehingga produk menjadi lebih padat.</p><p><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-6">Badii &amp; Howell (2006)</xref> melaporkan bahwa ikatan hidrogen antara molekul air dan gugus hidroksil bebas asam amino berperan dalam memengaruhi kekuatan gel gelatin serta menstabilkan heliks rangkap tiga dan ikatan hidrogen antar rantai juga terjadi antara rantai polipeptida. Ikatan-ikatan tersebut yang berperan pula dalam pembentukan gel <italic>panna cotta</italic> yang ditambah dengan gelatin. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-42">Pradnyasari et al. (2019)</xref> menyatakan bahwa produk yang kompak menyebabkan kemampuannya menahan tekanan semakin besar sehingga dibutuhkan gaya yang besar untuk menekan produk tersebut agar nilai kekerasannya meningkat.</p><p>Hasil parameter cohesiveness/ kohesivitas <xref ref-type="table" rid="table-3">(Table 3)</xref> menunjukkan bahwa penggunaan gelatin dengan konsentrasi yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata (p&lt;0,05). Nilai kohesivitas pada konsentrasi 1,5% memiliki nilai terendah dan konsentrasi 2,5% memiliki nilai tertinggi. Berdasarkan hasil tersebut, gelatin memiliki efektivitas yang tinggi dalam pembentukan gel. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-46">Rofikoh et al. (2021)</xref> menyatakan bahwa perbedaan hasil uji tekstur kohesivitas produk yang disimpan pada suhu dingin dipengaruhi oleh perlakuan yang diberikan, dimana gelatin dapat mempertahankan nilai kohesivitas produk. Gelatin memiliki pengaruh dalam meningkatkan kekuatan gel produk yang diikuti oleh kenaikan nilai kohesivitas. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-12">Cohen et al. (2013)</xref> melaporkan bahwa konsentrasi gelatin memengaruhi kepadatan ikatan silang dan berkontribusi pada kekuatan gel yang lebih tinggi, yang dicapai melalui mekanisme pengikatan mekanis dan adsorpsi kimia yang berpengaruh pada daya kohesivitasnya. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-44">Putri et al. (2022)</xref> melaporkan bahwa nilai kohesivitas yang rendah menunjukkan bahwa produk mudah dikunyah sehingga memiliki korelasi positif dengan penerimaan produk. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-10">Chandra &amp; Shamasundar (2015)</xref> menyatakan bahwa konsistensi nilai kohesivitas menunjukkan ikatan internal yang menyusun struktur pangan sejauh mana pangan tersebut dapat berubah bentuk sebelum pecah atau hancur.</p><p>Perbedaan konsentrasi gelatin memberikan pengaruh yang nyata (p&lt;0,05) pada parameter springiness/kekenyalan <italic>panna cotta</italic><xref ref-type="table" rid="table-3">(Table 3)</xref>. Konsentrasi gelatin 1,5% memiliki nilai kekenyalan paling rendah, dan konsentrasi gelatin 2,5% memiliki nilai kekenyalan paling tinggi. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-33">Nakatomi et al. (2023)</xref> menyatakan bahwa sensasi kekerasan berkorelasi positif dengan sensasi kekenyalan pada agar dan gel gelatin. Kekenyalan merupakan parameter tekstur yang berhubungan dengan elastisitas produk pangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kekenyalan meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi gelatin. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-5">Asgarzadeh et al. (2021)</xref> melaporkan bahwa kekenyalan dapat ditingkatkan dengan meningkatkan persentase gelatin ikan. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-31">Maryani et al. (2010)</xref> menambahkan bahwa hal ini dikarenakan konsentrasi gelatin yang tinggi akan meningkatkan kemampuan pembentukan gel sehingga produk lebih kenyal. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-6">Badii &amp; Howell (2005)</xref> melaporkan bahwa proses pembentukan gel ini terutama dipengaruhi oleh ikatan non-kovalen, khususnya ikatan hidrogen antara gugus amino, karbonil, dan hidroksil pada molekul gelatin serta interaksi hidrofobik, gaya elektrostatik, dan gaya van der Waals turut membantu menstabilkan jaringan gel yang terbentuk, sehingga jaringan tiga dimensi tersebut mampu memerangkap molekul air di dalamnya sehingga menghasilkan tekstur semi padat yang elastis. Hasil pengujian profil tekstur kekenyalan pada penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-7">Bahar et al. (2017)</xref> yang menunjukkan persentase gelatin ikan tertinggi menghasilkan nilai kekenyalan paling tinggi dan nilai kekenyalan semakin menurun dengan menurunnya kadar persentase gelatin.</p><p>Konsentrasi gelatin kulit ikan yang berbeda memiliki pengaruh yang nyata (p&lt;0,05) terhadap parameter <italic>gumminess</italic><xref ref-type="table" rid="table-3">(Table 3)</xref><italic>panna cotta</italic>. Hasil uji lanjut beda nyata jujur menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi 1,5%, 2%, dan 2,5% berbeda nyata (p&lt;0,05). Hasil yang diperoleh dari nilai <italic>gumminess</italic> mengacu pada gaya yang diberikan pada sampel semi padat dan dihitung sebagai kekerasan dikalikan dengan kohesivitas. <italic>Panna cotta</italic> dengan konsentrasi 1,5% memiliki rata-rata <italic>gumminess</italic> terendah dan konsentrasi 2,5% memiliki ratarata <italic>gumminess</italic> tertinggi. Semakin tinggi konsentrasi gelatin, semakin tinggi nilai <italic>gumminess</italic>. <italic>Gumminess</italic> berhubungan dengan kadar air produk. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-30">Kusumaningrum et al. (2016)</xref> menyatakan bahwa nilai <italic>gumminess</italic> yang tinggi disebabkan oleh semakin banyaknya campuran gelatin yang digunakan. Nilai <italic>gumminess</italic> berhubungan positif dengan nilai kekerasan, dimana nilai <italic>gumminess</italic> akan meningkat seiring dengan meningkatnya nilai kekerasan. Gel gelatin terbentuk melalui transisi untai tunggal (single helix) ke heliks rangkap tiga (triple helix) dari rantai gelatin melalui interaksi ionik, ikatan hidrogen, gaya van der Waals dan asosiasi hidrofobik <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-54">(Zhao et al., 2021)</xref>.</p><p>Penggunaan gelatin dengan konsentrasi yang berbeda memberikan pengaruh yang signifikan (p&lt;0,05) terhadap chewiness <xref ref-type="table" rid="table-3">(Table 3)</xref><italic>panna cotta</italic>. Nilai chewiness tertinggi terdapat pada konsentrasi gelatin 2,5% dan nilai chewiness terendah terdapat pada konsentrasi gelatin 1,5%. Nilai chewiness <italic>panna cotta</italic> jauh lebih rendah dibandingkan dengan nilai chewiness jelly pada penelitian <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-53">Yusof et al. (2019)</xref> yaitu nilai chewiness jelly 8,73 kgf.mm. Nilai chewiness <italic>panna cotta</italic> lebih rendah karena pada dasarnya <italic>panna cotta</italic> bukanlah produk pangan yang perlu dikunyah karena memiliki konsep melt in mouth. Nilai chewiness <italic>panna cotta</italic> meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi gelatin. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-2">Ann et al. (2012)</xref> melaporkan bahwa peningkatan konsentrasi gelatin pada produk akan meningkatkan nilai chewiness. Hal ini dikarenakan gelatin akan memberikan sifat kenyal seperti karet dengan cara memerangkap air dan membentuk gel, sehingga semakin tinggi konsentrasi gelatin akan membuat produk tersebut memerlukan kekuatan yang lebih besar untuk dikunyah. Jumlah kadar air memengaruhi daya kunyah dan chewiness. Produk dengan kadar air rendah akan menghasilkan produk yang lebih kenyal. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-7">Bahar et al. (2017)</xref> menyatakan bahwa chewiness dapat diukur sebagai fungsi aktivitas air, chewiness meningkat seiring dengan peningkatan kandungan padatan.</p><p>Konsentrasi gelatin pada <italic>panna cotta</italic> memberikan pengaruh yang nyata (p&lt;0,05) pada <italic>fracture force</italic><italic>panna cotta</italic><xref ref-type="table" rid="table-3">(Table 3)</xref>. Nilai <italic>fracture force</italic> terendah terdapat pada konsentrasi 1,5% dan nilai tertinggi pada konsentrasi 2,5%. Nilai <italic>fracture force</italic> akan semakin tinggi seiring dengan meningkatnya konsentrasi gelatin pada <italic>panna cotta</italic>. Hal ini dikarenakan gelatin memiliki sifat hidrokoloid yang membuatnya mampu membentuk jaringan yang padat dan kenyal. Seiring dengan meningkatnya konsentrasi gelatin pada produk, maka terjadi peningkatan yang sebanding pada densitas dan kekenyalan produk. Penambahan gelatin pada produk pangan dapat meningkatkan <italic>fracture force</italic> produk karena terbentuknya jaringan yang lebih padat dan kuat.</p><p>Hasil uji <italic>fracture force</italic><italic>panna cotta</italic> cenderung rendah karena pada dasarnya <italic>panna cotta</italic> bukanlah produk pangan yang perlu dikunyah. Peningkatan konsentrasi gelatin pada suatu produk menyebabkan terbentuknya jaringan gel yang semakin rapat dan kuat, sehingga densitas dan kekenyalan produk meningkat secara sebanding. Semakin banyak gelatin yang ditambahkan, jumlah rantai polipeptida yang berinteraksi melalui ikatan hidrogen, interaksi hidrofobik, dan gaya elektrostatik juga semakin besar. Hal ini menghasilkan lebih banyak <italic>junction zones</italic> atau titik pertemuan antarrantai protein yang membentuk matriks tiga dimensi yang lebih padat. Jaringan gel yang lebih kompak mampu mengikat dan menahan air dengan lebih baik serta mengurangi ruang kosong di dalam struktur produk, sehingga densitas meningkat. Struktur yang semakin kuat menyebabkan produk menjadi lebih elastis dan memerlukan gaya yang lebih besar untuk dipatahkan atau ditekan. Oleh karena itu, penambahan gelatin dapat meningkatkan <italic>fracture force</italic> produk karena jaringan protein yang terbentuk menjadi lebih kokoh, stabil, dan tahan terhadap deformasi mekanik <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-20">(Gudmundsson, 2002</xref>; <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-25">Karim &amp; Bhat, 2009)</xref>. Nishinari (2018) menyatakan bahwa kekerasan produk dapat bervariasi dari rendah hingga tinggi. Material yang getas, terutama bila memiliki tingkat kekerasan yang tinggi, sering kali menimbulkan bunyi ketika dikunyah.</p><p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa <italic>adhesiveness</italic><italic>panna cotta</italic><xref ref-type="table" rid="table-3">(Table 3)</xref> tidak terdapat pengaruh yang nyata dari berbagai konsentrasi gelatin (p&gt;0,05). Nilai rerata <italic>adhesiveness</italic> tertinggi terdapat pada konsentrasi 2,5% dan nilai <italic>adhesiveness</italic> terendah terdapat pada konsentrasi 1,5%. <italic>Adhesiveness</italic> merupakan usaha yang diperlukan untuk mengatasi gaya tarikmenarik antara permukaan makanan dengan permukaan bahan lain yang kontak dengan makanan, misalnya lidah, gigi, dan langitlangit. Nilai <italic>adhesiveness</italic> sedikit meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi gelatin. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-11">Chrisella et al. (2015)</xref> menyatakan bahwa hal ini disebabkan oleh gelatin karena memiliki kemampuan untuk mengikat air dan membentuk struktur produk, sehingga ikatan internal yang terbentuk pada produk akan tinggi dan meningkatkan nilai daya lekat. Ikatan internal yang terbentuk pada produk dengan penambahan gelatin terutama adalah ikatan hidrogen, disertai interaksi hidrofobik, gaya elektrostatik, dan gaya van der Waals antarrantai protein gelatin. Di antara semuanya, ikatan hidrogen merupakan ikatan yang paling dominan dalam pembentukan gel dan peningkatan daya lekat <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-25">(Karim dan Bhat, 2009)</xref>. Hasil <italic>adhesiveness</italic> akan menunjukkan nilai positif apabila produk memiliki <italic>adhesiveness</italic> yang rendah. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-10">Chandra &amp; Shamasundar (2015)</xref> melaporkan bahwa nilai <italic>adhesiveness</italic> yang semakin tinggi menunjukkan tekstur yang lembut dan dapat digunakan untuk pembuatan makanan penutup tertentu. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-37">Nishinari (2018)</xref> menyatakan bahwa nilai daya rekat menurun seiring dengan meningkatnya nilai kekerasan, namun hal tersebut tidak berarti bahwa daya rekat dan kekerasan selalu berbanding terbalik.</p></sec><sec id="sec-11"><title>Karakteristik Warna Panna Cotta</title><p>Warna merupakan salah satu parameter fisik yang berkaitan dengan penampakan produk. Analisis warna dilakukan untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi gelatin terhadap karakteristik warna <italic>panna cotta</italic>. Karakteristik warna <italic>panna cotta</italic> dengan konsentrasi gelatin yang berbeda disajikan pada<italic></italic><xref ref-type="table" rid="table-4">Table 4</xref>.</p><p><italic>panna cotta</italic></p><table-wrap id="table-4"><label>Tabel 4</label><caption><p>Karakteristik warna  dengan konsentrasi gelatin yang berbeda</p></caption><table><colgroup><col></col><col></col><col></col><col></col></colgroup><thead><tr><th scope="col" rowspan="2">Parameters</th><th scope="col" colspan="3">Gelatin concentration (%)</th></tr><tr><th scope="col">1.5</th><th scope="col">2.0</th><th scope="col">2.5</th></tr></thead><tbody><tr><td><inline-formula><tex-math id="math-45"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle L^* \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-46"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 43.04±3.39^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-47"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 42.33±0.98^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-48"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 43.42±0.82^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td></tr><tr><td><inline-formula><tex-math id="math-49"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle a^* \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-50"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle -0.48±0.16^b \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-51"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle -0.65±0.03^{ab} \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-52"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle -0.81±0.06^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td></tr><tr><td><inline-formula><tex-math id="math-53"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle b^* \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-54"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 6.15±0.39^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-55"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 6.43±0.15^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-56"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 6.42±0.22^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td></tr></tbody></table><table-wrap-foot><p>Diferent superscript at the same column indicates significant diferences (p&lt;0.05).</p></table-wrap-foot></table-wrap><p>Konsentrasi gelatin yang berbeda tidak berpengaruh nyata pada L\* dan b\* (p&gt;0,05), namun berpengaruh nyata pada nilai a\* (kemerahan/kehijauan) (p&lt;0,05) <italic>panna cotta</italic>. Uji warna pada <italic>panna cotta</italic> menunjukkan hasil L\* (kecerahan) yang tidak berbeda nyata antar konsentrasi 1,5%, 2%, dan 2,5%. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-50">Sinaga (2019)</xref> menjelaskan bahwa notasi L\* menunjukkan nilai 0 adalah hitam dan nilai 100 adalah putih, pantulan cahaya yang menghasilkan warna akromatik putih, abuabu dan hitam. Hasil tersebut menunjukkan bahwa warna pada <italic>panna cotta</italic> tidak terlalu cerah karena memiliki nilai di bawah 50 dan lebih rendah dari penelitian <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-22">Handani et al. (2016)</xref>, yaitu nilai <italic>lightness</italic><italic>panna cotta</italic> berkisar 94,1-94,8. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-16">Febrianti et al. (2023)</xref> melaporkan bahwa gelatin memiliki warna yang cenderung kuning jernih sehingga saat ditambahkan maka tingkat kecerahan produk juga semakin menurun. Semakin tinggi nilai <inline-formula><tex-math id="math-57"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle \mathrm { L } ^ { \ast } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> yang dihasilkan, maka semakin terang warna sampel uji.</p><p>Hasil uji warna <inline-formula><tex-math id="math-58"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle \mathtt { a } ^ { * } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> (kemerahan/ kehijauan) pada produk <italic>panna cotta</italic> dengan konsentrasi 1,5% berbeda nyata dengan konsentrasi 2,5%. Nilai - <inline-formula><tex-math id="math-59"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle { \mathfrak { - a } } ^ { * } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> semakin tinggi seiring dengan bertambahnya konsentrasi gelatin. Khirzin <italic>et al</italic>. (2019) menjelaskan bahwa nilai <inline-formula><tex-math id="math-60"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle \mathtt { a } ^ { * } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> menunjukkan warna kemerahan/ kehijauan dengan nilai jika <inline-formula><tex-math id="math-61"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle \mathsf { a } ^ { \ast } + \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> maka ke arah merah dan jika ake arah hijau. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-50">Sinaga (2019)</xref> menjelaskan bahwa notasi <inline-formula><tex-math id="math-62"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle \mathfrak { a } ^ { * } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> pada warna kromatik campuran merah-hijau dengan nilai <inline-formula><tex-math id="math-63"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle \mathbf { + a ^ { * } } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> (positif) dari 0 sampai +80 untuk warna merah dan nilai <inline-formula><tex-math id="math-64"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle { \mathfrak { - a } } ^ { * } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> (negatif) dari 0 sampai -80 untuk warna hijau. <italic>Panna cotta</italic> menunjukkan kecenderungan berwarna agak kehijauan karena nila <inline-formula><tex-math id="math-65"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle \mathtt { a } ^ { * } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> negative (-). <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-32">Milovanovic et al. (2020)</xref> menjelaskan bahwa hal tersebut disebabkan oleh kemungkinan adanya perubahan kimia pada susu (kandungan karotenoid, protein, dan riboflavin). Parameter <inline-formula><tex-math id="math-66"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle \mathfrak { a } ^ { * } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> dipengaruhi oleh faktor-faktor yang terkait dengan jumlah pigmen susu alami. Parameter kemerahan cenderung menjadi lebih hijau seiring bertambahnya waktu pemerahan. Misalnya, keju dari susu sapi memiliki nilai <inline-formula><tex-math id="math-67"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle \mathtt { a } ^ { * } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> negatif tertinggi karena bagian kromatisitas warna hijaunya, yang disebabkan oleh adanya pigmen biru-hijau (biliverdin).</p><p>Hasil uji warna <inline-formula><tex-math id="math-68"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle { \mathfrak { b } } ^ { * } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> (kekuningan/ kebiruan) pada produk <italic>panna cotta</italic> dengan konsentrasi 1,5%, 2%, dan 2,5% menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (<xref ref-type="fig" rid="figure-1">Figure 1</xref>). <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-50">Sinaga (2019)</xref> menjelaskan bahwa notasi <inline-formula><tex-math id="math-69"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle { \mathfrak { b } } ^ { * } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> merupakan warna kromatik campuran birukuning dengan nilai <inline-formula><tex-math id="math-70"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle + \mathbf { b } ^ { * } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> (positif) dari 0 sampai <inline-formula><tex-math id="math-71"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle + 7 0 \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> untuk kuning dan nilai <inline-formula><tex-math id="math-72"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle { \boldsymbol { - } } \mathbf { b } ^ { * } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> (negatif) dari 0 sampai -70 untuk biru. Berdasarkan hal tersebut, hasil uji warna produk <italic>panna cotta</italic> menunjukkan nilai <inline-formula><tex-math id="math-73"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle { \mathfrak { b } } ^ { * } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> (kekuningan/kebiruan) yang cenderung kekuningan. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-16">Febrianti et al. (2023)</xref> melaporkan hasil pengujian warna pada parameter <inline-formula><tex-math id="math-74"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle { \mathfrak { b } } ^ { * } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> (kekuningan/ kebiruan) mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan konsentrasi gelatin yang ditambahkan. Nilai <inline-formula><tex-math id="math-75"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle { \mathfrak { b } } ^ { * } \end{document} ]]></tex-math></inline-formula> berkisar antara -100 sampai +100 yang merepresentasikan warna biru hingga kuning. Jika nilai skala negatif, sampel cenderung berwarna biru, dan jika nilai skala positif, sampel cenderung berwarna kuning. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-22">Handani et al. (2016)</xref> menyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi gelatin juga menyebabkan warna kemerahan dan kekuningan semakin meningkat karena warna alami gelatin adalah putih kecoklatan. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-17">Futra et al. (2020)</xref> menjelaskan bahwa warna kekuningan pada susu disebabkan adanya berbagai protein yang terkandung dalam susu. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-32">Milovanovic et al. (2020)</xref> melaporkan bahwa warna kekuningan pada susu disebabkan oleh karoten (likopen), vitamin A, and pigmen lainnya. Warna putih pada susu disebabkan oleh dispersi tetesan koloid lemak, kalsium kaseinat dan kalsium fosfat, dan bahan utama yang memberikan warna kekuningan adalah karoten dan riboflavin.</p><fig id="figure-2"><label>Gambar 2</label><caption><p>Panna cotta dengan konsentrasi gelatin (%) yang berbeda; (A) 1,5, (B) 2,0, (C) 2,5</p></caption><graphic xlink:href="https://journal.ipb.ac.id/jphpi/article/download/64236/version/45342/34118/417561" mime-subtype="png" mimetype="image"><alt-text>Gambar 2</alt-text></graphic></fig></sec><sec id="sec-12"><title>Karakteristik Hedonik Panna Cotta</title><p>Karakteristik sensoris <italic>panna cotta</italic> dievaluasi melalui uji hedonik. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap produk pada berbagai konsentrasi gelatin. Nilai hedonik <italic>panna cotta</italic> dengan konsentrasi gelatin yang berbeda dapat dilihat pada <xref ref-type="table" rid="table-5">Table 5</xref>.</p><p><italic>panna cotta</italic></p><table-wrap id="table-5"><label>Table 5</label><caption><p>Nilai hedonik  dengan konsentrasi gelatin yang berbeda</p></caption><table><colgroup><col></col><col></col><col></col><col></col><col></col></colgroup><thead><tr><th scope="col" rowspan="2">Gelatin concentration (%)</th><th scope="col" colspan="4">Parameters</th></tr><tr><th scope="col">Taste</th><th scope="col">Appearance</th><th scope="col">Odor</th><th scope="col">Texture</th></tr></thead><tbody><tr><td>1.5</td><td><inline-formula><tex-math id="math-76"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 8.00±0.90^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-77"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 7.80±0.76^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-78"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 7.60±0.85^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-79"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 7.77±0.85^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td></tr><tr><td>2.0</td><td><inline-formula><tex-math id="math-80"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 7.67±0.88^{ab} \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-81"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 7.87±0.62^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-82"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 7.40±1.00^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-83"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 7.57±0.93^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td></tr><tr><td>2.5</td><td><inline-formula><tex-math id="math-84"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 7.27±1.25^b \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-85"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 7.63±0.85^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-86"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 7.30±0.98^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td><td><inline-formula><tex-math id="math-87"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle 7.30±1.20^a \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></td></tr></tbody></table><table-wrap-foot><p>Diferent superscript at the same column indicates significant diferences (p&lt;0.05); 1=dislike extremely, 2=dislike very much, 3=dislike, 4=slightly dislike, 5=neutral, 6=slightly like, 7=like, 8=like very much, 9=like extremely</p></table-wrap-foot></table-wrap><p>Parameter rasa pada <italic>panna cotta</italic> dengan penambahan konsentrasi gelatin yang berbeda semuanya memiliki nilai yang disukai hingga sangat disukai oleh konsumen. Hasil tersebut menyatakan bahwa konsentrasi gelatin kulit ikan patin yang berbeda cenderung memberikan pengaruh yang nyata terhadap karakteristik rasa <italic>panna cotta</italic> (p&lt;0,05). Nilai rata-rata parameter rasa tertinggi</p><p>Parameter kenampakan pada penilaian hedonik produk <italic>panna cotta</italic> dengan konsentrasi gelatin yang berbeda memiliki nilai yang menunjukkan produk tersebut disukai oleh konsumen. Hasil penilaian menunjukkan bahwa penggunaan gelatin dengan konsentrasi yang berbeda tidak memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kenampakan <italic>panna cotta</italic> (p&gt;0,05). Berdasarkan kenampakan <italic>panna cotta</italic> tidak begitu berbeda atau cenderung sama dan memiliki warna, bentuk, dan bersih jika dipandang oleh mata. Tidak adanya perbedaan nyata pada parameter kenampakan <italic>panna cotta</italic> dengan penambahan konsentrasi gelatin yang berbeda diduga karena gelatin merupakan bahan pembentuk gel yang umumnya bersifat bening hingga transparan serta tidak memiliki warna yang kuat, sehingga perubahan konsentrasi gelatin tidak banyak memengaruhi warna maupun tampilan visual produk. Gelatin lebih berperan dalam memengaruhi tekstur dan kekuatan gel dibandingkan kenampakan visual, sehingga panelis cenderung melihat seluruh sampe memiliki penampilan yang hampir sama. Oleh karena itu, perbedaan konsentrasi gelatin tidak menyebabkan perubahan yang cukup besar untuk dapat dibedakan secara signifikan oleh panelis pada uji hedonik kenampakan. Nilai rata-rata parameter kenampakan tertinggi terdapat pada perlakuan <italic>panna cotta</italic> dengan konsentrasi 1,5% yaitu sebesar 7,80 (lebih disukai) karena berhubungan dengan nilai warna <italic>lightness</italic><italic>panna cotta</italic> yang paling baik sehingga warnanya cenderung terlihat lebih cerah. Kenampakan yang dilihat terdiri dari warna, bentuk produk, kebersihan produk. Berdasarkan hasil penilaian hedonik kenampakan <italic>panna cotta</italic> menunjukkan bentuk yang utuh, berwarna putih, dan bersih. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-1">Akbar et al. (2020)</xref> menjelaskan bahwa penampilan suatu produk pangan merupakan faktor penarik utama sebelum panelis menilai kualitas sensori lainnya seperti rasa, bau, dan tekstur. Secara umum, konsumen memilih pangan yang memiliki penampilan menarik.</p><p>Penilaian parameter aroma pada <italic>panna cotta</italic> dengan konsentrasi gelatin kulit ikan yang berbeda memiliki nilai yang menunjukkan produk tersebut disukai oleh konsumen. Hasil penilaian menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada aroma <italic>panna cotta</italic> dengan konsentrasi gelatin kulit ikan yang berbeda (p&gt;0,05). Nilai parameter aroma tertinggi terdapat pada <italic>panna cotta</italic> dengan konsentrasi 1,5% dan nilai terendah terdapat pada <italic>panna cotta</italic> dengan konsentrasi 2,5%. Nilai rata-rata parameter aroma tertinggi terdapat pada perlakuan <italic>panna cotta</italic> dengan konsentrasi 1,5% yaitu sebesar 7,60 (lebih disukai). Nilai aroma tertinggi pada <italic>panna cotta</italic> dengan konsentrasi gelatin 1,5% diduga berkaitan dengan kemampuan gelatin dalam membentuk struktur gel yang optimal, sehingga senyawa volatil penyusun aroma dapat terperangkap dan dilepaskan secara seimbang saat produk dikonsumsi. Konsentrasi gelatin yang tepat mampu menghasilkan tekstur yang stabil tanpa terlalu padat, sehingga aroma khas bahan penyusun <italic>panna cotta</italic> tetap dapat terdeteksi dengan baik oleh panelis. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-36">Ningsih &amp; Noerhartati (2013)</xref> menyatakan bahwa nilai parameter aroma tertinggi terdapat pada perlakuan <italic>panna cotta</italic> dengan konsentrasi 1,5% yaitu sebesar 7,60 (lebih disukai). <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-36">Ningsih &amp; Noerhartati (2019)</xref> menyatakan bahwa parameter aroma merupakan faktor penting bagi konsumen untuk memilih produk pangan karena dapat dijadikan sebagai indikator penting dalam menentukan kualitas bahan pangan. Umumnya konsumen akan menyukai bahan pangan yang memiliki aroma khas dan tidak menyimpang dari aroma normal. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-43">Puspitasari et al. (2022)</xref> melaporkan bahwa aroma suatu pangan dapat menimbulkan senyawa cita rasa dari pangan. Aroma yang terkandung dalam produk pangan dapat memengaruhi indra pengecap dalam mengecap cita rasa lain sesuai dengan aroma pangan tersebut.</p><p>Parameter tekstur pada <italic>panna cotta</italic> dengan berbagai konsentrasi gelatin kulit ikan secara keseluruhan memiliki nilai yang menunjukkan produk tersebut disukai oleh konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada tekstur <italic>panna cotta</italic> dengan berbagai konsentrasi gelatin kulit ikan (p&gt;0,05). Tekstur <italic>panna cotta</italic> dinilai saat <italic>panna cotta</italic> diambil menggunakan sendok dan saat <italic>panna cotta</italic> masuk ke mulut, karena teksturnya meleleh di mulut. Nilai rata-rata parameter tekstur tertinggi terdapat pada perlakuan <italic>panna cotta</italic> dengan konsentrasi 1,5% yaitu sebesar 7,77 (lebih disukai), karena pada konsentrasi 1,5% <italic>panna cotta</italic> memiliki tekstur yang paling lembut dan dapat meleleh di mulut dengan baik. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-29">Kohyama (2020)</xref> melaporkan bahwa tekstur makanan dianggap sebagai karakteristik fisik makanan yang hanya dapat dirasakan oleh manusia, dimana hanya manusia yang dapat merasakan dan menggambarkan tekstur. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-47">Rustagi et al. (2020)</xref> menjelaskan bahwa tekstur makanan didasarkan pada beberapa parameter yaitu saat makanan dimasukkan ke dalam mulut atau dirasakan saat makanan berubah bentuk saat dikunyah dan dideteksi melalui beberapa indra.</p></sec></sec><sec id="sec-13"><title>KESIMPULAN</title><p>Penggunaan gelatin kulit ikan patin dengan konsentrasi yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata terhadap kadar air dan protein serta karakteristik tekstur <italic>panna cotta</italic>. <italic>Panna cotta</italic> dengan konsentrasi gelatin 1,5% terbukti memberikan hasil yang terbaik dilihat dari karakteristik <italic>panna cotta</italic> yang sangat lembut, dapat meleleh dimulut, tetapi masih dapat mempertahankan bentuknya, memiliki kadar air yang tinggi, berwarna putih cerah agak kekuningan, dan memiliki nilai kesukaan paling tinggi oleh panelis.</p></sec></body><back><ref-list><title>DAFTAR PUSTAKA</title><ref id="BIBR-1"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Pengaruh jenis dan kosentrasi daging ikan terhadap mutu organoleptik bubur ikan</article-title><source>Jurnal Biosainstek</source><volume>2</volume><issue>01</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Akbar</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Tangke</surname><given-names>U.</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>33</fpage><lpage>39</lpage><page-range>33-39</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.52046/biosainstek.v2i01.454.33-39</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-2"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak bit merah dan gelatin terhadap sifat fisikokimia dan organoleptik bit marshmallow</article-title><source>Jurnal Teknologi Pangan dan Gizi (Journal of Food Technology and Nutrition</source><volume>11</volume><issue>2</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Ann</surname><given-names>K.C.</given-names></name><name><surname>Suseno</surname><given-names>T.I.P.</given-names></name><name><surname>Utomo</surname><given-names>A.R.</given-names></name></person-group><year>2012</year><fpage>27</fpage><lpage>35</lpage><page-range>27-35</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-3"><element-citation publication-type="book"><article-title>Official methods of analysis of the association of official analytical chemist</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>Analytical Chemist</surname><given-names>A.O.A.C.] Association</given-names></name></person-group><year>2005</year><publisher-name>Association of Official Analytical Chemist</publisher-name></element-citation></ref><ref id="BIBR-4"><element-citation publication-type="journal"><article-title>The effect of red tilapia bone gelatin powder addition on preference level of panna cotta</article-title><source>Wo r l d Scientific News</source><volume>115</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Ardiansyah</surname><given-names>A.</given-names></name><name><surname>Junianto</surname><given-names>J.</given-names></name><name><surname>Kurniawati</surname><given-names>N.</given-names></name><name><surname>Rochima</surname><given-names>E.</given-names></name></person-group><year>2019</year><fpage>68</fpage><lpage>90</lpage><page-range>68-90</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-5"><element-citation publication-type="journal"><article-title>The Effects of benthosema pterotum gelatin replacement on physicochemical, textural and sensory properties of pastille</article-title><source>Iranian Journal of Fisheries Sciences</source><volume>20</volume><issue>6</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Asgarzadeh</surname><given-names>F.</given-names></name><name><surname>Choobkar</surname><given-names>N.</given-names></name><name><surname>Ataee</surname><given-names>M.</given-names></name></person-group><year>2021</year><fpage>1609</fpage><lpage>1625</lpage><page-range>1609-1625</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.22092/ijfs.2021.125399</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-6"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Fish gelatin: structure, gelling properties and interaction with egg albumen proteins</article-title><source>Food Hydrocolloids</source><volume>20</volume><issue>5</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Badii</surname><given-names>F.</given-names></name><name><surname>Howell</surname><given-names>N.K.</given-names></name></person-group><year>2006</year><fpage>630</fpage><lpage>640</lpage><page-range>630-640</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1016/j.foodhyd.2005.06.006</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-7"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Effect of added succinylated fish gelatin on the textural profile of stored sardine surimi gel</article-title><source>Asia Pacific Journal of Sustainable Agriculture, Food and Energy</source><volume>5</volume><issue>2</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Bahar</surname><given-names>M.I.N.</given-names></name><name><surname>Omosebi</surname><given-names>B.O.</given-names></name><name><surname>Ardiansyah</surname><given-names>A.</given-names></name><name><surname>Huda</surname><given-names>N.</given-names></name></person-group><year>2017</year><fpage>3</fpage><lpage>8</lpage><page-range>3-8</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-8"><element-citation publication-type="book"><article-title>Produksi perikanan budidaya menurut komoditas utama (ton) 2024</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>Statistik</surname><given-names>B.P.S.] Badan Pusat</given-names></name></person-group><year>2026</year><publisher-name>Badan Pusat Statistik</publisher-name></element-citation></ref><ref id="BIBR-9"><element-citation publication-type="book"><article-title>SNI 01-2346-2015. Pedoman pengujian sensori pada produk perikanan</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>Nasional</surname><given-names>B.S.N.] Badan Standardisasi</given-names></name></person-group><year>2015</year><publisher-name>Badan Standardisasi Nasional</publisher-name></element-citation></ref><ref id="BIBR-10"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Texture profile analysis and functional properties of gelatin from the skin of three species of fresh water fish</article-title><source>International Journal of Food Properties</source><volume>18</volume><issue>3</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Chandra</surname><given-names>M.V.</given-names></name><name><surname>Shamasundar</surname><given-names>B.A.</given-names></name></person-group><year>2015</year><fpage>572</fpage><lpage>584</lpage><page-range>572-584</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1080/10942912.2013.845787</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-11"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Pengaruh perbedaan penambahan rumput laut Eucheuma cotonii dan gelatin dengan berbagai konsentrasi terhadap sifat fisikokimia dan organoleptik permen jelly rumput laut</article-title><source>Jurnal Teknologi Pangan dan Gizi (Journal of Food Technology and</source><volume>Nutrition),14(1</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Chrisella</surname><given-names>A.</given-names></name><name><surname>Kusumawati</surname><given-names>N.</given-names></name><name><surname>Suseno</surname><given-names>T.I.P.</given-names></name></person-group><year>2015</year><fpage>38</fpage><lpage>45</lpage><page-range>38-45</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-12"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Gelatin–alginate novel tissue adhesives and their formulation–strength effects</article-title><source>Acta Biomaterialia</source><volume>9</volume><issue>11</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Cohen</surname><given-names>B.</given-names></name><name><surname>Pinkas</surname><given-names>O.</given-names></name><name><surname>Foox</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Zilberman</surname><given-names>M.</given-names></name></person-group><year>2013</year><fpage>9004</fpage><lpage>9011</lpage><page-range>9004-9011</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1016/j.actbio.2013.07.002</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-13"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Tingkat kesukaan minuman dari bubuk daun kersen dengan penambahan bubuk kunyit: The level of preference for beverage from cherry leaf powder with the addition of turmeric powder</article-title><source>Jurnal Gizi dan Kesehatan Bahasa Indonesia</source><volume>15</volume><issue>1</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Dewi</surname><given-names>S.P.</given-names></name><name><surname>Elvandari</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Sefrina</surname><given-names>L.R.</given-names></name></person-group><year>2023</year><fpage>13</fpage><lpage>22</lpage><page-range>13-22</page-range><ext-link xlink:href="https://jurnalgizi.unw.ac.id/index.php/JGK/article/view/332" ext-link-type="uri" xlink:title="332">332</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-14"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Kajian konsentrasi dan rasio gelatin dari kulit ikan patin dan kappa karagenan pada pembuatan jeli</article-title><source>Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia</source><volume>14</volume><issue>2</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Eveline</surname><given-names>Santoso</given-names></name><name><surname>J.</surname></name><name><surname>Widjaja</surname><given-names>I.</given-names></name></person-group><year>2011</year><fpage>98</fpage><lpage>105</lpage><page-range>98-105</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.17844/jphpi.v14i2.5318</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-15"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Pengaruh metode ekstraksi terhadap karakteristik kolagen dari kulit ikan patin (Pangasius pangasius</article-title><source>Jurnal FishtechH</source><volume>7</volume><issue>1</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Fabella</surname><given-names>N.</given-names></name><name><surname>Herpandi</surname><given-names>H.</given-names></name><name><surname>Widiastuti</surname><given-names>I.</given-names></name></person-group><year>2018</year><fpage>69</fpage><lpage>75</lpage><page-range>69-75</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.36706/fishtech.v7i1.5982</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-16"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Penggunaan gelatin kulit ikan cobia (Rachycentron canadum) untuk perbaikan karakteristik kulit buah buah naga merah</article-title><source>Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia</source><volume>26</volume><issue>2</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Febrianti</surname><given-names>A.A.</given-names></name><name><surname>Susanto</surname><given-names>E.</given-names></name><name><surname>Purnamayati</surname><given-names>L.</given-names></name><name><surname>Sumardianto</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Suharto</surname><given-names>S.</given-names></name></person-group><year>2023</year><fpage>177</fpage><lpage>190</lpage><page-range>177-190</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.17844/jphpi.v26i2.43392</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-17"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Pengaruh penggunaan pektin nabati dengan presentase yang berbeda terhadap warna dan tekstur yogurt susu sapi</article-title><source>Jurnal Teknologi Peternakan</source><volume>2</volume><issue>1</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Futra</surname><given-names>R.K.</given-names></name><name><surname>Setyawardani</surname><given-names>T.</given-names></name><name><surname>Astuti</surname><given-names>T.Y.</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>20</fpage><lpage>28</lpage><page-range>20-28</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.20884/1.angon.2020.2.1.p20-28</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-18"><element-citation publication-type="book"><article-title>Gelatine Manufacturers Institute of America</article-title><person-group person-group-type="author"><name name-style="given-only"><given-names>G.M.I.A.</given-names></name></person-group><year>2012</year><publisher-name>Gelatin Manufacturers Institute of America</publisher-name></element-citation></ref><ref id="BIBR-19"><element-citation publication-type="book"><article-title>Gelatine Manufacturers Institute of America</article-title><person-group person-group-type="author"><name name-style="given-only"><given-names>G.M.I.A.</given-names></name></person-group><year>2019</year><publisher-name>Gelatin Manufacturers Institute of America</publisher-name></element-citation></ref><ref id="BIBR-20"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Rheological properties of fish gelatins</article-title><source>Journal of Food Science</source><volume>67</volume><issue>6</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Gudmundsson</surname><given-names>M.</given-names></name></person-group><year>2002</year><fpage>2172</fpage><lpage>2176</lpage><page-range>2172-2176</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.24252/jfuinam.v12i1.38150</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-21"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Ekstraksi dan karakterisasi gelatin kulit ikan tenggiri (Scomberomorus commersonii) asal Provinsi Pulau Bangka Belitung</article-title><source>Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia</source><volume>20</volume><issue>3</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Gunawan</surname><given-names>F.</given-names></name><name><surname>Suptijah</surname><given-names>P.</given-names></name><name><surname>Uju</surname><given-names>U.</given-names></name></person-group><year>2017</year><fpage>568</fpage><lpage>581</lpage><page-range>568-581</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.36841/biogenic.v3i2.6682</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-22"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Pengaruh konsentrasi gelatin dan gula terhadap sifat fisikokimia dan organoleptik panna cotta</article-title><source>Jurnal Teknologi Pangan dan Gizi</source><volume>15</volume><issue>2</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Handani</surname><given-names>Y.</given-names></name><name><surname>Sutedja</surname><given-names>A.M.</given-names></name><name><surname>Trisnawati</surname><given-names>C.Y.</given-names></name></person-group><year>2016</year><fpage>72</fpage><lpage>78</lpage><page-range>72-78</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.33508/jtpg.v15i2.1536</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-23"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Pengaruh perbedaan suhu ekstraksi terhadap kekuatan gel, viskositas, dan rendemen gelatin ceker ayam kampung</article-title><volume>Zootec,41(2</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Hido</surname><given-names>F.</given-names></name><name><surname>Sompie</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Pontoh</surname><given-names>J.H.W.</given-names></name><name><surname>Lontaan</surname><given-names>N.N.</given-names></name></person-group><year>2021</year><fpage>451</fpage><lpage>456</lpage><page-range>451-456</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-24"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Gelatins from three cultured fresh water fish skins obtained by liming process</article-title><source>Food Hydrocolloids</source><volume>25</volume><issue>5</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Jamilah</surname><given-names>B.</given-names></name><name><surname>Tan</surname><given-names>K.W.</given-names></name><name><surname>Hartina</surname><given-names>M.U.</given-names></name><name><surname>Azizah</surname><given-names>A.</given-names></name></person-group><year>2011</year><fpage>1256</fpage><lpage>1260</lpage><page-range>1256-1260</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1016/j.foodhyd.2010.11.023</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-25"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Fish gelatin: properties, challenges, and prospects as an alternative to mammalian gelatins</article-title><source>Food Hydrocolloids</source><volume>23</volume><issue>3</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Karim</surname><given-names>A.A.</given-names></name><name><surname>Bhat</surname><given-names>R.</given-names></name></person-group><year>2009</year><fpage>563</fpage><lpage>576</lpage><page-range>563-576</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1016/j.foodhyd.2008.07.002</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-26"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Substitusi susu kacang hijau terhadap susu full cream dalam pembuatan panna cotta</article-title><source>Jurnal Pariwisata Vokasi</source><volume>3</volume><issue>2</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Karnita</surname><given-names>I.</given-names></name><name><surname>Farhan</surname><given-names>M.</given-names></name></person-group><year>2022</year><fpage>11</fpage><lpage>19</lpage><page-range>11-19</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-27"><element-citation publication-type="conf-paper"><article-title>The use of konjac flour as gelatine substitution in making panna cotta [Conference session</article-title><source>International Conference on Agriculture, Environment and Food Security (AEFS), Medan, Indonesia. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science</source><person-group person-group-type="author"><name><surname>Karo</surname><given-names>F.Y.E.B.</given-names></name><name><surname>Sinaga</surname><given-names>H.</given-names></name><name><surname>Karo</surname><given-names>T.</given-names></name></person-group><year>2021</year><month>10</month><day>08</day><pub-id pub-id-type="doi">10.1088/1755-1315/782/3/032106</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-28"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Ekstraksi dan karakterisasi gelatin tulang itik menggunakan metode ekstraksi asam</article-title><source>Jurnal Sain Peternakan</source><volume>14</volume><issue>2</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Khirzin</surname><given-names>M.H.</given-names></name><name><surname>Ton</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Fatkhurrohman</surname><given-names>F.</given-names></name></person-group><year>2019</year><fpage>119</fpage><lpage>127</lpage><page-range>119-127</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-29"><element-citation publication-type="book"><article-title>Food texture–sensory evaluation and instrumental measurement</article-title><source>Textural characteristics of world foods(pp.1–13</source><person-group person-group-type="author"><name><surname>Kohyama</surname><given-names>K.</given-names></name></person-group><person-group person-group-type="editor"><name><surname>Nishinari</surname><given-names>K.</given-names></name></person-group><year>2020</year><publisher-name>John Wiley &amp; Sons Ltd</publisher-name></element-citation></ref><ref id="BIBR-30"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Kajian pengaruh variasi konsentrasi karaginan-konjak sebagai gelling agent terhadap karakteristik fisik, kimia dan sensoris permen jelly buah labu kuning (Cucurbita maxima</article-title><source>Jurnal Teknosains Pangan</source><volume>5</volume><issue>1</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Kusumaningrum</surname><given-names>A.</given-names></name><name><surname>Parnanto</surname><given-names>N.H.R.</given-names></name><name><surname>Atmaka</surname><given-names>W.</given-names></name></person-group><year>2016</year><fpage>1</fpage><lpage>11</lpage><page-range>1-11</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-31"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Gelatin application of nile tilapia (Oreochromis niloticus) bone to the quality of the jelly candy</article-title><source>Saintek Perikanan: Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology</source><volume>6</volume><issue>1</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Maryani</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Surti</surname><given-names>T.</given-names></name><name><surname>Ibrahim</surname><given-names>R.</given-names></name></person-group><year>2010</year><fpage>62</fpage><lpage>70</lpage><page-range>62-70</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-32"><element-citation publication-type="journal"><article-title>What is the color of milk and dairy products and how is it measured?</article-title><source>Foods</source><volume>9</volume><issue>11</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Milovanovic</surname><given-names>B.</given-names></name><name><surname>Djekic</surname><given-names>I.</given-names></name><name><surname>Miocinovic</surname><given-names>J.</given-names></name><name><surname>Djordjevic</surname><given-names>V.</given-names></name><name><surname>Lorenzo</surname><given-names>J.M.</given-names></name><name><surname>Barba</surname><given-names>F.J.</given-names></name><name><surname>Tomasevic</surname><given-names>I.</given-names></name></person-group><year>2020</year><page-range>1629</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.3390/foods9111629</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-33"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Correlations of sensations of hardness and springiness of agar and gelatin gels with mechanical properties in human participants</article-title><source>Journal of Oral Biosciences</source><volume>65</volume><issue>4</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Nakatomi</surname><given-names>C.</given-names></name><name><surname>Hsu</surname><given-names>C.C.</given-names></name><name><surname>Ono</surname><given-names>K.</given-names></name></person-group><year>2023</year><fpage>316</fpage><lpage>323</lpage><page-range>316-323</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1016/j.job.2023.09.001</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-34"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Karakterisasi gelatin hasil ekstraksi dari kulit ikan patin (Pangasius hypophthalmus) dengan proses asam dan basa</article-title><source>Pharmaceutical Sciences and Research</source><volume>5</volume><issue>3</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Nasution</surname><given-names>A.Y.</given-names></name><name><surname>Harmita</surname><given-names>H.</given-names></name><name><surname>Harahap</surname><given-names>Y.</given-names></name></person-group><year>2018</year><fpage>142</fpage><lpage>151</lpage><page-range>142-151</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.7454/psr.v5i3.4029</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-35"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Comparative evaluation of anthocyanin pigment yield and its attributes from butterfly pea (Clitorea ternatea L.) flowers as prospective food colorant using different extraction methods</article-title><source>Future Foods</source><volume>6</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Netravati</surname><given-names>Gomez</given-names></name><name><surname>S.</surname><given-names>Pathrose B.</given-names></name><name><surname>Raj</surname><given-names>N.M.</given-names></name><name><surname>Joseph</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Kuruvila</surname><given-names>B.</given-names></name></person-group><year>2022</year><page-range>100199</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1016/j.fufo.2022.100199</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-36"><element-citation publication-type="conf-paper"><article-title>Agustus 31). Analisis organoleptik produk pukis sorgum</article-title><source>kajian dari konsentrasi tepung sorgum (Sorgum sp.)dan ragi [Conference session]. Seminar Nasional Cendekiawan ke-5</source><person-group person-group-type="author"><name><surname>Ningsih</surname><given-names>P.W.</given-names></name><name><surname>Noerhartati</surname><given-names>E.</given-names></name></person-group><year>2019</year><publisher-name>Universitas Trisakti</publisher-name><publisher-loc>Jakarta, Indonesia</publisher-loc></element-citation></ref><ref id="BIBR-37"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Perception and measurement of food texture: solid foods</article-title><source>Journal of Texture Studies</source><volume>49</volume><issue>2</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Nishinari</surname><given-names>K.</given-names></name><name><surname>Fang</surname><given-names>Y.</given-names></name></person-group><year>2018</year><fpage>160</fpage><lpage>201</lpage><page-range>160-201</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1111/jtxs.12327</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-38"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Karakteristik fisik-kimia gelatin dari kulit ikan patin, ikan nila, dan ikan tuna</article-title><source>Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada</source><volume>23</volume><issue>1</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Nurilmala</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Nasirullah</surname><given-names>M.T.</given-names></name><name><surname>Nurhayati</surname><given-names>T.</given-names></name><name><surname>Darmawan</surname><given-names>N.</given-names></name></person-group><year>2021</year><fpage>71</fpage><lpage>77</lpage><page-range>71-77</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.22146/jfs.59960</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-39"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Perbandingan sifat gelatin yang berasal dari kulit ikan patin (Pangasius hypophthalmus) dan gelatin yang berasal dari kulit ikan komersil</article-title><source>JOPS (Journal of Pharmacy and Science</source><volume>1</volume><issue>1</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Oktaviani</surname><given-names>I.</given-names></name><name><surname>Perdana</surname><given-names>F.</given-names></name><name><surname>Nasution</surname><given-names>A.Y.</given-names></name></person-group><year>2017</year><fpage>1</fpage><lpage>8</lpage><page-range>1-8</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-40"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Pengaruh berbeda konsentrasi larutan asam asetat (CH3COOH) terhadap karakteristik gelatin kulit kaki ayam</article-title><source>Kebun Binatang Bahasa Indonesia</source><volume>36</volume><issue>1</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Pantow</surname><given-names>I.M.</given-names></name><name><surname>Sompie</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Mirah</surname><given-names>A.D.</given-names></name><name><surname>Karisoh</surname><given-names>L.C.M.</given-names></name></person-group><year>2015</year><fpage>23</fpage><lpage>32</lpage><page-range>23-32</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-41"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Karakteristik fisik dan kimia gelatin dari tulang ikan patin dengan pre-treatment asam sitrat</article-title><source>Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan</source><volume>7</volume><issue>2</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Pertiwi</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Atma</surname><given-names>Y.</given-names></name><name><surname>Mustopa</surname><given-names>A.Z.</given-names></name><name><surname>Maisarah</surname><given-names>R.</given-names></name></person-group><year>2018</year><fpage>83</fpage><lpage>91</lpage><page-range>83-91</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.17728/jatp.2470</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-42"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Pengaruh perbedaan konsentrasi gelatin terhadap sifat fisikokimia dan organoleptik snackbar beras merah dengan perlakuan awal perendaman di larutan CaCl2 cangkang telur</article-title><source>Jurnal Teknologi Pangan dan Gizi (Journal of Food Technology and Nutrition</source><volume>18</volume><issue>1</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Pradnyasari</surname><given-names>I.A.P.R.</given-names></name><name><surname>Setijawati</surname><given-names>E.</given-names></name><name><surname>Ristiarini</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Suseno</surname><given-names>T.I.P.</given-names></name><name><surname>Jati</surname><given-names>I.R.A.</given-names></name></person-group><year>2019</year><fpage>58</fpage><lpage>63</lpage><page-range>58-63</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.33508/jtpg.v18i1.1988</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-43"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Studi kesukaan responden terhadap jenang makanan khas Wonogiri</article-title><source>Jurnal Tata Boga</source><volume>11</volume><issue>3</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Puspitasari</surname><given-names>D.</given-names></name><name><surname>Romadoni</surname><given-names>I.F.</given-names></name><name><surname>Suwardiah</surname><given-names>D.K.</given-names></name><name><surname>Pangesthi</surname><given-names>L.T.</given-names></name></person-group><year>2022</year><fpage>28</fpage><lpage>35</lpage><page-range>28-35</page-range><ext-link xlink:href="https://eJournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-tata-boga/article/view/49426" ext-link-type="uri" xlink:title="49426">49426</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-44"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Sifat fisik permen jeli berbasis gelatin tulang ikan nila merah (Oreochromis niloticus) dengan penambahan sari kacang merah (Phaseoulus vulgaris L</article-title><source>Jurnal Teknologi dan Mutu</source><volume>Pangan,1(1</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Putri</surname><given-names>I.E.</given-names></name><name><surname>Iswahyudi</surname><given-names>I.</given-names></name><name><surname>Nuraida</surname><given-names>N.</given-names></name></person-group><year>2022</year><fpage>34</fpage><lpage>39</lpage><page-range>34-39</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.30812/jtmp.v1i1.2177</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-45"><element-citation publication-type="book"><article-title>Evaluasi sensori dan perkembangannya</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>Rahayu</surname><given-names>W.P.</given-names></name><name name-style="given-only"><given-names>Nurosiyah</given-names></name></person-group><year>2019</year><publisher-name>Universitas Terbuka</publisher-name></element-citation></ref><ref id="BIBR-46"><element-citation publication-type="conf-paper"><article-title>Quality of gelatin from tilapia (Oreochromis niloticus)by-products and its effects as edible coating on fish sausage during chilled storage [Conference session</article-title><source>The 4th International Symposium on Marine and Fisheries Research 2021</source><person-group person-group-type="author"><name><surname>Rofikoh</surname><given-names>R.</given-names></name><name><surname>Darmanto</surname><given-names>Y.S.</given-names></name><name><surname>Fahmi</surname><given-names>A.S.</given-names></name></person-group><year>2021</year><publisher-loc>Yogyakarta, Indonesia</publisher-loc><comment>IOP Conference Series: Earth and Environmental Science.</comment><ext-link xlink:href="https://10.1088/1755-1315/919/1/012034" ext-link-type="uri" xlink:title="012034">012034</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-47"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Food texture and its perception, acceptance and evaluation</article-title><source>Biosciences Biotechnology Research Asia</source><volume>17</volume><issue>3</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Rustagi</surname><given-names>S.</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>651</fpage><lpage>658</lpage><page-range>651-658</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.13005/bbra/2869</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-48"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Karakteristik fisik dan kimia gelatin kulit ikan patin (Pangasius pangasius) dengan kombinasi berbagai asam dan suhu</article-title><source>Jurnal FishtechH</source><volume>4</volume><issue>1</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Saputra</surname><given-names>R.H.</given-names></name><name><surname>Widiastuti</surname><given-names>I.</given-names></name><name><surname>Supriadi</surname><given-names>A.</given-names></name></person-group><year>2015</year><fpage>29</fpage><lpage>36</lpage><page-range>29-36</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-49"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Physicochemical properties of gelatins extracted from skins of different freshwater fish species</article-title><source>International Food Research</source><volume>Journal,17(3</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>See</surname><given-names>S.F.</given-names></name><name><surname>Hong</surname><given-names>P.K.</given-names></name><name><surname>Ng</surname><given-names>K.L.</given-names></name><name><surname>Wan Aida</surname><given-names>W.M.</given-names></name><name><surname>Babji</surname><given-names>A.S.</given-names></name></person-group><year>2010</year><fpage>809</fpage><lpage>16</lpage><page-range>809-16</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-50"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Segmentasi ruang warna L* a* b</article-title><source>Jurnal Mantik Pena</source><volume>3</volume><issue>1</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Sinaga</surname><given-names>A.S.</given-names></name></person-group><year>2019</year><fpage>43</fpage><lpage>46</lpage><page-range>43-46</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-51"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Optimization of gelatin extraction and physico-chemical properties of fish skin and bone gelatin: Its application to panna cotta formulas</article-title><source>Current Research in Nutrition and Food Science Journal</source><volume>5</volume><issue>3</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Tinrat</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Sila-Asna</surname><given-names>M.</given-names></name></person-group><year>2017</year><fpage>263</fpage><lpage>273</lpage><page-range>263-273</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.12944/CRNFSJ.5.3.11</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-52"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Ekstraksi agar-agar kulit ikan kakap merah (Lutjanus sp.) dengan proses perlakuan asam</article-title><source>Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan</source><volume>Indonesia,15(3</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Trilaksani</surname><given-names>W.</given-names></name><name><surname>Nurilmala</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Setiawati</surname><given-names>I.H.</given-names></name></person-group><year>2012</year><fpage>240</fpage><lpage>251</lpage><page-range>240-251</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.17844/jphpi.v15i3.21436</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-53"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Texture profile analysis (TPA) of the jelly dessert prepared from halal gelatin extracted using high pressure processing (HPP</article-title><source>Malaysian Journal Fundament Application Science</source><volume>15</volume><issue>4</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Yusof</surname><given-names>N.</given-names></name><name><surname>Jaswir</surname><given-names>I.</given-names></name><name><surname>Jamal</surname><given-names>P.</given-names></name><name><surname>Jami</surname><given-names>M.S.</given-names></name></person-group><year>2019</year><fpage>604</fpage><lpage>608</lpage><page-range>604-608</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.11113/mjfas.v15n4.1583</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-54"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Glycosylation fish gelatin with gum Arabic: functional and structural properties</article-title><source>Lw t</source><volume>139</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Zhao</surname><given-names>H.</given-names></name><name><surname>Kang</surname><given-names>X.</given-names></name><name><surname>Zhou</surname><given-names>X.</given-names></name><name><surname>Tong</surname><given-names>L.</given-names></name><name><surname>Yu</surname><given-names>W.</given-names></name><name><surname>Zhang</surname><given-names>J.</given-names></name><name><surname>Yang</surname><given-names>W.</given-names></name><name><surname>Lou</surname><given-names>Q.</given-names></name><name><surname>Huang</surname><given-names>T.</given-names></name></person-group><year>2021</year><page-range>110634</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1016/j.lwt.2020.110634</pub-id></element-citation></ref></ref-list></back></article>