https://journal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/issue/feed Acta VETERINARIA Indonesiana 2020-07-07T08:34:11+07:00 Ridi Arif acta.vet.indones@gmail.com Open Journal Systems <p class="MsoNormal"><strong><img src="/public/site/images/adminactavet/Picture1.png" alt="" align="left">Acta VETERINARIA Indonesiana . Acta Vet Indones .&nbsp;The Indonesian Veterinary Journal</strong> is an open access, peer-reviewed, online journal that&nbsp;publishes articles in the form of research, reviews, case studies, and short communications relating to various aspects of science in veterinary, biomedical, animal husbandry, biotechnology, and biodiversity of fauna.</p> <p>Articles are written in Indonesian or English.</p> <p>Acta VETERINARIA Indonesiana is published by the Faculty of Veterinary Medicine of the Bogor Agricultural University (FKH IPB) in collaboration with the Indonesia Veterinary Medical Association (PDHI).</p> <p>This journal is published since 2013, published 2 (two) times in 1 (one) year, i.e. in January and July.</p> <p>P-ISSN 2337-3202, E-ISSN 2337-4373, Accreditation of "B" Kemenristekdikti No. 36a / E / KPT / 2016</p> https://journal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/21895 Komparasi Morfologi Lambung Musang Luwak (Paradoxurus hermaphroditus) Berdasarkan Pola Pemberian Pakan Buah Kopi 2020-07-06T20:19:00+07:00 Andi Hiroyuki andihiroyuki@gmail.com Savitri Novelina chnisa@yahoo.com Chairun Nisa’ chnisa@yahoo.com <p>Musang luwak dikenal sebagai hewan yang menghasilkan biji kopi luwak dengan harga jual tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh konsumsi buah kopi terhadap morfologi lambung musang luwak. Sampel didapatkan dari lambung enam musang yang terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah musang luwak yang mengkonsumsi kopi (Mk) (n=3) dan kelompok yang tidak mengkonsumsi kopi (TMk) (n=3). Lambung yang telah terfiksasi kemudian diamati secara makroskopik dan mikroskopik. Pengamatan makroskopik dilakukan dengan mengamati bentuk dan ukuran dari lambung. Pengamatan mikroskopik dilakukan menggunakan teknik histokimia yaitu melalui pewarnaan hematoksilin eosin (HE), alcian blue (AB), dan periodic acid Schiff (PAS). Hasil pengamatan menunjukan kondisi lambung yang relatif berbeda. lambung kelompok Mk memiliki ukuran yang relatif lebih besar dibandingkan lambung kelompok TMk namun memiliki lipatan mukosa yang lebih sedikit, terutama pada bagian proksimal lambung. Kelenjar fundus lambung kelompok Mk menunjukan jumlah sel parietal yang relatif lebih banyak dibandingkan dengan kelompok TMk. Pewarnaan AB dan PAS menunjukan sebaran karbohidrat netral yang lebih dominan pada permukaan kelenjar pilorus kedua kelompok perlakuan. Konsentrasi karbohidrat asam yang tinggi juga ditemukan pada kelenjar fundus kedua kelompok perlakuan. Karakteristik lambung ini diduga berhubungan dengan diet dan proses pencernaan pada saluran pencernaan musang luwak.</p> 2020-07-06T05:45:27+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana https://journal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/29049 Evaluasi Gambaran Darah dan Marker Stres (Rasio H/L) Ayam Pedaging yang Diberi Daun Bangun-Bangun selama 28 Hari 2020-07-06T20:19:01+07:00 Rindy Fazni Nengsih rindyfazni@gmail.com Aulia Mustika andrifartok@gmail.com Andriyanto . andrifartok@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian simplisia daun bangun-bangun (Coleus amboinicus Lour.) terhadap gambaran darah dan marker stres (rasio H/L) ayam pedaging. Sebanyak 60 ekor ayam pedaging strain Cobb berumur 1 hari (DOC) dibagi ke dalam rancangan acak lengkap yang terdiri atas 4 perlakuan dan 15 ulangan. Ayam percobaan yang diberi tambahan simplisia daun bangun-bangun dalam air minum dengan dosis 0% (kontrol) dan dosis 0.125, 0.25, dan 0.375% (perlakuan). Pemberian perlakuan dilakukan selama 28 hari secara per oral melalui air minum yang dimulai sejak ayam berumur 8 sampai dengan 35 hari. Analisis darah dilakukan pada masing-masing kelompok perlakuan sebanyak 6 kali. Pengambilan sampel darah dilakukan pada hari ke-7 (sebelum perlakuan) dan 35 (setelah perlakuan). Hasil gambaran darah merah (jumlah butir darah merah, hematokrit, dan hemoglobin) dan diferensial darah putih (monosit, eosinofil, basofil) tidak berbeda nyata (p&gt;0.05) pada semua perlakuan baik sebelum dan setelah perlakuan. Setelah perlakuan, ayam yang diberi daun bangun-bangun dosis 0.125 dan 0.25% memiliki rasio H/L yang lebih rendah dibanding kontrol (p&lt;0.05). Hal ini mengindikasikan bahwa pemberian daun bangun-bangun dosis 0.125 dan 0.25% mampu menurunkan tingkat stres ayam percobaan tanpa disertai perubahan gambaran darah.</p> 2020-07-06T06:08:25+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana https://journal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/29135 Aktivitas Diuretik dan Analisa Mineral Urin Perlakuan Ekstrak Tanaman Kumis Kucing (Orthosiphon Stamineus Benth) pada Tikus Jantan 2020-07-06T20:19:02+07:00 Rini Madyastuti rinipurwono@gmail.com Ietje wientarsih rinipurwono@gmail.com Setyo Widodo rinipurwono@gmail.com Erni H Purwaningsih rinipurwono@gmail.com Eva Harlina rinipurwono@gmail.com <p>Tanaman Kumis Kucing merupakan salah satu tanaman yang memiliki banyak keuntungan dan sudah digunakan sejak dahulu dalam upaya menjaga kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi aktivitas diuretik dari penggunaan ekstrak Kumis Kucing dan mengukur kadar kalium dan natrium dalam urin. Sebanyak 24 ekor tikus dibagi menjadi empat grup; kontrol negatif (akuades), kontrol positif (furosemide), dosis ekstrak 1 (250mg/kg BB) dan dosis ekstrak 2 (500mg/kg BB). Ekstrak diberikan secara peroral selama 7 hari. Aktivitas diuretik pada kelompok ekstrak dan kontrol positif pada jam pertama (P&gt;0.05) dan jam keenam (P&lt;0.05). Volume urin kumulatif dosis 1 mendekati furosemide. Pengukuran mineral urin menunjukkan hasil kehilangan mineral natrium dan kalium pada kelompok ekstrak lebih kecil dibandingkan kelompok referensi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dosis efektif ekstrak Kumis Kucing adalah 250 mg/kg BB pada jam ke-2 dan menunjukkan kehilangan mineral dalam urin yang lebih kecil.</p> 2020-07-06T14:05:05+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana https://journal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/30043 Desain Primer Berdasarkan Gen Mt-12s Rrna untuk Mendeteksi Cemaran Daging Babi pada Produk Olahan Asal Daging Sapi dengan Metode Multipleks-Pcr 2020-07-06T20:19:03+07:00 Yeremia Yobelanno Sitompul yeremia.sitompul@staf.undana.ac.id Sidna Artanto adasidna@ugm.ac.id <p>Kasus pencampuran daging babi pada produk olahan asal daging sapi yang meresahkan masyarakat, terutama yang beragama Islam, masih ditemukan di Indonesia. Metode multipleks Polymerase Chain Reaction (multipleks-PCR) dapat mendeteksi cemaran daging babi pada produk olahan asal daging sapi. Metode ini menggunakan beberapa primer spesifik yang dapat mengamplifikasi beberapa target DNA dalam satu kali reaksi. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain primer spesifik untuk digunakan dalam mendeteksi cemaran daging babi pada produk olahan daging sapi menggunakan metode multipleks-PCR. Pertama-tama, primer didesain secara in silico menggunakan perangkat lunak bioinformatika MegAlign, Seqbuilder, dan AmplifX. Desain ini menggunakan gen mt-12s rRNA sebagai dasarnya. Primer yang didesain berupa dua primer forward untuk sapi: 5’-AGATTCACTGCATCTAACCCT-3’ dan babi: 5’-CTACATAAGAATACCCACCATACG-3’, serta satu primer reverse universal untuk sapi dan babi: 5’-CCAAGCACACTTTCCAGTATG-3’ Amplikon yang terbentuk secara in silico dari primer tersebut untuk DNA sapi 91 bp, sementara pada babi sebesar 230 bp. Selanjutnya, primer diuji untuk mengamplifikasi DNA daging sapi, daging babi, campuran kedua daging, dan produk olahan asal daging sapi, yaitu bakso sebanyak dua belas sampel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa primer hasil pendesainan dapat digunakan untuk mengamplifikasi target DNA dari daging sapi, daging babi, campuran kedua daging, dan produk olahan. Dengan demikian, primer hasil pendesainan ini terbukti dapat digunakan dalam metode multipleks-PCR untuk mendeteksi cemaran daging babi pada produk olahan sapi.</p> 2020-07-06T14:08:12+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana https://journal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/30060 Observasi Kesembuhan Distant Skin Flap yang dirawat dengan Dry Dressing dan Moist Dressing 2020-07-06T20:19:03+07:00 Erwin Erwin erwin2102@unsyiah.ac.id Syafruddin Syafruddin erwin2102@unsyiah.ac.id Fadrial Karmil erwin2102@unsyiah.ac.id Sugito Sugito erwin2102@unsyiah.ac.id Razali Daud erwin2102@unsyiah.ac.id Roslizawaty Roslizawaty erwin2102@unsyiah.ac.id Zainuddin Zainuddin erwin2102@unsyiah.ac.id Roby Luksmana erwin2102@unsyiah.ac.id <p>Distant flap adalah teknik bedah untuk merekonstruksi luka yang jauh dari sumber flaps berasal. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kesembuhan luka distant skin flap dengan perawatan dry dressing dan moist dressing secara subjektif dan objektif. Penelitian ini menggunakan 6 ekor kucing lokal jantan berumur 1-2 tahun dengan berat badan 2-3 kg, dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan. Semua kucing dibuat luka dengan ukuran 2x2 cm pada kulit metacarpus, luka ditangani dengan teknik distant skin flap yang berasal dari lateral thoraks sebagai sumber flaps. Distant skin flap dirawat dengan dry dressing menggunakan kasa steril (K-I) dan moist dressing menggunakan sofratulle® (K-II). Pengamatan subjektif kesembuhan distant skin flap pada hari ke-3, 6, 9 dan 12 pasca bedah, sedangkan uji pendarahan dan pengamatan objektif pada hari ke-18 pasca bedah. Data kuantitatif pengamatan subjektif dan objektif dianalisis menggunakan analisis varian multivariate dan post hoc test Duncan dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 25. Hasil pengamatan subjektif menunjukkan kesembuhan luka distant skin flap yang dirawat dengan moist dressing lebih baik dari pada dry dressing. Hari ke-12 warna kulit flaps kembali sama dengan kulit sekitar, respon nyeri berkurang, dan pertumbuhan rambut lebih cepat. Pengamatan objektif menunjukkan waktu absorbsi NaCl 0,9% dan efek obat lebih cepat pada kelompok moist dressing. Kesembuhan distant skin flap yang dirawat dengan moist dressing lebih cepat dibandingkan dengan dry dressing.</p> 2020-07-06T14:10:00+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana https://journal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/30327 Bacterial Pneumonia sebagai Salah Satu Penyebab Kematian Lumba Lumba Hidung Botol Indo-Pasifik (Tursiop aduncus) 2020-07-06T20:19:04+07:00 Agustin Indrawati indraseta@apps.ipb.ac.id Jeni Maharani jenimaharani7851@gmail.com Nurul Fadillah fadillahidsyam@gmail.com Diah Sekar Arum diahsekar96@gmail.com Hamdika Yenri hamdika.yenri@gmail.com Risqika Aqla Velayati ravela0112@gmail.com Ulfi Nurul Fadlilah ulfinurulfadlilah@gmai.com Jefri Naldi jefrinaldi777@gmail.com Afifah Nurhasanah afifahnurhasanah136@gmail.com <p>Lumba-lumba hidung botol Indo-Pasifik (Tursiops aduncus) merupakan jenis lumba-lumba yang banyak ditemukan di perairan Indonesia. Kelestarian T. aduncus perlu mendapat perhatian karena populasinya yang semakin menurun. Upaya pelestarian yang telah dilakukan adalah melalui konservasi. Gangguan respirasi pada lumba-lumba sering ditemukan dan berakibat fatal, salah satu penyakit yang sering ditemukan adalah pneumonia. Pneumonia jenis bronchopneumonia merupakan salah satu gejala infeksi pada paru yang disebabkan oleh bakteri, virus ataupun jamur. Tujuan penelitian ini adalah melakukan isolasi dan identifikasi bakteri yang berperan dalam kejadian pneumonia. Sampel berasal dari seekor lumba lumba jantan yang ada di Pusat Konservasi Mamalia air. Tahapan penelitian ini antara lain isolasi dan identifikasi bakteri dari organ paru-paru yang menunjukkan gejala patologis. Hasil isolasi dan identifikasi ditemukan 2 spesies Gram positif yaitu Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus serta 4 spesies Gram negatif, yaitu Pseudomonas alcaligenes, Actinobacillus delphinicola, Klebsiella sp. dan Serratia marcesens.</p> 2020-07-06T14:12:02+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana https://journal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/31211 Evaluasi Elektrokardiogram dan Radiografi Paru Domba Diimplan Scaffold Biphasic Calcium Phosphate/Alginate 2020-07-06T20:19:05+07:00 Gunanti . gunanti.soe@gmail.com Kiagus Dahlan gunanti.soe@gmail.com Shavrillia Angesti gunanti.soe@gmail.com Selma Afifa gunanti.soe@gmail.com Nuzula Ramadian gunanti.soe@gmail.com Sugganya Ravi gunanti.soe@gmail.com Soesatyoratih . gunanti.soe@gmail.com <p>Biomaterial merupakan suatu bahan yang digunakan untuk membantu persembuhan tulang sehingga mempunyai resiko terhadap organ jantung dan paru. Penanaman implan tulang dapat menyebabkan bone cement implantation syndrome yang dapat mempengaruhi aktivitas jantung. Degradasi implan pada tulang dapat menyebabkan efek pada paru. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi perubahan pada hasil elektrokardiografi jantung dan radiografi paru domba (Ovis aries) yang diimplan scaffold biphasic calcium phosphate/alginate pada tulang tibia. Penelitian ini menggunakan 3 ekor domba jantan berusia 1.5 tahun dengan berat rata-rata 20 kg. Penanaman implan scaffold BCP/alginate dilakukan secara aseptis pada sepertiga proximal medial tulang tibia. Perekaman EKG pada domba dilakukan dalam keadaan sadar dan posisi berbaring lateral recumbency serta pemeriksaan radiografi dengan standar pandang left lateral recumbency dilakukan pada sebelum dan sesudah operasi, hari ke-7, 30, 60, dan 90 sesudah operasi. Parameter yang dievaluasi berupa amplitudo dan durasi gelombang P, durasi komplek QRS, durasi interval PR, amplitudo R, amplitudo T, durasi interval QT, durasi segmen ST, dan gambaran radiografi toraks. Data elektrokardiogram diolah menggunakan Microsoft Excel 2007 dan IBM Statistical Product and Service Solutions (SPSS). Data variabel dianalisis secara statistik dengan menggunakan metode One Way Analyse of Variant (ANOVA), kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan pada selang kepercayaan 95%. Aktivitas elektrokardiografi jantung dan gambaran radiografi paru domba tidak mengalami perubahan setelah memperoleh penanaman implan scaffold BCP/alginate.</p> 2020-07-06T14:13:44+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana https://journal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/31553 Analisis Proteomik Cairan Sinovial Sendi Domba: Efektivitas Metode dan Profil Protein Fungsional 2020-07-07T08:34:11+07:00 Kusdiantoro Mohamad kusm20@yahoo.com Wiwit Ridhani Rahmaniyah kusm20@yahoo.com I Ketut Mudite Adnyane kusm20@yahoo.com Mokhamad Fahrudin kusm20@yahoo.com Arief Boediono ab@apps.ipb.ac.id <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi metode deplesi dan digesi protein, serta menganalisis proteom cairan sinovial (SF) sendi pada domba sehat menggunakan kromatografi cair–tandem spektrometri massa. Cairan SF dikoleksi dari enam ekor domba garut betina, umur ±4 tahun, berat 35-40 kg, dan sehat secara klinis. Deplesi protein berkelimpahan tinggi dilakukan dengan metode spin column menggunakan TOP 12 dan metode proteospin, sementara digesi protein dengan tiga metode, yaitu digesi in solution, in gel, dan in-solution + filter-aided sample preparation (FASP). Metode yang terbaik kemudian dilanjutkan dengan fraksinasi peptida menggunakan ultra performance liquid chromatography. Metode deplesi proteospin dengan digesi protein in-solution + FASP merupakan metode terbaik berdasarkan nilai coverage dan sequest HT. Hasil analisis proteomik terkarakterisasi 52 protein pada database spesies domba. Anotasi gen ontologi menggunakan DAVID analysis menunjukkan bahwa protein-protein SF tersebut merupakan komponen sel terutama sebagai eksosom ekstraseluler, fungsi molekuler sebagai aktivitas inhibitor endopeptidase tipe-serin dan pengikat ion kalsium; serta proses biologis sebagai angiogenesis dan koagulasi darah atau pembentukan fibrin. Analisis KEGG pathway menunjukkan protein SF berperan utama pada jalur kaskade koagulasi dan komplemen.</p> 2020-07-06T07:40:26+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana https://journal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/29241 Pengaruh Teat Dip dan Suplemen Temulawak terhadap Tingkat Peradangan Ambing Sapi Mastitis Subklinis 2020-07-06T20:19:06+07:00 Dina Amalia Solehah Solehah Dinaamalia24316@gmail.com Dian Harjanti harjantidian@gmail.com Priyo Sambodho harjantidian@gmail.com <p>Penelitian ini betujuan untuk mengkaji pengaruh treatment teat dipping dan pemberian suplemen pakan tepung temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) terhadap tingkat peradangan kelenjar ambing dan pH susu sapi perah laktasi penderita mastitis. Materi yang digunakan adalah 12 ekor sapi perah Friesian Holstein (FH) penderita mastitis subklinis. Rancangan percobaan yang digunakan adalah percobaan RAK split plot dengan 4 perlakuan dan 3 kelompok. Perlakuan yang diterapkan yaitu T0 = sebagai kontrol, T1 = suplemen temulawak 1% BK, T2 = antiseptik teat dipping temulawak 5% dan T3 = suplemen temulawak 1% BK + antiseptik teat dipping temulawak 5%. Parameter yang diamati meliputi tingkat peradangan kelenjar ambing dengan California Mastitis Test (CMT) dan pH susu menggunakan kertas pH. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan analisis ragam/ANOVA (Analysis of Variance) dan jika hasil signifikan dilakukan uji lanjut wilayah berganda Duncan Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan perlakuan dan lama perlakuan berpengaruh nyata (P&lt;0,05) terhadap skor CMT dan tidak berpengaruh nyata terhadap pH (P&gt;0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa sapi perah penderita mastitis yang mendapat treatment teat dipping, suplemen pakan tepung temulawaak maupun kombinasi keduanya mampu menurunkan tingkat peradangan.</p> 2020-07-06T14:17:46+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana