Analisis Komparatif Kadar MDA Menggunakan Spektrofotometer Konvensional dan Nano Spektrofotometer Pada Ekstrak Teh Hijau (Camellia sinensis)

Authors

  • Martini Hudayanti Departemen Biokimia, IPB University
  • Kayla Faza Gustafri Mandalika Departemen Biokimia, IPB University
  • Mega Safithri Divisi Bioanalisis, Departemen Biokimia, IPB University

DOI:

https://doi.org/10.29244/cb.12.2.4

Abstract

Stres oksidatif menghasilkan malondialdehida (MDA) sebagai produk peroksidasi lipid yang sering digunakan sebagai biomarker kerusakan oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengukuran kadar MDA pada ekstrak teh hijau (Camellia sinensis) menggunakan spektrofotometer konvensional (kuvet) dan nano spektrofotometer (mikroplat 96 sumur). Ekstrak diperoleh melalui maserasi etanol 70% dengan rendemen rata-rata 36,14%. Penentuan MDA dilakukan dengan metode asam tiobarbiturat (TBA), dengan panjang gelombang maksimum 532 nm pada kedua instrumen. Hasil menunjukkan bahwa kadar MDA absolut berbeda signifikan antara kedua instrumen, di mana nilai absorbansi dan konsentrasi MDA pada nano spektrofotometer lebih rendah. Namun, analisis persen inhibisi dan IC50 tidak menunjukkan perbedaan signifikan (IC50 kuvet 83,997 ppm; nano spektrofotometer 83,065 ppm; p > 0,05), menandakan konsistensi dalam menilai aktivitas antioksidan relatif. Dari aspek efisiensi, nano spektrofotometer memerlukan volume sampel dan reagen lebih kecil (100 µL dan 200 µL), mengurangi limbah kimia, serta menurunkan biaya analisis hingga 71% dibandingkan kuvet. Selain itu, kapasitas analisis meningkat hingga 96 sampel per batch dengan waktu lebih singkat. Kesimpulannya, nano spektrofotometer memberikan hasil komparatif yang valid dan lebih efisien, sehingga layak direkomendasikan untuk analisis MDA di laboratorium dengan keterbatasan sumber daya.

Published

2025-12-31