Editorial Policies

Focus and Scope

Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan, Kata “sodality” dipilih menjadi “terminologi kunci” bagi jurnal ini, karena pengalaman riset-riset sosial pedesaan menunjukkan bahwa interkoneksi antara struktur lokalitas (desa/pedesaan) dengan struktur ekstra-lokal tidak selalu terhubung dalam jalinan hubungan yang harmonis. Dinamika keterlekatan struktur lokal (desa/pedesaan) dan ekstra-lokal seringkali justru berakhir dengan bentuk-hubungan yang disharmonis, seperti ketidakselarasan, ketidaksepahaman, ketegangan, diskoneksi, penolakan, bahkan konflik sosial.  Dengan kata lain, selalu ditemukan meeting point (titik pertemuan) yang sangat kritikal, dimana pada “ruang sodality” ini ditemukan potensi segregasi sosial atas mekanisme keterlekatan hubungan yang telah terbentuk dan terpelihara antara struktur lokal dan ekstra-lokal. Ruang disharmoni sosial inilah yang kemudian dikenal sebagai sodality dan selalu menjadi keprihatinan para ilmuwan sosial, terutama dari mazhab Bogor (para ilmuwan sosial dari Institut Pertanian Bogor) dalam memikirkan perubahan sosial berencana di pedesaan. 

 

Section Policies

Articles

Checked Open Submissions Checked Indexed Checked Peer Reviewed
 

Peer Review Process

Jurnal Sodality menerapkan sistem review awal dengan sistem blind review oleh ketua dewan redaksi. Selanjutnya baru masuk ke reviewer dan mitra bestari untuk keputusan akhir.

 

Publication Frequency

Jurnal sodality diterbitkan 3 kali dalam setahun (Bulan April, Agustus, Desember)

 

Open Access Policy

Jurnal ini bersifat terbuka demi kepentingan pendidikan dan riset ilmu pengetahuan

 

Jurnal Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan

Kata “sodality” dipilih menjadi “terminologi kunci” bagi jurnal ini, karena pengalaman riset-riset sosial pedesaan menunjukkan bahwa interkoneksi antara struktur lokalitas (desa/pedesaan) dengan struktur ekstra-lokal tidak selalu terhubung dalam jalinan hubungan yang harmonis. Dinamika keterlekatan struktur lokal (desa/pedesaan) dan ekstra-lokal seringkali justru berakhir dengan bentuk-hubungan yang disharmonis, seperti ketidakselarasan, ketidaksepahaman, ketegangan, diskoneksi, penolakan, bahkan konflik sosial.  Dengan kata lain, selalu ditemukan meeting point (titik pertemuan) yang sangat kritikal, dimana pada “ruang sodality” ini ditemukan potensi segregasi sosial atas mekanisme keterlekatan hubungan yang telah terbentuk dan terpelihara antara struktur lokal dan ekstra-lokal. Ruang disharmoni sosial inilah yang kemudian dikenal sebagai sodality dan selalu menjadi keprihatinan para ilmuwan sosial, terutama dari mazhab Bogor (para ilmuwan sosial dari Institut Pertanian Bogor) dalam memikirkan perubahan sosial berencana di pedesaan.