Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) http://journal.ipb.ac.id/index.php/jurnalcare <p>Jurnal CARE (Jurnal Resolusi Konflik, CSR, dan Pemberdayaan) merupakan jurnal yang berisi artikel-artikel yang meliputi hasil-hasil penelitian, analisis kebijakan, dan kajian literatur tentang resolusi konflik, penyuluhan pembangunan, pengembangan masyarakat/CSR, serta hasil-hasil pengabdian kepada masyarakat.</p> Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB en-US Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) 2528-0848 Interaksi Masyarakat Dan Upaya Konservasi Keanekaragaman Hayati Di Hutan Kota Ranggawulung http://journal.ipb.ac.id/index.php/jurnalcare/article/view/32630 <p>Pembangunan hutan kota pada dasarnya dilakukan untuk kelestarian, keserasian dan keseimbangan ekosistem perkotaan. Sedangkan berdasarkan fungsinya, diharapkan hutan kota dapat memperbaiki dan menjaga iklim mikro, memiliki nilai estetika untuk kegiatan wisata masyarakat, daerah resapan air, menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota serta mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Hutan Kota Ranggawulung memiliki potensi yang besar dari sektor wisata untuk pengembangan ekonomi lokal, mengingat lokasinya yang strategis dan potensi keanekaragaman yang ada. Secara hidrologis, kawasan Hutan Kota Ranggawulung termasuk dalam Zona Cadangan Air Tanah (CAT) yang menjadikannya penyangga utama persediaan air tawar untuk wilayah Subang dan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi interaksi masyarakat dengan HKR dan menginventarisasi keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwaliar (mamalia, burung, dan herpetofauna). Analisis analisis vegetasi menunjukan jumlah jenis tumbuhan sebanyak 58 jenis tumbuhan bawah / semai dan 26 jenis pohon. Nilai indeks keanekaragaman (H’) pohon meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 3.07 dan 2.83. Jumlah jenis mamalia yang ditemukan sebanyak 10 jenis dari 6 famili dengan H’=2.03; E=0.92; Dmg=2.06. Jumlah jenis burung yang ditemukan sebanyak 39 jenis dari 20 famili dengan dengan H’=3.31, E=0.91, Dmg=7.97. Jenis herpetofauna yang ditemukan sebanyak 20 jenis dari 9 jenis famili dengan H’=2.81, E=0.94, Dmg=3.74. Interaksi masyarakat dengan Hutan Kota Ranggawulung terus mengalami perubahan seiringin dengan kebijakan dan pembangunan yang terjadi. Upaya konservasi dengan melibatkan masyarakat penting untuk terus dilakukan agar dapat terciptanya pembangunan berkelanjutan. Peningkatan indeks keanekaragaman hayati selama 3 tahun terakhir menggambarkan pengelolaan Hutan Kota Ranggawulung yang optimal dengan partisipasi masyarakat.</p> <p><strong>Kata Kunci : </strong>Berkelanjutan, Keanekaragaman hayati, Kekayaan, Kemerataan, interaksi masyaraka</p> Jurnal CARE CARE Copyright (c) 2020 Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) 2020-09-29 2020-09-29 5 1 1 12 Studi Biodiversitas Burung Air Dan Hutan Mangrove Sebagai Potensi Ekowisata Di Bagan Percut, Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatra Utara http://journal.ipb.ac.id/index.php/jurnalcare/article/view/32634 <p>Pesisir timur Sumatra Utara merupakan kawasan yang memiliki panjang lebih dari 300 km yang menyediakan berbagai tipe habitat lahan basah, baik alami dan buatan. Sejak tahun 1970an hingga 2000an kawasan hutan mangrove alami telah mengalami deforestasi dan berubah menjadi kawasan menjadi kawasan yang dimodifikasi manusia. Ekowisata merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan dalam upaya pelestarian kawasan hutan mangrove serta satwa liar yang terkandung didalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan potensi satwa liar khususnya burung air serta hutan mangrove sebagai objek wisata ekowisata di Bagan Percut. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus dan September 2020 di kawasan hutan mangrove Bagan Percut dengan metode “<em>line transect</em>” dan “<em>Concentration Count</em>” untuk pengambilan data burung air dan pengambilan data mangrove menggunakan metode “<em>Spot Check</em>”. Berdasarkan pengamatan didapatkan 27 jenis burung air (burung air penetap 7 jenis dan migran 20 jenis) dengan jumlah total sebanyak 3811 individu. Tiga belas jenis diantaranya merupakan burung yang dilindungi di Indonesia, diantaranya Bangau Bluwok, Bangau Tongtong, kelompok burung Gajahan dan burung Daralaut. Selain itu, terdapat dua jenis burung yang terancam punah kategori “<em>Endangered</em>”, yaitu Bangau Bluwok dan Kedidi Besar. Berdasarkan pengamatan vegetasi mangrove didapatkan jenis yang mendominasi adalah <em>Avicennia marina</em> dengan 106 individu dengan total karbon tersimpan sebesar 108,71 ton/ha. Kawasan Bagan Percut berpotensi untuk dijadikan ekowisata pengamatan burung dan edukasi mangrove, untuk itu penting dilakukan pengamatan burung air yang berkelanjutan setidaknya dalam kurun waktu satu tahun agar dinamika populasi dan jenis burung dapat tercatat dengan lebih baik. Selain itu, penting dilakukan analisis ekonomi, sosial dan budaya masyarakat lokal untuk mengetahui perspektif masyarakat terhadap ekowisata burung di kawasan tersebut.</p> <p><strong>Kata kunci</strong><strong>;</strong><em> Burung Air, Hutan Mangrove, Potensi Ekowisata, Sumatra Utara.</em></p> Jurnal CARE CARE Copyright (c) 2020 Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) 2020-09-29 2020-09-29 5 1 30 42 Inventarisasi Keanekaragaman Hayati Sebagai Modal Pengelolaan Wisata Dan Pemberdayaan Masyarakat Di Wana Wisata Gunung Puntang http://journal.ipb.ac.id/index.php/jurnalcare/article/view/32631 <p>Selain pemerintah dan masyarakat, pihak swasta/perusahaan juga wajib terlibat dan mengambil peran untuk melakukan perlindungan terhadap lingkungan sebagai upaya konservasi terhadap dampak dari kegiatan yang dilakukan. Salah satu lokasi stategis yang memerlukan kajian keanekaragaman hayati secara berkelanjutan adalah Kawasan Wana Wisata Gunung Puntang, di Kabupaten Bandung. Kolaborasi pengelolaan kawasan ini dilakukan oleh Perhutani, Yayasan Owa Jawa, Pemerintah Daerah, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Bukit Amanah, Institut Pertanian Bogor dan PT. Pertamina EP Asset 3 Subang Field. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menginventarisasi keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar (kupu-kupu, burung, dan herpetofauna) di Kawasan Gunung Puntang. Hasil invetarisasi keanekaragaman hayati menunjukkan bahwa hanya terdapat tingkat pertumbuhan tumbuhan bawah dan semai di petak pengambilan data. Hasil analisis vegetasi menunjukkan indeks keanekaragaman (H’) = 2,94; indeks kekayaan (Dmg) = 5,52; indeks kemerataan (E) = 0,82. Ditemukan sebanyak 36 jenis dari 24 famili pada lokasi penelitian. Pada kupu-kupu ditemukan sebanyak 21 jenis yang dari 4 famili. Hasil analisis dengan H’ = 2,73; Dmg = 4,69; E = 0,90. Jumlah jenis burung yang ditemukan sebanyak 12 jenis dari 10 famili dengan H’ = 2,27; E = 0,91; Dmg = 3,27. Hasil pengamatan herpetofauna ditemukan 6 jenis dari 5 famili dengan H’ = 1,68; E = 0,52; Dmg = 1,55. Pemanfaatan kawasan dan sumberdaya hayati perlu dilakukan secara berkelanjutan, baik itu untuk kegiatan wisata maupun kegiatan produksi. Pengembangan potensi dari sektor wisata harus selaras dengan perlindungan keanekaragaman hayati agar terwujud pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan.</p> <p><strong>Kata Kunci : </strong>Berkelanjutan, Keanekaragaman hayati, Kekayaan, Kemerataan</p> Jurnal CARE CARE Copyright (c) 2020 Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) 2020-09-29 2020-09-29 5 1 13 21 Etika Lingkungan Hidup Dalam Program Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pertanian Ramah Lingkungan (Kasus Kelompok Tani Patra Rangga, Kabupaten Subang) http://journal.ipb.ac.id/index.php/jurnalcare/article/view/32677 <p>Isu-isu lingkungan banyak dijumpai dalam kegiatan pertanian yang belum berwawasan lingkungan. Kegiatan pertanian sehat ramah lingkungan dan berkelanjutan merupakan salah satu kegiatan yang memperhatikan etika lingkungan. Adanya prinsip etika lingkungan bertujuan untuk dapat digunakan sebagai pegangan dan tuntunan perilaku manusia dalam berhadapan dengan alam. Tujuan dari penulisan ini ialah untuk: (1) Menganalisis keberlanjutan program pertanian sehat ramah lingkungan oleh kelompok tani Patra Rangga; dan (2) Menganalisis pemahaman dan pelaksanaan etika lingkungan dalam program pertanian sehat ramah lingkungan oleh kelompok tani Patra Rangga. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif yang didukung dengan data kualitatif. Menurut hasil penelitian analisis terhadap pemahaman dan pelaksanaan prinsip etika lingkungan, secara keseluruhan dapat dilihat bahwa tingkat prinsip etika lingkungan anggota kelompok tani Patra Rangga termasuk pada kategori tinggi yaitu sebanyak 14 dari total 19 orang anggota kelompok atau sebesar 73.68%.</p> <p>Kata kunci: Etika Lingkungan, Keberlanjutan, Pertanian</p> Jurnal CARE CARE Alya Putri Mulyani Copyright (c) 2020 Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) 2020-09-29 2020-09-29 5 1 22 29 Keanekaragaman Hayati Di Kawasan Mangrove Pantai Mekar Sebagai Modal Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat http://journal.ipb.ac.id/index.php/jurnalcare/article/view/32678 <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman jenis burung dan vegetasi mangrove yang ada di kawasan mangrove Pantai Mekar yang merupakan lokasi program keanekaragaman hayati PT Pertamina EP Asset 3 Tambun Field. Kajian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode daftar jenis MacKinnon dan Titik Hitung (<em>Point Count</em>) untuk data burung dan metode plot sampling untuk vegetasi mangrove. Berdasarkan hasil studi ditemukan 32 jenis burung di Kawasan Mangrove Pantai Mekar dengan jenis yang mendominasi adalah Kuntul kecil (<em>Egretta garzetta</em>) dengan nilai indeks dominansi sebesar 14.34. Indeks keanekaragaman burung (H’) sebesar 2,84, indeks kekayaan (Dmg) sebesar 5,61 dan indeks kemerataan (E) sebesar 0,82. Berdasarkan Red-list IUCN terdapat jenis dengan kategori <em>Endangered</em> (EN) yang juga termasuk dalam Appendix I CITES yaitu Bangau bluwok <em>(Mycteria cinerea) </em>dan satu jenis lainnya yaitu Pecukular asia <em>(Anhinga melanogaster)</em> yang termasuk dalam Red-list IUCN dengan kategori <em>Near Threatened</em> (NT). Sedangkan berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106 Tahun 2018 terdapat 4 jenis yang dilindungi yaitu Pecukular asia <em>(Anhinga melanogaster), </em>Cangak laut <em>(Ardea sumatrana), </em>Bangau bluwok <em>(Mycteria cinerea), </em>Ibis rokoroko <em>(Plegadis falcinellus).</em> Hasil perhitungan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) dan Indeks Kemerataan (E) pada kategori pohon pada vegetasi mangrove di Kawasan Mangrove Desa Pantai Mekar, Muara Gembong ternyata mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Hal tersebut disebabkan oleh adanya proses suksesi komunitas menuju tahap ekosistem yang lebih stabil.</p> <p><em>Kata kunci: bungau bluwok, keanekaragaman hayati, mangrove</em></p> Jurnal CARE CARE Adi Firmansyah Copyright (c) 2020 Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) 2020-09-29 2020-09-29 5 1 43 51 STRATEGI RESILIENSI PAUD ALAM AL FIRDAUS DI MASA COVID 19 http://journal.ipb.ac.id/index.php/jurnalcare/article/view/32636 <p>Pandemi Covid-19 yang melanda dunia tidak terkecuali Indonesia telah mendorong dunia pendidikan untuk mengembangkan inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran <em>o</em><em>nline</em> seiring penutupan sekolah, termasuk PAUD Alam Al Firdaus. Tujuan kajian ini adalah: (1) Identifikasi masalah dan tantangan PAUD Alam Al Firdaus di masa Pandemi Covid-19; (2) Strategi resiliensi PAUD Alam Al Firdaus menghadapi Pandemi Covid-19; (3) Dampak positif program kegiatan PAUD Alam Al Firdaus menghadapi Pandemi Covid-19. Metode pengumpulan data dilakukan melalui beberapa cara. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara dan <em>Focus Group Discussion</em> (FGD) terhadap sejumlah responden. Penentuan responden dilakukan dengan metode <em>purposive sampling</em> atau ditentukan dengan sengaja. Responden terdiri dari pengelola PAUD Alam Al Firdaus, guru, orang tua murid, dan anggota kelompok binaan. Wawancara dilakukan dengan kuesioner secara terstruktur. Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui studi literatur terkait penelitian sejenis. Hasil kajian menunjukkan bahwa tingkat kerentanan komunitas PAUD Alam Al Firdaus terhadap Pandemi Covid-19 cukup tinggi dengan nilai keterpaparan sosial ekonomi komunitas 2,5. Siswa dan masyarakat binaan mendapat nilai keterpaparan paling tinggi di samping guru/tutor PAUD dan pengelola. Tingkat sensitivitas sosial terhadap pandemi juga tinggi dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan komunitas PAUD. Terlepas dari semua tantangan tersebut, kapasitas adaptasi komunitas PAUD Alam Al Firdaus masih terbilang tinggi disebakan kuatnya modal sosial yang dimiliki antara lain jaringan, komitmen komunitas, rasa kepemilikan, kerja sama, kepercayaan, serta adanya inovasi. Modal sosial yang cukup tinggi berupa komitmen komunitas, rasa kepemilikan terhadap PAUD mendorong bangkitnya semangat untuk mencari terobosan-terobosan bersama.</p> <p><strong>Kata kunci: </strong>adaptasi komunitas, Covid-19, modal sosial, PAUD Alam</p> Jurnal CARE CARE Copyright (c) 2020 Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) 2020-09-29 2020-09-29 5 1 52 62 Sinergi Program Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Lingkungan Melalui Inovasi Maggot http://journal.ipb.ac.id/index.php/jurnalcare/article/view/32683 <p>Produksi sampah di Kota Bekasi mencapai sekitar 1.800 ton setiap hari, dari jumlah tersebut baru 900 ton yang bisa diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), dan sisanya&nbsp; belum dikelola dan berpotensi mencemari lingkungan. Temuan SWI menyebutkan jenis sampah yang paling banyak dihasilkan adalah sampah organik sebanyak 60 persen. Strategi pengelolaan sampah yang paling efektif adalah mengelola sampah dari sumbernya. Salah satu sumber penghasil sampah adalah rumah tangga.&nbsp; Aktivitas rumah tangga setiap harinya turut menyumbang limbah yang cukup signifikan. Atas dasar tersebut PT Pertamina EP Asset 3 Tambun Field pun hadir dalam rangka pendampingan kelompok pengelola sampah organik melalui biokonversi menggunakan <em>Black Soldier Fly</em> (BSF) atau maggot. Berdasarkan hasil kajian, penggunaan larva BSF sebagai pengolah sampah organik merupakan suatu peluang yang menjanjikan, karena BSF mempunyai kecepatan dalam mengurai sampah organik, juga larva BSF yang dipanen tersebut dapat berguna sebagai sumber protein untuk pakan hewan (ternak), sehingga dapat menjadi pakan alternatif pengganti pakan pabrik. Inovasi program CSR Pertamina EP Tambun Field adalah mensinergikan program budidaya maggot, budidaya toga dan perikanan. Program ini telah mempu mengurangi pelepasan gas CH<sub>4</sub> ke udara sebesar 600 kg gas CH<sub>4</sub> dan 1.655 kg gas CH<sub>4</sub> pada tahun 2020. Program ini juga dapat mengurangi emisi CO<sub>2</sub> sebesar 14,7 ton pada tahun 2019, dan pada tahun 2020 pengurangan emisi CO<sub>2</sub> menjadi 40,55 ton.</p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em> biokonversi maggot, sinergi inovasi, sampah organik, emisi</em></p> Jurnal CARE CARE Copyright (c) 2020 Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) 2020-09-29 2020-09-29 5 1 63 70