ANALISIS MULTIDIMENSIONAL UNTUK PENGELOLAAN PERIZINAN PERIKANAN YANG BERKELANJUTAN : STUDI KASUS WPP LAUT ARAFURA

  • Ridwan Mulyana Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Perikanan dan Kelautan Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB
  • John Haluan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Perikanan dan Kelautan Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB
  • Mulyono S. Baskoro Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Perikanan dan Kelautan Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB
  • Sugeng Hari Wisudo Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Perikanan dan Kelautan Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB

Abstrak

Perizinan penangkapan, sebagai alat pengelolaan perikanan, merupakan salah satu instrumen yang populer untuk mengendalikan pemanfaatan sumber daya ikan. Tujuan perizinan penangkapan ikan bagi pemerintah adalah: (1) untuk optimalisasi keberlanjutan sumberdaya ikan, (2) untuk mempertahankan keberlanjutan sumber daya ikan, dan (3) untuk mendapatkan manfaat ekonomi sebagai pendapatan pemerintah. Sebagai bagian dari manajemen perikanan, perizinan penangkapan mempengaruhi banyak aspek perikanan sebagai ekologi, teknologi ekonomi, sosial, dan etika. Perizinan penangkapan untuk perikanan skala besar di Laut Arafura memainkan peran penting dalam perikanan Indonesia dimana Pemerintah mengeluarkan 1.072 perizinan penangkapan atau hampir 25% dari total modal ditempatkan perizinan untuk semua perairan Indonesia. Sayangnya, Laut Arafura menghadapi banyak masalah dan isu-isu seperti penangkapan berlebih, perikanan IUU, merusak habitat ikan dan lingkungan yang mengancam keberlanjutan perikanan. Jadi penting untuk mengetahui keadaan keberlanjutan Laut Arafura di masa sekarang untuk menentukan kebijakan perizinan penangkapan terbaik. Analisis RAPFISH untuk keberlanjutan perikanan (termasuk Leverage dan analisis Monte Carlo) menurut jenis utama perikanan memberikan beberapa hasil yaitu: (1) perikanan dari Laut Arafura adalah berkelanjutan cukup dengan skor 53,86, (2) squid jigging, rawai dasar, jaring insang dan perikanan yang berkelanjutan cukup, tetapi jaring ikan dan udang kurang berkelanjutan, (3) dimensi ekologi berkelanjutan baik dengan skor 72,43, tetapi dimensi etika kurang berkelanjutan dengan skor 37,26. Analisis Leverage menunjukkan atribut yang memberikan pengaruh tertinggi untuk masing-masing dimensi sebagai: (1) ukuran ikan pada dimensi ekologi, (2) sektor pekerjaan pada dimensi ekonomi, (3) menggunakan selektivitas FAD (perangkat menarik ikan), (4) tingkat pendidikan pada dimensi sosial, dan (5) manajemen pada dimensi etika. Ini direkomendasikan untuk pengembangan perikanan Arafura Laut untuk mempromosikan alat tangkap rawai keberlanjutan seperti squid jigging, rawai dasar, dan perikanan jaring insang.
Diterbitkan
2017-04-10
Bagian
JTPK NOVEMBER 2011