Browse Title Index


 
Issue Title
 
Vol 1, No 2 (2010): Marine Fisheries ALOKASI OPTIMUM DAN WILAYAH PENGEMBANGAN PERIKANAN BERBASIS ALAT TANGKAP POTENSIAL DI TELUK JAKARTA Abstract
Siti Radarwati, Mulyono S. Baskoro, Daniel R. Monintja, A. Purbayanto
 
Vol 2, No 1 (2011): Marine Fisheries ANALISIS INDRA PENGLIHATAN IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) DAN HUBUNGANNYA DALAM MERESPONS UMPAN Abstract
M Riyanto, Ari Purbayanto, D S.S. Natsir
 
Vol 2, No 2 (2011): Marine Fisheries ANALISIS SUMBER DAYA PERIKANAN LEMURU (Sardinella lemuru Bleeker 1853) DI SELAT BALI (Analysis of the Sardine Oil (Sardinella lemuru Bleeker 1853) Resources in Bali Strait) Abstract   PDF
Himelda Himelda, Eko Sri Wiyono, Ari Purbayanto, Mustaruddin Mustaruddin
 
Vol 2, No 1 (2011): Marine Fisheries EFEKTIVITAS PEMANFAATAN RUMPON PADA OPERASI PENANGKAPAN IKAN DI PERAIRAN KEI KECIL, MALUKU TENGGARA Abstract
Domu Simbolon, Benediktus Jeujanan, Eko Sri Wiyono
 
Vol 2, No 2 (2011): Marine Fisheries EVALUASI DESAIN DAN STABILITAS KAPAL PENANGKAP IKAN DI PALABUHANRATU (STUDI KASUS KAPAL PSP 01) Fishing Vessel Design and Stability Evaluation in Palabuhanratu (Case Study of PSP 01 Training-Fishing Vessel) Abstract   PDF
Adi Susanto, Budhi Hascaryo Iskandar, Mohammad Imron
 
Vol 2, No 1 (2011): Marine Fisheries FORMULASI STRATEGI PENGEMBANGAN PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA PENGAMBENGAN JEMBRANA Abstract
A. Suherman
 
Vol 2, No 2 (2011): Marine Fisheries JENIS UMPAN DAN BENTUK PERANGKAP PLASTIK YANG EFEKTIF UNTUK MENANGKAP RAJUNGAN (Efective Bait and Plastic Trap Shape in Catching Swimming Crab) Abstract
Gondo Puspito
 
Vol 2, No 2 (2011): Marine Fisheries KELEMBAGAAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA PERIKANAN TANGKAP BERBASIS RESOLUSI KONFLIK DI KALIMANTAN SELATAN (Institutional of Capture Fishery Resources Management Based on Conflict Resolution in South Kalimantan) Abstract   PDF
Rusmilyansari Rusmilyansari
 
Vol 1, No 2 (2010): Marine Fisheries KERAGAAN FREE SURFACE MODEL PALKA BERBENTUK KOTAK DAN SILINDER Abstract
Y. Novita, B. H. Iskandar, B. Murdiyanto, B. Wiryawan, Hariyanto Hariyanto
 
Vol 2, No 1 (2011): Marine Fisheries KINERJA DIREKTORAT PELAYANAN USAHA PENANGKAPAN IKAN-KKP SEBAGAI SALAH SATU STAKEHOLDER PERIZINAN USAHA PENANGKAPAN IKAN Abstract
Shinta Yuniarta, Sugeng Hari Wisudo, Budhi Hascaryo Iskandar
 
Vol 1, No 2 (2010): Marine Fisheries KONFLIK ILLEGAL FISHING DI WILAYAH PERBATASAN INDONESIA-AUSTRALIA Abstract
Akhmad Solihin
 
Vol 1, No 2 (2010): Marine Fisheries KONFLIK PERIKANAN TANGKAP DI PERAIRAN KABUPATEN BENGKALIS PROVINSI RIAU Abstract
T. Ersti Yulika Sari, Sugeng Hari Wisudo, Daniel R. Monintja, Tommy Purwaka
 
Vol 2, No 1 (2011): Marine Fisheries KONSUMSI OKSIGEN BENIH IKAN KERAPU BEBEK (Cromileptes altivelis) UKURAN PANJANG 5-7 CM Abstract
Yopi Novita, Budhi Hascaryo Iskandar, Bambang Murdiyanto, Budy Wiryawan, Hariyanto Hariyanto
 
Vol 2, No 2 (2011): Marine Fisheries MODEL BIOEKONOMI EKSPLOITASI MULTISPESIES SUMBER DAYA PERIKANAN PELAGIS DI PERAIRAN SELAT BALI (Bio-economic Model of Multispecies Exploitation of Pelagic Fishery Resources in the Bali Strait) Abstract
N. Zulbainarni, M. Tambunan, Y. Syaukat, A. Fahrudin
 
Vol 1, No 2 (2010): Marine Fisheries MODEL PENGELOLAAN SUMBER DAYA PERIKANAN TANGKAP BERBASIS RESOLUSI KONFLIK Abstract
Rusmilyansari Rusmilyansari, B. Wiryawan, J. Haluan, D. Simbolon
 
Vol 4, No 1 (2013): Marine Fisheries

Penggunaan polyurethane sebagai bagian dari sistem insulasi pada palka kapal penangkap ikan sudah sangat umum digunakan. Namun demikian takaran yang diaplikasikan masih berdasarkan pengalaman dan perkiraan pembuatnya. Salah satu kriteria teknis adalah densitas material insulasi (ρ). Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan  nilai densitas insulasi yang  digunakan pada palka kapal penangkap ikan di Pekalongan. Palka dari dua kapal penangkap ikan dan bahan insulasi polyurethane digunakan sebagai obyek dalam penelitian ini untuk menentukan apakah densitas insulasi yang digunakan sudah memenuhi batas minimum. Nilai densitas standar yang digunakan adalah nilai densitas (ρ) polyurethane > 30 kg.m-3 (Dellino 1997). Hasil penelitian menunjukkan, nilai densitas insulasi yang bervariasi.  Pada kapal 1 densitas berkisar 28,15 kg.m-3-30,86 kg.m-3, sementara itu pada kapal 2 berkisar 31,67 kg.m-3-33,58 kg.m-3. Pada kapal 1 hanya 70% dinding palka memiliki insulasi sesuai dengan standar, sementara pada kapal 2 semua dinding palka memenuhi standar yang digunakan.

Kata kunci: densitas, insulasi, polyurethane, kapal penangkap ikan
Abstract
Wilma Amiruddin, Budhi Hascaryo Iskandar, Bambang Murdiyanto, Mulyono S. Baskoro
 
Vol 4, No 1 (2013): Marine Fisheries

Pengamatan alat tangkap umumnya dilakukan pada skala lapang bersamaan dengan operasi penangkapan.  Permasalahan yang muncul pada saat pengamatan dapat diatasi, dengan melakukan pengamatan alat berskala laboratorium.  Pengujian tersebut membutuhkan model alat tangkap yang dirancang untuk diujikan pada skala laboratorium. Model cantrang dibuat berdasarkan data desain dan konstruksi cantrang nelayan Brondong, Jawa Timur yang berukuran panjang total 53,16 meter. Metode perancangan model dibuat dibuat menggunakan perbandingan 1:30 pada seluruh bagian cantrang. Pengujian dilakukan pada Laboratorium flume tank pada dua kecepatan berbeda. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kecepatan pertama bukaan mulut jaring berbentuk bulat dengan tinggi antara 22 hingga 24 cm, dan pada kecepatan 2 berbentuk oval dengan tinggi mulut berukuran 15 hingga 18 cm.

Kata kunci: cantrang, perancangan, flume tank, model
Abstract
Suparman Sasmita, Sulaeman Martasuganda, Ari Purbayanto
 
Vol 4, No 1 (2013): Marine Fisheries

Dalam hubungannya dengan masalah bagaimana memanfaatkan hasil tangkapan sampi-ngan (HTS) dari aktivitas penangkapan ikan dan untuk mematuhi Code of Conduct for Responsible Fisheries, kami mengolah HTS menjadi produk bernilai tambah. Dalam penelitian ini, kulit ikan cucut dan ikan pari digunakan untuk pembuatan gelatin. Lima rasio pengkomposisian berbeda antara kulit ikan cucut dan ikan pari 100:0, 75:25, 50:50, 25:75, dan 0:100 digunakan dalam produksi gelatin. Karakteristik fisik dan kimia gelatin dari masing-masing perlakuan termasuk gelatin sapi komersial dievaluasi. Rasio pengkomposisian kulit ikan cucut dan ikan pari 50:50 menghasilkan gelatin terbaik pada parameter viskositas, kekuatan gel dan titik leleh dengan nilai berturut-turut 11,77 cP; 230,33 Bloom dan 31,9 oC. Gelatin tersebut mengandung air, abu, lemak dan protein berturut-turut sebesar 6,89; 0,59; 0,71 dan 82,94 g/100 g. Glisin, prolin dan asam glutamat merupakan tiga asam amino terbesar yang dijumpai pada seluruh gelatin yang dihasilkan.

Kata kunci: hasil tangkapan sampingan, pengkomposisian, gelatin, ikan hiu, kulit ikan, ikan pari
Abstract
Joko Santoso, Shynie Shynie, Sarmauli I. Manurung
 
Vol 4, No 1 (2013): Marine Fisheries

Analisis potensi lestari perikanan tangkap di Kabupaten Kepulauan Sitaro dilatarbelakangi oleh besarnya potensi sumberdaya perikanan yang dimiliki yaitu 78,18% dari seluruh jumlah produksi ikan di Kabupaten Kepulauan Sitaro atau 11.743,20 ton/tahun pada tahun 2010. Penelitian ini bertujuan melihat karakteristik pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap dan berapa besar potensi lestari perikanan tangkap di Kabupaten Kepulauan Sitaro sebagai dasar penilaian pengelolaan sumberdaya perikanan berkelanjutan. Hasil perhitungan dengan mengguna-kan model Schaefer didapatkan potensi lestari (MSY) ikan pelagis kecil sebesar 7.904,85 ton/tahun dan upaya optimumnya adalah 18.291,60 unit/tahun. Kemudian diikuti oleh kelompok ikan pelagis besar sebesar 2.689,32 ton/tahun dan upaya optimumnya adalah 99.173,20 unit/tahun. Sedangkan kelompok ikan damersal potensi lestari sebesar 702,74 ton/tahun dan upaya optimumnya adalah 16.151,97 unit/tahun, selanjutnya kelompok ikan karang potensi lestari sebesar 446,30 ton/tahun dan upaya optimum adalah 34.129,00 unit/tahun. Keberlangsungan perikanan tangkap di Kabupa-ten Kepulauan Sitaro dilakukan dengan membuat kebijakan, strategi, program dan rencana aksi pengelolaan sumberdaya perikanan berkelanjutan yang mengatur secara tegas zona penang-kapan; jumlah, ukuran dan jenis ikan yang boleh dan tidak boleh ditangkap; zona perlindungan daerah pemijahan dan tempat asuhan ikan kecil maka dapat menjaga keberadaan sumberdaya perikanan untuk masa yang akan datang.

Kata kunci: perikanan, kepulauan, MSY, Sitaro
Abstract
Joyce Kumaat, John Haluan, Sugeng Hari Wisudo, Daniel R. Monintja
 
Vol 4, No 1 (2013): Marine Fisheries

Sea ranching merupakan pelepasan ikan ke laut untuk ditangkap setelah mencapai ukuran konsumsi. Sea ranching biasanya diterapkan ketika rekrutmen alami rendah atau bahkan tidak ada dikarenakan sangat intensifnya penangkapan atau rusaknya habitat yang mendukung hal tersebut. Penelitian ini mengkaji daya dukung berdasarkan produktivitas primer. Selain itu juga mengkaji model restocking dalam sistem sea ranching.  Kajian ini menemukan bahwa perairan Semak Daun sudah mengalami tangkap lebih rekrutmen (recruitment overfishing).  Untuk itu perlu dilakukan restocking dengan sistem sea ranching. Daya dukung perairan bagi ikan kerapu macan, yaitu antara 0,703-1,06 ton/th dengan rata-rata 0,88 ton/th. Tebar sebaiknya diterapkan setiap bulan dan penangkapan pun dilakukan setiap hari sepanjang bulan. Pola tebar yang optimal adalah panjang benih 11 cm dengan  padat tebar 14.000 ekor pada mortalitas tangkapan 0,5 atau panjang benih 13 cm dengan padat tebar 13000 pada mortalitas tangkapan 0,4.

Kata kunci: daya dukung, Epinephelus fuscoguttatus,restocking, sea ranching
Abstract
Rahmat Kurnia, Kadarwan Suwardi, Ismudi Muchsin, Mennofatria Boer
 
Vol 4, No 1 (2013): Marine Fisheries

Usaha perikanan skala kecil yang dikelola oleh masyarakat pesisir termasuk yang paling kecil mengakses kredit atau pembiayaan perbankan, padahal jumlah usaha skala kecil pada bidang perikanan ini cukup besar, yaitu mencapai 26,2 juta unit.  Kondisi ini tidak lepas dari belum efektifnya interaksi stakeholders dan komponen terkait dalam mendukung kinerja pembiayaan perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interaksi komponen pembiayaan yang signifikan mempengaruhi kinerja pembiayaan perikanan skala kecil di Kota Tegal.  Penelitian ini menggunakan metode structural equation modeling (SEM). Hasil analisis menunjukkan peran lembaga perbankan signifikan mempengaruhi naik-turunnya kinerja pembiayaan, sedangkan kebijakan politik, performance usaha perikanan skala kecil, dan peran lembaga pemerintah tidak signifikan. Pada tataran teknis, penyaluran kredit/pembiayaan oleh bank umum (BRI dan BPD) secara signifikan mendukung peran lembaga perbankan dan dapat meningkatkan kinerja pembiayaan, sedangkan BPR belum. Terkait jenis kredit/pembiayaan, yang siginfikan dirasakan manfaatnya oleh nelayan kecil adalah kredit ketahanan pangan dan energi (KKPE), sedangkan kredit usaha kecil (KUR) dan bantuan pinjaman langsung masyarakat (BPLM) belum signifikan dirasakan manfaatnya meningkatkan pembiayaan perikanan skala kecil Kota Tegal. Program penyuluhan, bimbingan teknis, dan pendampingan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI) signifikan membantu peningkatan kinerja pembiayaan perikanan skala kecil di Kota Tegal. Nilai Net B/C, IRR, dan ROI yang baik signifikan dapat meningkatkan produktivitas dan kinerja pembiayaan perikanan skala kecil, sedangkan nilai NPV tidak.

Kata kunci: pembiayaan, kinerja, signifikan, perikananan skala kecil
Abstract
Prabowo Prabowo, Eko Sri Wiyono, John Haluan, Budhi Hascaryo Iskandar
 
Vol 4, No 1 (2013): Marine Fisheries

Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu telah ditetapkan sebagai lokasi proyek minapolitan perikanan tangkap. Pemerintah daerah menetapkan tuna dan layur sebagai komoditas unggulan minapolitan. Salah satu aspek penting yang harus diperhatikan dalam pengembangan komoditas unggulan adalah  integrasi pasar. Dalam integrasi pasar, harga suatu komoditas sangat responsif terhadap perubahan harga produk yang memiliki kualitas yang sama di pasar lainnya. Hubungan harga spasial dapat menunjukkan kinerja pasar secara keseluruhan. Kinerja pasar yang efisien dapat digunakan sebagai salah satu daya saing komoditas unggulan minapolitan di Palabuhanratu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi pasar tuna dan layur di kawasan minapolitan perikanan tangkap Palabuhanratu. Model Ravallion digunakan untuk menganalisis integrasi pasar tuna dan layur antara pasar lokal dan  pasar ekspor. Metode Index of Market Connection digunakan untuk menghitung derajat integrasi di antara kedua pasar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasar bigeye tuna segar dan layur di Palabuhanratu terintegrasi baik untuk jenis pasar lokal maupun pasar ekspor.

Kata kunci: perikanan tangkap, integrasi pasar, minapolitan, Palabuhanratu
Abstract
Ardani Ardani, Tri Wiji Nurani, Ernani Lubis
 
Vol 1, No 2 (2010): Marine Fisheries

Penelitian ini dilakukan di sejumlah pasar ikan segar di Kawasan Maluku Tengah dan bertujuan untuk menganalisis perilaku pasar ikan segar dengan pendekatan fungsi dan kelemba-gaan. Pengetahuan tentang fungsi dan kelembagaan pemasaran berguna untuk mempertimbang-kan bagaimana pemasaran harus dilakukan, mengevaluasi biaya pemasaran akibat adanya perbedaan perlakuan serta mempertimbangkan sifat dan karakter dari pedagang perantara, hubungan agen dan susunan/perlengkapan organisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat rantai pemasaran ikan segar di Kawasan Maluku Tengah dan fungsi jual, risiko, biaya dan informasi pasar dilakukan oleh semua lembaga yang ada pada setiap saluran pemasaran. Peran pedagang pengumpul dalam menentukan harga ikan di pasar sangat besar. Strategi pedagang untuk menarik pembeli adalah dengan menambah satu atau dua ekor ikan kepada pembeli. Pedagang jarang menurunkan harga jual ikan, namun ketika satu atau dua ekor ikan ditambahkan kepada konsumen, secara tidak sengaja pedagang telah menurunkan harga jual ikan.

Kata kunci: Maluku Tengah, fungsi dan kelembagaan, pemasaran
Abstract
Yolanda M.T.N Apituley, Eko Sri Wiyono, Musa Hubies, Victor P. H Nikijuluw
 
Vol 4, No 1 (2013): Marine Fisheries

Penelitian ini dilakukan di sejumlah pasar ikan segar di Kawasan Maluku Tengah dan bertujuan untuk menganalisis perilaku pasar ikan segar dengan pendekatan fungsi dan kelemba-gaan. Pengetahuan tentang fungsi dan kelembagaan pemasaran berguna untuk mempertimbang-kan bagaimana pemasaran harus dilakukan, mengevaluasi biaya pemasaran akibat adanya perbedaan perlakuan serta mempertimbangkan sifat dan karakter dari pedagang perantara, hubungan agen dan susunan/perlengkapan organisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat rantai pemasaran ikan segar di Kawasan Maluku Tengah dan fungsi jual, risiko, biaya dan informasi pasar dilakukan oleh semua lembaga yang ada pada setiap saluran pemasaran. Peran pedagang pengumpul dalam menentukan harga ikan di pasar sangat besar. Strategi pedagang untuk menarik pembeli adalah dengan menambah satu atau dua ekor ikan kepada pembeli. Pedagang jarang menurunkan harga jual ikan, namun ketika satu atau dua ekor ikan ditambahkan kepada konsumen, secara tidak sengaja pedagang telah menurunkan harga jual ikan.

Kata kunci: Maluku Tengah, fungsi dan kelembagaan, pemasaran
Abstract
Yolanda M.T.N Apituley, Eko Sri Wiyono, Musa Hubies, Victor P. H Nikijuluw
 
Vol 4, No 1 (2013): Marine Fisheries

Parameter oseanografi seperti upwelling dan thermal front dapat digunakan sebagai indikator daerah penangkapan ikan potensial. Pengetahuan tentang lokasi perairan dengan fenomena tersebut akan dapat membantu para nelayan untuk mencari daerah penangkapan ikan potensial. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sebaran suhu permukaan laut (SPL), dan  memprediksi keberadaan thermal front dan upwelling di perairan Mentawai. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2006 di Perairan Mentawai. Sedangkan Citra SPL yang diolah  Juni 2006-September 2007. Analisa data yang digunakan adalah secara visual untuk menentukan thermal front dan upwelling. Pada musim timur SPL berkisar 26-32°C, musim peralihan timur-barat berkisar  23-32oC, musim barat berkisar 23-32oC, musim peralihan barat-timur berkisar antara 25-32oC. Thermal front hampir ditemukan sepanjang tahun di sekitar Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, Pulau Pagai Selatan dan sekitar Pasaman. Indikasi upwelling tidak ditemukan pada musim barat. Pada musim timur, upwelling ditemukan di sekitar Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, Pulau Pagai Selatan. Pada musim peralihan timur barat, upwelling ditemukan di sekitar Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara. Pada musim barat timur, upwelling ditemukan di sekitar Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara.

Kata kunci: Perairan Mentawai, suhu permukaan laut (SPL), thermal front, upwelling
Abstract
Domu Simbolon, Silvia Silvia, Prihatin Ika Wahyuningrum
 
1 - 25 of 41 Items 1 2 > >>