Pengaruh Suhu Ruang Simpan dan Perlakuan Pasca Penyimpanan terhadap Mutu dan Produktivitas Umbi Benih Bawang Merah (Allium cepa L. group Aggregatum)

Alvita Sekar Sarjani, Endah Retno Palupi, Muhammad Rahmad Suhartanto, Y. Aris Purwanto

Abstract


ABSTRACT
The fluctuative price of shallot in Indonesia is mainly due to discontinuous supply. Shallot is usually planted three times a year. Lack of supply occurs during July to October. Therefore, the produce need to be stored to ensure its availability during off season, not only for consumption but also as seed bulb for the following planting season. The research was aimed to maintain the quality of seed bulbs during twelve weeks storage and to evaluate productivity of the seed bulbs after storage. Shallot seed bulbs of Bima Brebes was used for the research that was devided into two steps. The first step was arranged in nested design, in which seed bulb was stored at 0 0C, 5 0C, 10 0C and ambient temperature nested into storage period i.e 0, 3, 6, 9 and 12 weeks with four replications. The second step was evaluation of productivity of the seed bulbs that was arranged in nested design. The seed bulbs, after being stored at diferent condition, was subjected to different acclimatization treatments i.e. gradual increase of temperatures for 3 days and direct change to ambient temperature for one day, to devernalize the seed bulbs and replicated our times. The results showed that the dormant period of shallot seed bulbs lasted for 8 weeks after harvest (6 week after storage) as indicated by germination and vigor index of >90%. The termination of dormancy coincided with a rise in GA, IAA and cytokines as well as ABA. Storing the seed bulbs for 3 months in 5 0C could maintain its viability and vigor >90%, with 9.8% of total damage and 15.6% of weight loss. The seed bulbs grew normally and produced 30.2 g of bulb per plant. The percentage of flowering plant of gradually acclimatized seed bulbs previously stored at 5 0C (10.3%) was not significantly different from those directly acclimatized at ambient temperature (12%).
Keywords: ABA, cytokinin, dormancy, GA, weight loss
ABSTRAK
Penyebab utama fluktuasi harga bawang merah di pasar adalah ketersediaan umbi bawang merah yang tidak stabil. Di daerah sentra produksi, bawang merah ditanam tiga kali dalam setahun. Bulan Juli sampai Oktober adalah periode hasil panen rendah. Penyimpanan umbi merupakan salah satu upaya untuk menjamin ketersediaannya di luar musim panen, tidak hanya untuk konsumsi tetapi juga memastikan ketersediaan umbi sebagai benih pada musim tanam selanjutnya. Penelitian ini bertujuan mempertahankan kualitas benih umbi selama 12 minggu disimpan dan mengevaluasi produktivitasnya setelah penyimpanan. Bahan yang digunakan adalah benih umbi bawang merah varietas Bima Brebes. Penelitian dibagi dalam dua tahap. Tahap pertama adalah penyimpanan benih umbi dirancang dalam nested design yang mana benih umbi disimpan pada suhu 0 0C, 5 0C, 10 0C dan suhu ruang tersarang pada waktu penyimpanan yang terdiri atas 0, 3, 6, 9 dan 12 minggu dan diulang empat kali. Tahap kedua adalah evaluasi produktivitas benih umbi setelah disimpan dirancang dalam nested design. Umbi yang telah disimpan (12 minggu) pada masing-masing kondisi simpan diberi perlakuan aklimatisasi, yaitu suhu berjenjang (3 hari) dan suhu ruang langsung (1 hari), untuk mencegah pembungaan. Setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali (ulangan tersarang pada aklimatisasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih umbi mengalami dormansi sampai 8 minggu setelah panen (6 minggu setelah simpan), ditandai dengan daya berkecambah dan indeks vigor di atas 90%. Berakhirnya dormansi benih umbi bersamaan dengan peningkatan kandungan giberelin, auksin, dan sitokinin mengimbangi peningkatan asam absisat. Penyimpanan benih selama 12 minggu pada suhu 5 0C dapat mempertahankan viabilitas dan vigor di atas 90% dengan kerusakan (umbi bertunas, chilling injury, hampa atau busuk) sebesar 9.8% dan susut bobot sebesar 15.6%. Setelah disimpan selama 12 minggu benih dapat tumbuh normal dan memproduksi 30.2 g umbi per tanaman. Aklimatisasi suhu berjenjang umbi benih yang telah disimpan pada suhu 5 0C menghasilkan persentase pembungaan (10.3%) yang tidak berbeda nyata dengan aklimatisasi suhu ruang langsung (12%).
Kata kunci: ABA, dormansi, GA, sitokinin, susut bobot

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.29244/jhi.9.2.111-121

 

Editorial Office:

Department of Agronomy and Horticulture

Faculty of Agriculture, Bogor Agricultural University

Wing 3 Level 6 Jl. Meranti, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680

Telp (0251) 8422889, email : jhi.perhorti@gmail.com

 

Copyright Notice: 

All publications by Jurnal Hortikultura Indonesia (Indonesian Journal of Horticulture) 

[p-ISSN:  2087-4855, e-ISSN:  2614-2872] is licensed under a CC BY-NC-SA Creative Commons Attribution-Share Alike 4.0 International License.





.
View JHI Statistics