Prospek penggunaan biotin dan (atau) copper dalam ransum kelinci sedang bunting

S. Prawirodigdo ., D. Utomo ., D. Andayani .

Abstract


Suatu penelitian untuk mempelajari prospek pemberian biotin dan (atau) copper (Cu) telah dilakukan dengan menggunakan 28 ekor kelinci dara (umur ± 7 bulan) keturunan Flemish Giant x New Zealand White dengan rata-rata bobot badan 3148.70 g. Sehari setelah dikawinkan, ternak penelitian secara acak diberi salah satu diantara ransum R1 (Ransum basal dengan kandungan protein 14% dan energi ±  2450 kkal/kg, R2 (ransum basal ± 0.1 mg biotin/kg), R3 (ransum basal ±  50 mg CuS04SH2O/kg) atau R4 (ransum ±  0.1 mg biotin ± 50 mg CuS045H2O/kg).Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ransum R2 belum secara statistik mampu meningkatkan jumlah anak sekelahiran, sedangkan ransum R3 menghasilkan rata-rata jumlah anak sekelahiran (7 ekor/induk) sangat nyata (P > 0.01) lebih banyak dari pada jumlah anak (4.80 ekor) dari induk yang diberi R,, tetapi tidak berbeda nyata dengan yang menerima R2 (5.75 ekor/induk). Ransum R4 menghasilkanjumlah anak sekelahiran (8 ekor/induk) sangat nyata (P < 0.01) lebih banyak dari pada R1 maupun R2, tetapi tidak berbeda nyata dengan ransum R3. Rata-rata bobot  lahir anak secara individu dan bobot lahir anak sekelahiran yang dihasilkan dari perlakuan R1, R2, R3 dan R4 (masing-masing 50.30 g, 48.02 g, 41 .O1 g, dan 40.95 g serta 242.00 g, 273.63 g, 281 .SO g dan 325.50 g) tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, tetapi jumlah anak sekelahiran banyak dan bobot lahir individunya cenderung lebih ringan.Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian Cu dalam ransum induk kelinci sedang bunting lebih diperlukan dari pada pemberian biotin secara tunggal, tetapi pemberian secara kombinasi keduanya menunjukkan prospek yang lebih memuaskan. Studi ini juga mengingatkan bahwa penelitian mengunakan kelinci dara yang melibatkan evaluasi penampilan reproduksi seharusnya minimum dilakukan sampai paritas kedua.

Full Text:

PDF