KIVP-6 Case Report: Seroprevalensi Tuberkulosis Menggunakan Uji Tuberkulin Kulit Mammalian Old Tuberculine (MOT) pada Macaca fascicularis Hasil Penyitaan Topeng Monyet

Mariana Kresty Ferdinandez, . Benvika, Femke Den Haas, ML Schure

Abstract


Di Indonesia, salah satu atraksi populer di masyarakat yang menggunakan monyet ekor panjang adalah atraksi Topeng Monyet. Di Pulau Jawa, topeng monyet juga disebut ledhek kethek. Menurut Cohen (2006)  pada era tahun 1980an topeng monyet digunakan mengamen di pasar, perkotaan dan perdesaan diiringi musik tradisional. Kesenian ini melibatkan pawang untuk melatih monyet meniru perilaku manusia, seperti berpakaian, menari dan berdandan. Penonton topeng monyet umumnya adalah anak-anak (Aiai 2015).

Monyet yang digunakan untuk atraksi topeng monyet berpotensi untuk menularkan penyakit zoonosis pada manusia. Penelitian Schillaci et al (2002) menyatakan bahwa monyet yang digunakan untuk atraksi topeng monyet merupakan hewan reservoir  untuk virus enzootic simian yang dapat menginfeksi manusia.

Salah satu penyakit lainnya yang bersifat zoonosis dan memiliki resiko ditularkan dari monyet topeng monyet adalah penyakit tuberkulosis. Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri tahan asam yaitu Mycobacterium tuberculosis.

Untuk mengetahui status infeksi tuberkulosis dari individu primata, salah satu metode pemeriksaan yang disetujui oleh Institute for Laboratory Animal Research (ILAR) dan Center for Disease Control (CDC) adalah metode pemeriksaan dengan menggunakan uji tuberculin kulit pada hewan dalam tahapan karantina. Uji tuberculin kulit yang dapat digunakan yaitu mamalian old tuberculin (mot), bovine purified protein derivates (bovine ppd) dan avian purified protein derivates ( avian ppd) (Lecu et al 2013).


Full Text:

PDF