KIVSL-2 Pengaruh Keberadaan Jaringan Fibroid pada Saluran Reproduksi Badak Sumatera Betina terhadap Potensi Kebuntingannya

Ni Made Ferawati, Zulfi Arsan, Agvinta Nilam Wahyu Yudhichia, Sumadi Hasmaran, Terri Roth

Abstract


Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) merupakan salah satu dari 5 spesies badak di dunia yang hampir mengalami kepunahan. Saat ini, badak Sumatera hanya bisa ditemukan dikedalaman hutan hujan tropis pulau Sumatera dan Kalimantan.  Pada Tahun 2015, berdasarkan hasil pertemuan PVA (Poppulation Viability Analysis) Badak Sumatera, diketahui bahwa jumlah individu badak Sumatera di dunia adalah kurang dari 100 individu. Beberapa penyebab penurunan populasi badak Sumatera di alam antara lain adalah perburuan, kehilangan habitat, bencana alam, tidak mampu berkembang biak (intrinsik), perubahan iklim, serta  adanya spesies invasif (Hermes et al. 2014).

Suaka Rhino Sumatera (SRS) merupakan salah tempat penangkaran badak Sumatera di dunia yang dibangun sejak tahun 1996. Misi utama SRS adalah sebagai salah satu breeding centre badak sumatera dengan upaya pengembangbiakan yang intensif. Penangkaran ini terletak di dalam kawasan hutan Taman Nasional Way Kambas dengan luas sekitar 100 Ha. SRS memiliki habitat semi in situ dengan topografi, vegetasi, dan juga pakan alami yang dibuat sesuai dengan habitat badak Sumatera. Saat ini SRS memiliki 7 ekor badak dengan perbandingan 4 ekor jantan dan 3 ekor  betina. 

Kesehatan organ reproduksi badak jantan dan badak betina menjadi faktor penting dalam upaya pengembangbiakannya. Selain itu, waktu penggabungan badak yang tepat sesuai siklusnya akan menjadi faktor penting lainnya untuk mencapai keberhasilan program breeding ini. Rosa dan Andalas adalah salah satu pasangan badak Sumatera yang sudah mulai dikenalkan satu sama lain sejak tahun 2010. Rosa adalah badak Sumatera betina yang ditangkap dan dibawa ke SRS pada tahun 2005 dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan sedangkan Andalas adalah badak Sumatera jantan yang lahir di kebun binatang Cinncinati, Amerika Serikat dan mulai tinggal di SRS sejak 2007. 

Andalas adalah salah satu badak jantan di SRS yang sudah terbukti memiliki keturunan sedangkan Rosa adalah badak betina yang belum pernah memiliki keturunan. Saat ini Andalas berumur 16 tahun sedangkan Rosa diperkirakan telah berumur 17 tahun (estimasi). Program breeding memiliki kesulitan selain karena penebalan selaput hymen dari Rosa, juga kerena adanya fibroid pada saluran reproduksinya. 

Fibroid atau mioma uteri, merupakan neoplasia jinak pada bagian dinding uteri yang terbentuk dari jaringan otot polos uterus dan jaringan fibrosa (Miller et al, 2014). Fibroid ini muncul diduga karena tingginya paparan hormon estrogen selama usia reproduktif (Umamageswari et al. 2015). Fibroid telah dideteksi sejak tahun 2014 dan ukurannya semakin bertambah setiap tahun. Keberadaan jaringan ini diduga menjadi salah satu faktor sulitnya badak Rosa untuk bereproduksi. Tulisan ini dibuat bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh jaringan fibroid ini terhadap potensi kebuntingan badak Rosa selama masa reproduksi.


Full Text:

PDF