KIVSA-1 Framework Evaluasi Titer Antibodi Rabies

Ewaldus Wera, Petrus Malo Bulu

Abstract


Rabies atau lebih dikenal sebagai penyakit anjing gila masih menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia pada umumnya dan Pulau Flores khususnya. Menurut data kementerian kesehatan, di Flores, kasus rabies dilaporkan ada di 6 kabupaten dengan jumlah kasus gigitan anjing rabies sebanyak 2000 orang setiap tahun dan 10 orang diantara meninggal dunia. Langkah efektif mencegah rabies pada manusia adalah vaksinasi populasi anjing dengan cakupan 70% (WHO, 2013). Namun seringkali ditemukan dilapangan kasus rabies pada anjing yang sudah divaksinasi. Hal ini disebabkan oleh gagalnya sistem imun anjing membentuk kekebalan yang mampu melawan virus rabies (≥ 0.5 IU/ml) (WHO, 2012). Beberapa faktor potensial penentu dalam proses pembentukan kekebalan seperti ras, umur, jenis kelamin, status vaksinasi, waktu penggambilan darah setelah vaksinasi dan jenis vaksin yang digunakan (Mansfield, et. al., 2004). Kegagalan anjing membentuk kekebalan pasca vaksinasi akan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia sebab 98% kasus rabies pada manusia ditularkan oleh anjing (WHO, 2013).

Penelitian-penelitian terdahulu terkait respon kekebalan anjing pasca vaksinasi masih sangat terbatas pada daerah perkotaan negara-negara maju (Mansfield, et. al., 2004; Kennedy et al., 2007; Minke et al., 2008; Jakel et al, 2008) yang mana sistem pemeliharaan anjing sangat berbeda dengan situasi di daerah pedesaan negara berkembang seperti Indonesia. Sebagai contoh, di negara maju anjing umumnya mendapat tempat yang layak dalam rumah sebagai bagian dari keluarga. Sebaliknya di negara yang sedang berkembang terutama di daerah pedesaan anjing dibiarkan berkeliaran baik siang maupun malam hari. Sebagai kosekuensi status gizi anjing dan status kekebalan anjing terhadap penyakit rabies juga akan berbeda dengan sistem pemeliharaan yang berbeda. Vaksinasi pada anjing merupakan langkah utama pencegahan penularan rabies kepada manusia, namun kajian terkait respon kekebalan anjing yang divaksinasi belum pernah dilakukan di Pulau Flores.

Untuk mendukung pengembangan strategi pemberantasan rabies yang efektif dan efisien dibutuhkan data lapangan yang akurat antara lain data titer kekebalan pasca vaksinasi. Pengukuran titer kekebalan harus dilakukan secara berseri/berulang, misalnya hari ke-0, 30, 90, 180, dan 360 paska vaksinasi. Hal ini dilakukan untuk melihat trend pembentukan kekebalan tubuh anjing paska vaksiansi. Data yang terkumpul akan di jadikan input terkait waktu yang tepat dalam melakukan vaksinasi ulang (booster).


Full Text:

PDF