Kawasan Konservasi Laut (KKL) sudah dikenal luas sebagai alat pengelolaan perikanan un-tuk mencapai pemanfaatan perikanan berkelanjutan. Paper ini akan menjelaskan proses pe-ngembangan program ko-manajemen KKL di Kabupaten Berau, Indonesia. Kepulauan Berau ter-diri dari 31 pulau-pulau yang sangat kecil, luas area 14000 ha dan memiliki keragaman hayati yang tinggi termasuk bakau, terumbu karang, dan lamun. Area ini merupakan rumah yang sangat pen-ting bagi penyu hijau dan tempat berkumpulnya pari manta di Indonesia. Kajian cepat ekologi mengindikasikan bahwa terumbu karang di Kepulauan Berau membentuk sebagian dari ―Coral Triangle‖ dalam mega keragaman hayati dunia. Ditemukan 872 spesies dari 287 genus dan 77 ke-kerabatan ikan-ikan karang di area ini yang diamati atau dikumpulkan (Allen, 2003). Selain itu, di-temukan sekitar 460 hingga 470 spesies karang scleractinian hermatypic, 8 spesies lamun, 8 spesies cetacean, dan 26 tempat potensial bagi ikan memijah (Wiryawan et al., 2004).
Akhir-akhir ini banyak kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan pesisir telah di-implementasikan oleh beragam lembaga, baik pemerintah maupun LSM untuk melindungi dan me-ngelola sumberdaya laut dan pantai di kawasan ini. Akan tetapi, belum ada tindakan pengelolaan yang resmi sebagai tuntunan untuk integrasi program, mengelola sumberdaya pantai, dan untuk memecahkan permasalahan degradasi lingkungan. Kemitraan antar pemangku kepentingan diper-lukan untuk mencapai upaya maksimal menuju ko-manajemen KKL yang diimplementasikan dengan baik di kawasan ini pada tahun 2009.

Budy Wiryawan

Abstract


Kawasan Konservasi Laut (KKL) sudah dikenal luas sebagai alat pengelolaan perikanan un-tuk mencapai pemanfaatan perikanan berkelanjutan. Paper ini akan menjelaskan proses pe-ngembangan program ko-manajemen KKL di Kabupaten Berau, Indonesia. Kepulauan Berau ter-diri dari 31 pulau-pulau yang sangat kecil, luas area 14000 ha dan memiliki keragaman hayati yang tinggi termasuk bakau, terumbu karang, dan lamun. Area ini merupakan rumah yang sangat pen-ting bagi penyu hijau dan tempat berkumpulnya pari manta di Indonesia. Kajian cepat ekologi mengindikasikan bahwa terumbu karang di Kepulauan Berau membentuk sebagian dari ―Coral Triangle‖ dalam mega keragaman hayati dunia. Ditemukan 872 spesies dari 287 genus dan 77 ke-kerabatan ikan-ikan karang di area ini yang diamati atau dikumpulkan (Allen, 2003). Selain itu, di-temukan sekitar 460 hingga 470 spesies karang scleractinian hermatypic, 8 spesies lamun, 8 spesies cetacean, dan 26 tempat potensial bagi ikan memijah (Wiryawan et al., 2004).
Akhir-akhir ini banyak kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan pesisir telah di-implementasikan oleh beragam lembaga, baik pemerintah maupun LSM untuk melindungi dan me-ngelola sumberdaya laut dan pantai di kawasan ini. Akan tetapi, belum ada tindakan pengelolaan yang resmi sebagai tuntunan untuk integrasi program, mengelola sumberdaya pantai, dan untuk memecahkan permasalahan degradasi lingkungan. Kemitraan antar pemangku kepentingan diper-lukan untuk mencapai upaya maksimal menuju ko-manajemen KKL yang diimplementasikan dengan baik di kawasan ini pada tahun 2009.


Full Text:

PDF